CUACA EKSTREM

Jakarta dan Banten masuk puncak musim kemarau

Warga beraktivitas di Sungai Cisadane yang surut akibat kemarau di Tangerang, Banten, Sabtu (27/7/2019).
Warga beraktivitas di Sungai Cisadane yang surut akibat kemarau di Tangerang, Banten, Sabtu (27/7/2019). | Fauzan /Antara Foto

Sudah sekitar dua bulan, sebagian besar daerah di Jakarta dan Banten tidak disirami hujan. Itu sebabnya Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan Jakarta dan Banten sudah memasuki puncak musim kemarau.

Menurut data BMKG hingga Selasa (20/8/2019), hari tanpa hujan (HTH) terjadi lebih dari 20 hari hingga lebih dari 60 hari. Prakiraan peluang curah hujan pada dasarian III Agustus dan dasarian I September menunjukkan sejumlah daerah akan mengalami curah hujan sangat rendah (kurang dari 20 milimeter/dasarian) dengan peluang hingga lebih dari 90 persen.

Menurut penjelasan BMKG, dalam satu bulan terdapat tiga dasarian (jangka waktu 10 hari). Masing-masing adalah dasarian I (tanggal 1 - 10), dasarian II (tanggal 11 - 20), dan dasarian III (tanggal 21 - akhir bulan).

"Diperlukan kewaspadaan terhadap ancaman bencana kekeringan. Melihat kedua kondisi di atas, memenuhi syarat untuk dikeluarkan peringatan dini," demikian siaran pers BMKG.

Soal dampaknya, BMKG menunjuk sektor pertanian yang menggunakan sistem tadah hujan di Jakarta dan Banten. Kemudian ketersediaan air tanah juga bisa menyebabkan kelangkaan air bersih untuk masyarakat di dua provinsi ini.

"Dampak lainnya adalah peningkatan polusi udara," sambung BMKG.

BMKG membagi Jakarta dan Banten ke dalam tiga kategori HTH dan prakiraan hujan sangat rendah. Pertama adalah Status "Waspada" yang seluruhnya di Banten:

  1. Lebak (Cileles, Panggarangan, Rangkasbitung).
  2. Pandeglang (Mandalawangi, Menes).
  3. Tangerang (Cisoka).

Berikutnya adalah status "Siaga" di:

  1. Jakarta Pusat (Gambir)
  2. Jakarta Selatan (Jagakarsa, Cilandak, Kebayoran Baru, Pasar Minggu.
  3. Jakarta Barat (Kedoya Selatan, Grogol, Petamburan).
  4. Depok (Pesanggrahan dan Depok).
  5. Tangerang (Sukamulya, Legok, Serpong, Sukamulya, Kresek).
  6. Tangerang Selatan (Serpong dan Pondok Aren).
  7. Serang (Carenang, Cinangka, Kibin, Kramatwatu, Ciomas, Pamarayan, Cilodong, Tirtayasa).
  8. 8. Pandeglang (Cipeucang, Banjarsari, Jiput, Labuhan, Munjul, Pagelaran, Pulosari, Sobang).
  9. 9. Lebak (Banjarsari, Cibeber, Cihara, Cikulur, Gunung Kencana, Cijaku, Rangkasbitung, Maja, Malingping, Warung Gunung).

Berikutnya status "Awas" atau merah di:

  1. Jakarta Pusat (Menteng, Gambir, Kemayoran, Tanah Abang).
  2. Jakarta Selatan (Tebet, Pasar Minggu, Setiabudi).
  3. Jakarta Timur (Halim, Pulogadung, Cipayung).
  4. Jakarta Utara (Cilincing, Tanjung Priok, Koja, Kelapa Gading, Penjaringan).
  5. Lebak (Bayah, Cilograng, Cimarga, Malingping).
  6. Pandeglang (Cikeusik, Cibaliung, Cimanggu).
  7. Serang (Ciruas, Walantaka).
  8. Tangerang (Teluk Naga, Sepatan, Mauk, Cengkareng, Ciputat, Kresek, Cipondoh, Kronjo, Kemiri, Pasar Kemis, Tangerang).

Krisis air bersih

Bagi Jakarta dan Banten, status musim kemarau relatif baru karena sejumlah daerah lain di Indonesia sudah lebih dulu mengalaminya. Di Jawa Timur (Jatim), misalnya, 450 desa di sana harus mendapat pasokan air bersih.

Hingga Kamis (22/8), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim sudah memasok 55 juta liter air bersih ke 450 desa yang mengalami kekeringan. Untuk wilayah Jatim yang sudah 60 hari tidak hujan, musim kemarau diprediksi akan berakhir pada November 2019.

Sementara di Yogyakarta, sebagian wilayah tak pernah disiram hujan selama 130 hari. Akibatnya ratusan ribu warga terancam kekurangan air bersih.

"Puncak musim kemarau di bulan Agustus. Di wilayah Bantul ada yang 130 hari tanpa ada hujan yaitu di wilayah Dlingo,” kata Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Daerah Istimewa Yogyakarta, Reni Kraningtyas, Rabu (21/8/2019), dalam Tempo.co.

Sedangkan di Tasikmalaya, Jawa Barat, BPBD setempat terpaksa memperpanjang masa siaga darurat kekeringan hingga 10 hari sejak 31 Oktober 2019. Keputusan memperpanjang masa siaga darurat didasari informasi BMKG soal mundurnya awal musim hujan.

"Sejatinya kita 31 Oktober siaga darurat kekeringan selesai. Tapi dengan info BMKG kita akan perpanjang 10 hari ke depan," kata Kepala Pelaksana BPBD Kota Tasikmalaya Ucu Anwar, dilansir Republika, Kamis (22/8).

Di kota Tasikmalaya, menurut data BPBD, ada 109 titik di 16 kelurahan dan sembilan kecamatan yang mengalami kekeringan. Sejak Juli, BPBD juga sudah mendistribusikan sekitar sejuta liter air bersih kepada sekitar 22.468 jiwa dari 6.926 kepala keluarga (KK).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR