Jadi otak pembunuhan, Dimas Kanjeng divonis 18 tahun

Terdakwa kasus pembunuhan berencana Dimas Kanjeng Taat Pribadi berada di dalam sel Pengadilan Negeri (PN) Kraksaan Probolinggo, Jawa Timur, Selasa (1/8/2017).
Terdakwa kasus pembunuhan berencana Dimas Kanjeng Taat Pribadi berada di dalam sel Pengadilan Negeri (PN) Kraksaan Probolinggo, Jawa Timur, Selasa (1/8/2017). | Umarul Faruq /ANTARAFOTO

Dimas Kanjeng Taat Pribadi divonis 18 tahun penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Selasa (1/8/2017).

Sang guru spiritual yang konon bisa menggandakan uang itu secara sah dan meyakinkan terbukti menganjurkan pembunuhan berencana terhadap dua mantan muridnya, Abdul Ghani dan Ismail Hidayah.

Dilansir ANTARA, Jaksa Penuntut Umum (JPU) berencana menempuh banding. Sebab, vonis dinilai jauh lebih ringan dari tuntutan penjara seumur hidup yang diberikan JPU.

Hal sama juga akan dilakukan oleh kubu Dimas Kanjeng. Kuasa hukumnya, M. Soleh, menilai hukuman yang dijatuhkan pada kliennya terlalu berat.

Soleh berkeyakinan pada keterangan empat orang saksi yang sebelumnya menyebut tidak ada yang mencantumkan keterlibatan kliennya dalam pembunuhan tersebut.

Pembunuhan Abdul Ghani dilakukan oleh sembilan "santri" Dimas Kanjeng pada 13 April 2016, dan Ismail Hidayah yang dibunuh setahun sebelumnya, yakni pada 2 Februari 2015.

Keduanya dibunuh lantaran kerap menagih pengembalian uang yang telah disetorkan mereka kepada Dimas Kanjeng. Karena uang tak kunjung kembali, keduanya bahkan sering mengancam akan membongkar praktik penipuan yang dijalankan Dimas Kanjeng.

Pembunuhan keduanya terbilang sangat sadis. Ada sembilan pelaku yang seluruhnya sudah ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan, yakni Wahyu Wijaya (50), warga Surabaya; Wahyudi (60), warga Salatiga; Ahmad Suryono (54), warga Jombang; dan Kurniadi (50), warga Lombok. Juga ada Boiran, Rahmad Dewaji, Muryad, Erik Yuliga, dan Anis Purwanto.

Pembunuhan terhadap Ismail dilakukan di Jalan Raya Pantura, Paiton, Jawa Timur. Saat itu, tersangka Wahyu Wijaya melakban leher Ismail Hidayah. Setelah dilakban, korban kemudian didorong ke dalam mobil. Di dalam mobil, kaki dan tangan korban diikat, lalu lehernya kembali diikat dengan dua kali lilitan.

Boiran memukul kepala korban menggunakan besi yang mengenai tengkuk. Kepala korban kemudian dibungkus dengan plastik hitam, setelahnya kepala korban kembali dipukul dengan besi. Setelah korban tewas, Badrun baru mengubur jenazah.

Sementara pembunuhan Abdul Ghani terjadi di Asrama Putra, Padepokan Dimas Kanjeng di Probolinggo, Jawa Timur. Para tersangka awalnya mengundang korban untuk berkunjung ke Padepokan dengan iming-iming akan memberikan uang sebesar Rp130 juta.

Begitu sampai, korban diajak masuk ke dalam sebuah ruangan. Di dalam ruangan itulah Abdul dihabisi. Kepalanya ditutup tas plastik, dan mendapat pukulan benda tumpul seperti pipa besi dan batu.

Setelah tewas, jenazah Abdul dibuang di sekitar Waduk Gajah Mungkur. Satu hari kemudian, warga menemukan jasad Abdul dan melapor ke polisi.

Dari pengakuan Wahyudi, perintah pembunuhan atas dua korban tadi langsung datang dari Dimas Kanjeng. Para tersangka bahkan mengaku diberikan imbalan masing-masing Rp30 juta sampai Rp40 juta untuk melakukan perbuatan keji itu.

Pengadilan Negeri Probolinggo, Jawa Timur, telah menjatuhkan vonis 20 tahun penjara untuk Wahyudi, Wahyu Wijaya, dan Kurniadi serta 10 tahun untuk Ahmad Suryono pada 16 Maret 2017.

Selain terlibat kasus pembunuhan, Dimas Kanjeng juga dilaporkan atas tuduhan penipuan. Nilai penipuan yang dilaporkan mencapai Rp2,3 miliar. Namun, dari pengakuan korban-korban lain yang tidak dilaporkan ke kepolisian, total kerugiannya disebut bisa mencapai ratusan miliar.

Pada salah satu kesempatan, Dimas Kanjeng pernah mengaku akan mengembalikan uang tersebut, selama "diminta" langsung oleh para korbannya.

Persidangan untuk kasus penipuan tersebut masih berlanjut.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR