TERORISME

ISIS kalah tapi sebarannya masih dikhawatirkan

Wilayah Damaskus, Suriah (21/5/2018).
Wilayah Damaskus, Suriah (21/5/2018). | Youssef Badawi /EPA-EFE

Seiring dengan dinyatakannya kekalahan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) oleh Pasukan Demokratik Suriah (SDF) tak serta merta menyelesaikan masalah yang ada.

Aliansi SDF yang dipimpin Kurdi ini memulai serangan terakhirnya terhadap ISIS pada awal Maret 2019, untuk menggempur sisa milisi yang bersembunyi di desa Baghuz di Suriah timur.

Akibat serangan itu, kini banyak negara yang harus bergerak untuk menyelamatkan warga negaranya yang yang sempat digunakan sebagai tameng oleh ISIS selama ini. Salah satu yang tengah mempertimbangkannya adalah Indonesia.

Namun, melakukannya tak semudah membalik telapak tangan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia Arrmanatha Nasir mengatakan bahwa perlu adanya verifikasi data terhadap sejumlah WNI yang kini ada di kamp pengungsi di Al Hol, Suriah Timur, dan ingin kembali ke Tanah Air.

Sebabnya, ketika bergabung dengan ISIS, mereka diduga tak lagi memiliki paspor dan identitas lainnya.

Pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri bersama dengan pihak Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), kepolisian, dan Badan Intelijen Negara (BIN) pun menjanjikan akan melakukan proses verifikasi dalam beberapa tahap. Diakui pemerintah, proses ini akan memakan waktu panjang dan proses yang tak singkat.

Tak berhenti sampai di situ, berikutnya adalah soal penerimaan masyarakat terhadap para eks pengikut ISIS. Publik memiliki kekhawatiran bahwa para eks pendukung ISIS yang dipulangkan akan terus membawa paham radikalnya dan ideologinya ke dalam lingkungan masyarakat.

Hasil survei PEW Research Center pada 2017 menunjukkan 74 persen warga Indonesia yang menjadi responden menganggap ISIS adalah ancaman utama. Angka itu meningkat menjadi 81 persen pada 2018.

Nilai ini membuat Indonesia masuk ke dalam lima besar negara yang menganggap bahwa ISIS adalah ancaman bagi pertahanan dan keamanan bangsa. Keempat negara lainnya yakni, Prancis, Nigeria, Filipina, dan Rusia.

Padahal, serangan teror yang terjadi di lima negara ini belum tentu dilakukan langsung oleh anggota ISIS. Banyak yang lebih karena terinspirasi.

Berdasarkan data dari National Consortium for the Study of Terrorism and Responses to Terrorism, University of Maryland, yang telah diolah oleh tim Lokadata Beritagar.id, jumlah serangan teror paling banyak di Filipina yakni 133 serangan.

Namun, tingginya serangan ini dikarenakan adanya gerakan insurgensi yang dilakukan untuk perjuangan politik oleh sekelompok masyarakat dalam suatu wilayah negara terhadap pemerintah yang berdaulat.

Di Indonesia sendiri, ada empat jumlah serangan teroris yang terjadi pada 2017. Berbagai serangan yang terjadi di negara-negara lain pun tidak berhubungan dengan jumlah populasi muslim. Sehingga, terror dapat terjadi di negara yang jumlah populasi muslimnya sedikit.

Kendati demikian, untuk menghindari dan atau menghentikan penyebaran ideologi yang terlanjur dianut, para eks-jihadis disarankan untuk dideredikalisasi.

Alto Luger, seorang analis konflik dan terorisme Timur Tengah dan Psikolog sekaligus Direktur Kasandra Associates Kasandra Putranto mengatakan bahwa pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sebaiknya kembali aktif menderadikalisasi dengan melibatkan ahli agama serta ahli psikologi supaya penanganan benar-benar efektif dan tidak menjadikan mereka sebagai teroris kambuhan kembali ke Indonesia.

Namun, penanganannya harus benar-benar saksama, sebab dalam kasus ini korbannya bukan hanya melibatkan orang dewasa tapi juga anak-anak.

Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) tahun 2017, setidaknya ada 1.321 warga Indonesia yang telah bergabung dengan ISIS atau mencoba masuk ke sana. Angka ini termasuk sekitar 600 warga negara Indonesia (WNI) yang pergi ke Suriah dan Irak.

Dari jumlah tadi, 84 telah terbunuh, 482 orang dideportasi saat berusaha masuk ke Suriah, dan 62 orang telah kembali dari Suriah. Sekitar 63 lainnya dihentikan di bandara Indonesia saat mencoba terbang ke Timur Tengah.

Pada bulan November 2018, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan bahwa sekitar 700 warga negara Indonesia telah bergabung dengan ISIS di Suriah dan Irak.

Sementara, berdasarkan data intelijen, ISIS memiliki sebanyak 31.500 pejuang asing, termasuk dari Indonesia. Saat inipun, ada puluhan WNI yang berada di kamp pengungsi di Al-Hol, Suriah timur.

Mereka sebelumnya berada di Baghuz, kantong terakhir kelompok ISIS, yang direbut oleh Pasukan Demokratis Suriah, SDF pimpinan suku Kurdi.

Menurut salah seorang pejabat Kurdi seperti dikutip kantor berita AFP, lebih dari 9.000 keluarga pendukung ISIS yang berasal dari luar negeri ditampung di kamp Al-Hol.

Kamp ini dibangun untuk sekitar 20 ribu orang, namun saat ini menampung lebih dari 70 ribu orang.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR