MITIGASI BENCANA

Jakarta Utara paling rawan kebakaran

Petugas memadamkan api saat terjadi kebakaran di Kampung Bandan, Jakarta, Kamis (5/7/2018)
Petugas memadamkan api saat terjadi kebakaran di Kampung Bandan, Jakarta, Kamis (5/7/2018) | Rivan Awal Lingga /Antara Foto

Empat kecamatan di Jakarta Utara termasuk wilayah dengan intensitas kebakaran dan kepadatan penduduk yang tinggi. Padatnya penduduk di permukiman bisa mengakibatkan potensi kejadian, korban, dan kerusakan sarana semakin banyak.

Tim Lokadata Beritagar.id mengolah data kebakaran Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Provinsi DKI Jakarta sejak Januari 2017 hingga 10 Juli 2018 pukul 07.30 WIB.

Sebanyak 2.267 kebakaran terjadi di DKI Jakarta dengan total kerugian mencapai Rp583,8 triliun. Dari seluruh kebakaran, 53 peristiwa terjadi di Pademangan, 83 peristiwa di Tanjung Priok, 95 peristiwa di Cilincing, dan 100 peristiwa di Penjaringan. Keempatnya berada di wilayah Jakarta Utara.

Kebakaran paling fatal dengan kerusakan sarana paling banyak (1.890 sarana) terjadi pada 16 September 2017. Si jago merah melahap ratusan rumah semi permanen di belakang klub malam Alexis, Pademangan. Data DPKP menunjukkan kerugian akibat peristiwa tersebut ditaksir mencapai Rp700 juta.

Pekan lalu, kobaran api akibat korsleting listrik juga melahap gudang kimia di Kampung Bandan, Pademangan, Jakarta Utara. Butuh kurang lebih 4-5 jam untuk memadamkan api setelah mengerahkan 31 unit mobil pemadam yang terdiri 19 unit Jakarta Utara dan 12 unit dari Jakarta Barat.

Kecamatan lain yang juga punya catatan buruk untuk kebakaran di wilayah Jakarta Barat yakni Cengkareng (101 kejadian) dan Tambora (70 kejadian), wilayah Jakarta Timur ada Cakung (101 kejadian) dan Duren Sawit (83 kejadian), sementara di Jakarta Selatan ada Pasar Minggu (80 kejadian).

Yang membedakan empat kecamatan di Jakarta Utara dengan kecamatan lainnya yakni perbandingan antara jumlah penduduk dan luas wilayah. Tanjung Priok merupakan wilayah terpadat kedua di Ibu Kota RI yang rata-rata dihuni 150,7 ribu orang per kilometer persegi.

Selanjutnya, Cilincing dan Penjaringan dengan kepadatan penduduk masing-masing 126,4 ribu orang dan 66 ribu orang per kilometer persegi. Sementara di Pademangan, perbandingan jumlah penduduk di tiap kilometer persegi yakni 49,1 ribu.

Di empat wilayah tersebut, banyak permukiman warga semi permanen berbahan material mudah terbakar seperti kayu.

“Jakarta Utara memang padat hunian. Banyak tanah bermasalah jadi warga (yang menempati) membangun rumah seadanya,” ujar Kepala Suku DPKP Jakarta Utara, Satriadi Gunawan, ketika dihubungi Beritagar.id pada Selasa (10/7/2018).

Terlebih, jalur menuju permukiman yang sempit dan sulit diakses oleh tim pemadam kebakaran menjadi penghambat pemadaman api.

Korsleting listrik

Korsleting listrik menjadi penyebab kebakaran paling dominan (63,02 persen) dibandingkan penyebab lainnya seperti kebocoran gas (11,58 persen), lainnya (13,36 persen), membakar sampah (8,22 persen), rokok (2,3 persen), dan lilin (0,27 persen). Pola ini cenderung serupa pada 2017 dan 2018.

Adanya beban aliran listrik yang berlebihan di permukiman tanpa diikuti standardisasi alat dan instalasi listrik yang benar menjadi penyebab utama. Untuk kasus di permukiman kelas menengah ke bawah di kawasan Jakarta Utara, banyak ditemukan kabel yang tidak sesuai standard.

“Banyak yang memasang listrik nyolong (mencuri). Kabel juga beli yang murah dan tidak menggunakan SNI (Standar Nasional Indonesia),” katanya.

Seharusnya, menurut Satriadi, arus yang dialirkan PLN harus seimbang dengan peralatan listrik yang dialirkan ke rumah.

Melihat pola yang terjadi pada Agustus hingga Oktober 2017, kebakaran di seluruh Jakarta banyak terjadi saat sore hingga malam. Pada malam hari dari pukul 18.00 WIB hingga 04.00 WIB, persentase kebakaran akibat korsleting listrik lebih tinggi dibandingkan rentang waktu lainnya.

“Di jam-jam tertentu, penggunaan listrik oleh masyarakat banyak. Misal satu terminal disambungkan ke banyak alat (elektronik). Dengan kabel yang tidak berkualitas, itu bisa menimbulkan panas dan ada percikan api, menyebabkan kebakaran,” katanya.

Selain korsleting listrik, penyebab kebakaran lainnya yakni kebocoran gas, umumnya terjadi pada siang hari sejak pukul 10.00 WIB hingga 14.00 WIB. Untuk pembakaran sampah cenderung terjadi pada pagi dan sore hari.

“Kebakaran juga terjadi akibat kelalaian, kadang lupa mematikan gas, lupa dengan meninggalkan rumah dalam kondisi terpasang AC atau apa. Dipastikan rumah kondisi aman saat ditinggalkan,” kata Satriadi mengimbau masyarakat.

Ia pun meminta adanya kontrol keamanan dan penanggulangan di tiap rumah yang dijadikan sebagai gudang usaha seperti garmen, kimia dan lainnya. “Kebakaran di gudang Kimia di Kampung Bandan itu karena tidak memiliki standar proteksi. Itu memang terkait izin usaha juga, jadi harus disinergikan,” tutupnya.

Minim sarana dan sumber daya

Satriadi menjelaskan hingga kini pihaknya masih berusaha mengurangi angka kebakaran dengan menambah pos pemadam kebakaran yang semula 18 pos menjadi 27 pos.

Penambahan pos ini juga difungsikan untuk memotong waktu respons sejak dilaporkannya peristiwa kebakaran hingga tim pemadam sampai dengan lokasi tujuan.

“Pos ini ditempatkan di seluruh wilayah terutama yang rawan kebakaran untuk meminimalisasi korban harta benda dan jiwa,” katanya.

Meski ada penambahan, jumlah pos masih saja kurang. Total kelurahan di Jakarta Utara yakni 31 unit, sementara Pasal 33 Perda DKI Jakarta Nomor 8 Tahun 2018 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Bahaya Kebakaran mengamanatkan pos harus ada di tiap kelurahan.

Tantangan lain adalah minimnya tim pemadam kebakaran di wilayah tersebut. Satriadi menjelaskan total anggota tim sedikitnya 700 orang yang harus dibagi ke dalam tiga shift setiap hari.

“Jakarta Utara dijaga sekitar 200-an orang tiap malam. Itu masih jauh dari standar yang ada,” ujarnya. Idealnya, total petugas sedikitnya 1.953 orang di 31 pos. “Mobil pompa (pemadam kebakaran) ada 100-an lebih itu seharusnya tiap mobil ada 6 orang, kalau kami masih diawasi 3-4 orang,” imbuhnya.

Pihaknya berharap adanya penambahan tim petugas, sarana, dan kolaborasi antarpihak dilakukan untuk mengurangi angka kebakaran tersebut.

“Saya akan buat operasi listrik gabungan dengan PLN untuk mengecek kondisi (kualitas kabel dan instalasi listrik). PLN juga seharusnya memberikan sosialisasi kepada masyarakat bagaimana mekanisme pemasangan kabel yang benar," ujarnya.

BACA JUGA