KECELAKAAN PENERBANGAN

Izin terbang Max 8 tunggu hasil inspeksi Ethiopia

Petugas Inspektur Kelaikudaraan DKPPU Kementerian Perhubungan dan tekhnisi GMF melakukan pemeriksaan seluruh mesin dan kalibrasi dengan menggunakan alat simulasi kecepatan dan ketinggian pesawat pada pesawat Boing 737-Max 6 milik Garuda Indonesia di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (12/3/2019).
Petugas Inspektur Kelaikudaraan DKPPU Kementerian Perhubungan dan tekhnisi GMF melakukan pemeriksaan seluruh mesin dan kalibrasi dengan menggunakan alat simulasi kecepatan dan ketinggian pesawat pada pesawat Boing 737-Max 6 milik Garuda Indonesia di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (12/3/2019). | Muhammad Iqbal /AntaraFoto

Kementerian Perhubungan memperkirakan masa larang terbang untuk pesawat Boeing 737 Max 8 yang dioperasikan dua maskapai, Garuda Indonesia dan Lion Air, berlangsung hingga tiga minggu.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyatakan perkiraan masa larang terbang sementara (grounded) itu disesuaikan dengan masa inspeksi yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud) di Ethiopia.

“Besok baru berangkat (Kamis, 14/3/2019). Kita akan inspeksi sesuai dengan apa yang terjadi, dengan dasar itu kita bisa melakukan klarifikasi. Dari klarifikasi bisa berkembang ke hal lain,” kata Budi Karya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (13/3/2019).

Kementerian Perhubungan bersama dengan Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) sepakat mengirimkan tim ke Addis Ababa, Ethiopia, untuk mendukung investigasi kecelakaan pesawat Ethiopian Airlines ET302 yang jatuh tak lama setelah lepas landas, Minggu (10/3/2019).

Keberangkatan tim tersebut demi mencocokkan apakah penyebab jatuhnya pesawat sama dengan tragedi nahas yang menimpa Lion Air JT610 tujuan Cengkareng-Pangkalpinang yang jatuh di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, Oktober 2018.

Hal tersebut lantaran Ethiopian Airlines ET302 dan Lion Air JT610 menggunakan tipe pesawat yang sama, yakni Boeing 737 Max 8.

“Kita memang mesti hati-hati, satu sisi kita pastikan pesawat itu tidak terbang supaya ada rasa aman bagi masyarakat. Tugas kedua kita menginspeksi, apakah memang ada masalah atau tidak. Kalau ada masalah, ya kita buat plan, tapi sebaliknya, tentu kita akan persilakan untuk terbang,” jelas Budi.

Budi memastikan, pihaknya juga tak ingin berlama-lama memberlakukan larangan terbang bagi Boeing 737 Max 8.

Namun demi keselamatan penumpang, Budi menginginkan rekomendasi terbang itu sudah dikaji dengan matang meliputi masukan dari berbagai pihak, termasuk badan otoritas penerbangan dunia seperti dari Uni Eropa serta Federal Aviation Agency (FAA).

Di sisi lain, Budi meyakini tragedi kecelakaan pesawat yang menimpa Lion Air di Tanjung Karawang berbeda dengan insiden Ethiopian Airlines.

“Kalau Lion itu sudah terbang lebih dari 16 menit dengan ketinggian 3.000 kaki. Kalau ini (Ethiopian) 6 menit, ketinggiannya juga gak lebih dari 1.000 meter. Jadi baru tinggal landas sebenarnya langsung masalah,” ucapnya.

Kendati demikian, jika pada akhirnya hasil inspeksi menunjukkan bahwa Max 8 benar bermasalah, maka pihaknya memastikan akan mengikuti semua arahan dan rekomendasi, baik dari FAA maupun Boeing.

Termasuk jika Lion Air dan Garuda Indonesia harus membatalkan pemesanan pesawat Max 8 mereka. “Saya pikir, dua lembaga ini lebih kompeten untuk memberikan suatu pendapat. Nanti akan saya kawinkan (inputnya),” tukas Budi.

Saat ini di Indonesia terdapat 11 pesawat Boeing 737 Max 8 yang beroperasi. 10 di antaranya milik maskapai Lion Air dan 1 lainnya milik Garuda Indonesia yang melakoni rute Cengkareng - Hong Kong.

Pasca-larangan terbang dari Kementerian Perhubungan, kesebelas pesawat Boeing 737 Max 8 kini sudah terparkir di bandara dalam negeri.

Milik Garuda berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng. Begitu juga dengan tujuh Max 8 milik Lion Air yang berada di Cengkareng; dua unit di Denpasar, dan satu unit di Makassar.

Pemeriksaan internal

Selain mengikuti inspeksi di Ethiopia, Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara bersama Garuda dan Lion juga melakukan pemeriksaan pesawat Max 8 di Indonesia.

Adapun rangkaian inspeksi tersebut dimulai pada Rabu (13/3/2019). Pemeriksaan dilakukan pada indikator-indikator kelengkapan terbang pada pesawat Boeing 737 Max 8 yang ada di Indonesia.

Salah satunya adalah mengecek cara kerja sensor yang menghitung sudut kemiringan pesawat saat lepas landas atau angle of attack (AOA). Selain itu, turut dalam pemeriksaan adalah sensor pengukur kecepatan angin.

“Pemeriksaan yang dilakukan juga pada angle of take, speed, dan altitude. Semua diperiksa. Apabila ada kendala dapat langsung kita tangani sekarang,” sebut Airworthiness Management Garuda Indonesia Purnomo.

Terkait dengan pemesanan Boeing 737 Max 8, Direktur Garuda Indonesia Ari Askhara mengakui bahwa pihaknya telah mengajukan penukaran tipe pesawat ini kepada perusahaan penerbangan asal Amerika Serikat itu.

Namun demikian, Ari menegaskan bahwa permintaan itu sudah dilakukan sebelum terjadinya kecelakaan Lion Air JT610. Sayang, Ari enggan memerinci alasan di balik penukaran serta berapa jenis yang ditukar dan tipe apa yang diincar maskapai.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR