INVESTASI

Investasi naik, sektor infrastruktur masih jadi prioritas

Proyek pembangunan jalur kereta api ringan (LRT) Jabodebek koridor Cawang-Kuningan-Dukuh Atas di Jalan Rasuna Said, Jakarta, Selasa (13/11/2018).  Infrastruktur transportasi masih menjadi sektor yang paling banyak digelontori investasi tahun ini.
Proyek pembangunan jalur kereta api ringan (LRT) Jabodebek koridor Cawang-Kuningan-Dukuh Atas di Jalan Rasuna Said, Jakarta, Selasa (13/11/2018). Infrastruktur transportasi masih menjadi sektor yang paling banyak digelontori investasi tahun ini. | Hafidz Mubarak A /Antara Foto

Realisasi investasi sepanjang semester I 2019 tembus Rp395,6 triliun. Angka ini naik dibanding realisasi periode yang sama tahun lalu. Infrastruktur masih menjadi prioritas pemerintah dalam alokasi investasi ini.

Menurut Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), baik dari sisi Penanaman Modal Asing (PMA) maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sama-sama melebihi pencapaian periode yang sama tahun lalu.

PMA naik 4 persen menjadi Rp212,8 triliun. Sedangkan PMDN mencapai Rp182,8 alias lebih tinggi 16,4 persen dari periode sama tahun lalu.

Menurut Kepala BKPM Thomas Trikasih Lembong, kinerja investasi sepanjang tahun ini berjalan mulus karena sentimen eksternal dan internal yang mendukung.

Dari eksternal, redamnya perang dagang Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok menjadi pemicu masuknya investasi asing ke Indonesia. Terlebih, outlook pertumbuhan ekonomi Indonesia masih dianggap menggiurkan oleh investor.

Sedangkan dari internal, pengumuman hasil pemilihan presiden membuat ketidakpastian politik berkurang. “Stabilitas politik dan ekonomi Indonesia saat ini bisa dibilang terjamin,” kata Thomas dalam konferensi pers di kantor BKPM, Jakarta, Selasa (30/7/2019) seperti dikutip dari Kontan.co.id.

Menurut Thomas, aliran investasi itu deras usai pergelaran pesta demokrasi April lalu.

Plt Deputi bidang Pengendalian dan Pelaksanaan Penanaman Modal BKPM Farah Ratnadewi Indriani menjelaskan, sektor yang paling banyak menerima investasi masih infrastruktur. "Seperti transportasi, telekomunikasi, pembangkit listrik, dan konstruksi," kata dia seperti dipetik dari CNN Indonesia, Selasa (30/7/2019).

Kepada Beritagar.id pekan lalu, Farah mengatakan setiap pertumbuhan investasi sangat dipengaruhi oleh arah kebijakan pemerintah dan ketika pemerintah menaruh prioritas pembangunan, sektor tersebut menjadi salah satu yang turut tumbuh.

Menurut Farah, sepanjang infrastruktur masih menjadi prioritas pemerintah, investasi di sektor-sektor tersier yang terkait dengan infrastruktur tersebut akan terus mengalami peningkatan.

“Sektor infrastruktur ini sebenarnya adalah sektor penunjang bagi pertumbuhan sektor-sektor prioritas, khususnya yang dapat diperdagangkan khususnya manufaktur dan pertanian,” kata Farah, Rabu (24/7/2019).

Farah menjelaskan, mayoritas investasi semester I tahun ini masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, yakni Rp218,1 triliun atau naik 5,8 persen dari posisi sebelumnya Rp206,2 triliun. Sisanya, investasi di luar Pulau Jawa meningkat 14,2 persen menjadi Rp177,5 triliun dari sebelumnya Rp155,4 triliun.

Porsi investasi asing juga bisa dibilang hampir sama dengan periode sebelumnya. Singapura masih menjadi negara penyumbang investasi terbesar dengan nilai AS$3,4 miliar. Diikuti oleh Jepang AS$2,4 miliar, Tiongkok Rp2,3 miliar, Hong Kong AS$1,3 miliar, dan Malaysia AS$1 miliar.

Menurut catatan BKPM dalam satu dekade terakhir, ada lima negara yang paling gencar berinvestasi di Indonesia. Yakni; Singapura, Jepang, Belanda, Korea Selatan dan AS. Investor asing gemar dengan sektor pertambangan. Sebaliknya, investor lokal lebih melirik untung di balik bisnis produk konsumsi. Seperti properti, manufaktur, perhotelan, konstruksi, dan sebagainya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR