POLA KONSUMSI

Jalan dan distribusi penghambat legit es krim

Tidak semua makan es krim.
Tidak semua makan es krim. | Lokadata /Lokadata

LEGIT | Secara status, es krim bukan makanan mewah. Banyak jenis dan ragam harga ditawarkan berbagai jenama di pasaran. Namun, tidak semua orang di Indonesia merasakan kelegitannya, karena berbagai kendala.

Dari 514 Kabupaten/Kota, empat Kabupaten di Indonesia Timur tidak dapat merasakan legitnya es krim. Keempatnya adalah Kabupaten Taliabu-Maluku Utara, Kabupaten Yalimo, Kabupaten Asmat, dan Kabupaten Pegunungan Bintang yang ketiganya di wilayah Provinsi Papua.

Bila menyelisik kondisi dan infrastruktur keempat kabupaten itu, kondisi jalan belum memadai. Ini jadi salah satu kendala distribusi es krim ke wilayah tersebut.

Misal kondisi jalan utama di Taliabu yang mayoritas belum diaspal. Demikian halnya Kabupaten Yalimo, Kabupaten Asmat, dan Kabupaten Pegunungan Bintang yang baru tahun lalu menikmati jalan Trans Papua dan jalan penghubung antar wilayah di Papua.

Tidak meratanya distribusi es krim ke penjuru Indonesia diiyakan Manager Marketing Komunikasi Campina, Herwindra Yoga. Ia mengatakan, kendala utamanya sulit mencari distributor yang bisa mencakup daerah Indonesia Timur.

“Itu menjadi tantangan tersendiri. Mengingat, distributor membutuhkan dana yang besar untuk menunjang operasional sales dan distribusi,” kata Herwindra saat dihubungi Lokadata, Beritagar.id, Jumat (15/11/2019)

Hal berbeda terdapat di 10 Kabupaten/Kota dengan konsumsi es krim terbesar. Tujuh di antaranya berada di Provinsi Aceh. Dalam sebulan, 1 orang di Kabupaten Pidie menghabiskan 3,13 mangkuk berukuran 90 ml.

Bila di Batavia (sekarang Jakarta) es krim pertama dikenal dengan nama Ragusa yang muncul sejak 1932 hingga kini. Sejak saat itu perkembangan es krim pesat membuatnya jadi pilihan orang Indonesia dalam pengeluaran makanan dan minuman jadi.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR