PEREDARAN NARKOBA

Jaksa mengejar tuntutan mati bandar narkoba jaringan Malaysia

Ilustrasi petugas menyusun barang bukti narkoba jenis sabu-sabu saat gelar kasus hasil Operasi Anti Narkotik (Antik) 2018 di Polda Lampung, Lampung, Kamis (19/7/2018).
Ilustrasi petugas menyusun barang bukti narkoba jenis sabu-sabu saat gelar kasus hasil Operasi Anti Narkotik (Antik) 2018 di Polda Lampung, Lampung, Kamis (19/7/2018). | Ardiansyah /Antara Foto

Sikap tidak puas ditunjukkan Kejaksaan atas putusan Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Institusi yang disebut terakhir ini tak memenuhi tuntutan mereka atas sembilan pelaku penyeludup 70 kg sabu dan 49.238 butir ekstasi pada malam tahun baru 2019.

"Menjatuhkan pidana para terdakwa dengan pidana penjara masing-masing seumur hidup," kata Ketua Majelis Hakim, Ni Made Sudani di Ruang Sidang Utama PN Jakarta Barat, Rabu (16/10/2019), seperti yang dilansir Tribunnews.com (h/t Kompas.com).

Vonis tersebut lebih ringan dibanding tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menuntut para terdakwa dengan hukuman mati karena dianggap melanggar Pasal 114 ayat (2) juncto Pasal 132 UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Karena tuntutan tersebut tak ada satu pun yang dipenuhi majelis hakim, Pengacara Negara pun menyatakan akan banding. JPU siap menyusun memori banding agar kesembilan orang itu bisa dihukum mati sesuai tuntutan jaksa pada Kejaksaan Negeri Jakbar.

"Berdasarkan Pasal 67 KUHAP, JPU sudah sepatutnya menyatakan banding terhadap putusan dimaksud, mengingat banyaknya barang bukti yang terungkap dalam fakta persidangan, yakni 70 kg sabu dan 49.283 butir ekstasi," ucap Kasi Penkum Kejaksaan tinggi DKI Jakarta, Nirwan Nawawi, kepada wartawan (h/t detikcom), Jumat (18/10).

Ada pun kesembilan pengedar tersebut, yakni Yoyo Hartono, Nisin, Hendra, Mulyadi, Agus salim, Johan, Aan Bachtiar, Hendrik dan Zupril Rabsi. Mereka merupakan jaringan Malaysia yang masuk ke Indonesia melalui Palembang, Sumatra Selatan.

Atas banding ini, Nawawi bukannya ingin menyalahkan majeis hakim PN Jakbar. Namun, lebih kepada adanya kemungkinan terdapat kelalaian atau kekeliruan dalam penerapan hukum acara, atau bahkan ada keputusan yang kurang lengkap.

"Sebagaimana bunyi Pasal 240 ayat (1) KUHAP akan merinci isi putusan pengadilan tingkat pertama yang dapat dijadikan alasan untuk melakukan upaya hukum banding," ucap Nawawi.

Di sisi lain, sembilan orang terpidana belum mengambil sikap atas putusan PN Jakbar: menerima atau mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi DKI Jakarta. "Kami masih pikir-pikir," ucap salah satu terdakwa saat diberikan kesempatan menjawab oleh majelis hakim yang dilansir Tribunnews.com.

Asal Malaysia lewat jalur tikus

Kasus ini terungkap kala Polda Metro Jaya menyita 70 kg sabu dan 49.238 butir ekstasi pada 17 Desember 2018. Sabu dan ekstasi tersebut disediakan untuk perayaan malam tahun baru 2019.

Polisi menangkap penyelundup sabu dan ekstasi itu dari Malaysia menuju Indonesia. Jalurnya, barang haram tersebut dikirim dari Malaysia menuju Palembang lewat salah satu pelabuhan tikus di Kota Pempek tersebut.

Selanjutnya, dari Palembang lalu diestafet lewat darat menggunakan dua mobil menuju Lampung dan berakhir di Season City, Jakarta Barat. Untuk mengelabui aparat, sabu dan ekstesi itu disembunyikan di dalam speaker di belakang mobil.

Setelah tertangkap, kesembilan orang tersebut harus mendekam di dalam hotel prodeo. Baru pada 23 Mei 2019, PN Jakbar memulai sidang mereka semua. Empat bulan berlalu, atau 18 September, JPU menuntut kesembilannya dengan tuntutan hukuman mati karena melanggar Pasal 114 ayat (2) juncto Pasal 132 UU Nomor 35/2009.

Berselang sebulan kemudian, PN Jakbar pun memvonis Yoyo Hartono dkk. dengan hukuman penjara seumur hidup.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR