INVESTASI ASING

Investasi startup melonjak hingga separuh investasi migas

Tiga pengemudi Go-Jek tengah beristirahat di trotoar, di Jakarta Rabu (13/12/2017). Go-Jek adalah startup penerima investasi terbesar tahun lalu.
Tiga pengemudi Go-Jek tengah beristirahat di trotoar, di Jakarta Rabu (13/12/2017). Go-Jek adalah startup penerima investasi terbesar tahun lalu. | Mast Irham /EPA

Jumlah investasi asing ke Indonesia kepada sejumlah perusahaan rintisan (startup) di sektor digital sudah mencapai lebih dari separuh investasi bidang minyak dan gas.

Menurut Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong, sepanjang tahun 2017, investasi startup sudah mencapai US $4,8 miliar atau sekitar Rp64,3 triliun.

"Jadi skalanya sudah besar. Pertumbuhannya 30-50 persen per tahun," ujarnya Selasa (30/1/2018) seperti dikutip dari Kompas.com. Sedangkan investasi migas mencapai US $9 miliar.

Namun BKPM masih keteteran mendata investasi sektor digital startup. Akhir-akhir ini sejumlah perusahaan rintisan mengumumkan memperoleh suntikan modal dari sejumlah perusahaan dunia. Tapi, investasi tersebut belum terdata di dalam realisasi investasi yang disusun BKPM.

"Pengumuman investasi triliunan, puluhan triliun rupiah, ratusan juta, miliaran dollar AS, tapi data ini belum tercermin di dalam data BKPM," kata Thomas.

Kesulitan itu juga ditemui dalam penggolongan investasi, karena sektor garapan startup sangat beragam dan campur aduk. "Apa Go-Jek itu portal atau transportasi. Jadi ini juga suatu pendataan yang hemat dan perlu dibenahi dalam 1-3 tahun," ujarnya seperti dinukil dari Metrotvnews.com.

Thomas menjelaskan, fenomena perkembangan e-commerce dan startup baru muncul dua tahun terakhir. Sebelum tahun 2015, skala investasinya masih kecil, namun kemudian tiba-tiba angkanya melonjak menjadi miliaran dollar AS.

BKPM mencatat, total realisasi investasi sepanjang tahun 2017 mencapai Rp692,8 triliun. Alias naik 11,5 persen dibandingkan realisasi investasi tahun sebelumnya sebesar Rp612,8 triliun.

Negara yang paling banyak menanam uang di Indonesia adalah Singapura. Sepanjang 12 bulan lalu, realisasi investasi dari Singapura ke Indonesia tercatat US $8,4 miliar atau 26,2 persen.

"Singapura dan Hong Kong itu ibaratnya agregator ya mereka sebuah financial hall yang mengumpulkan dana investasi dari negara atau lembaga lain kemudian disalurkan ke Indonesia," kata Lembong, seperti dipetik dari financedetik.

Thomas menyatakan, kini pihaknya sedang mencari informasi negara mana saja yang menyimpan dana di Singapura dan Hong Kong.

Dia menyebutkan, di Singapura banyak uang warga Indonesia yang parkir dan kemudian kembali ke Indonesia dalam bentuk penanaman modal asing. "Kami akan telusuri siapa saja yang ada di belakang mereka," ujarnya.

Menurut catatan BKPM, lima besar sektor yang mendapat realisasi investasi sepanjang 2017 adalah Listrik, Gas, dan Air (Rp24,3 triliun), lalu Transportasi, Gudang, dan Telekomunikasi (Rp22,6 triliun).

Sektor ketiga adalah industri Makanan (Rp17,4 triliun), Pertambangan (Rp16,4 triliun), dan Tanaman Pangan dan Perkebunan (Rp14,5 triliun).

Investasi di startup tak termasuk besar karena investasinya tak langsung mengucur semuanya. Tapi berangsur dalam beberapa tahun. Sehingga, tak masuk golongan dalam 10 besar sektor yang mendapat investasi.

Menurut catatan Nextren, 3 startup yang mendapat investasi terbesar tahun lalu adalah Go-Jek. Perusahaan besutan Nadiem Makarim ini membukukan suntikan dana sebesar US $1,2 miliar atau setara Rp17 triliun. Suntikan dana itu dari Tencent, Tiongkok dan para investor yang sudah lebih dulu menyokong Go-Jek.

Situs e-commerce Tokopedia juga meraup dana dari konsorsium investor Alibaba sebanyak US $1,1 miliar, sekitar Rp15,7 triliun. Sedangkan layanan travel online Traveloka, mendapat dukungan dana senilai US$500 juta atau sekitar Rp6,6 triliun dari Expedia.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR