PENDIDIKAN

Jalan panjang musik dalam kurikulum pendidikan

Sejumlah pelajar SD Muhammadiyah 24 Surabaya mengamati Komunitas Surabaya Angklung Percussion memainkan musik di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (8/3/2019).
Sejumlah pelajar SD Muhammadiyah 24 Surabaya mengamati Komunitas Surabaya Angklung Percussion memainkan musik di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (8/3/2019). | Didik Suhartono /ANTARA FOTO

Seni, khususnya musik terbukti punya sejumlah manfaat positif yang berkolerasi dengan pendidikan. Namun, jalan untuk menjadikannya prioritas dalam kurikulum nasional tampaknya masih panjang.

Komposer Erwin Gutawa, berpendapat musik mestinya bukan sekadar industri atau pengisi waktu belaka, tetapi juga bagian dari sistem pendidikan di Indonesia.

Musik menurutnya tak hanya melatih orang pandai bermusik, tapi mengajarkan sebuah proses dalam membentuk karakter, rasa, emosi serta nalar.

Anggapan serupa juga pernah disampaikan Hilmar Farid, Dirjen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Ia optimistis, menjadikan musik bagian dari kurikulum bisa mendidik karakter anak menyiapkan pribadi dengan kemampuan bekerja sama lebih tinggi, disiplin, dan bertoleransi.

Sejak lama para ilmuwan memang meyakini mereka yang belajar musik tampil lebih baik secara akademis. Banyak penelitian menunjukkan, anak-anak dengan pembelajaran musik yang kuat mencapai nilai lebih tinggi di mata pelajaran lain dan meningkat berbagai aspek kehidupannya.

Bahkan, studi baru oleh peneliti dari Johns Hopkins University menambah bukti kurikulum yang terintegrasi seni—termasuk musik, menggambar, menari, dan sebagainya—punya efek langsung pada pembelajaran dan karenanya sangat diperlukan di sekolah.

Pasalnya, mempelajari musik diketahui menyebabkan perubahan positif pada otak dan meredam perilaku agresif. Pun melatih keterampilan emosional, ketekunan dan kemampuan menyelesaikan masalah yang berguna bagi masa depan anak dan memudahkannya beradaptasi di lingkungan kerja.

Meski begitu, Hilmar mengakui banyak kendala untuk menerapkan pendidikan karakter berbasis musik di Indonesia.

Selain masih banyak sekolah belum memiliki alat musik, guru seninya terbatas di kota-kota, pun masih jarang yang benar-benar memperdalam musik lewat pendidikan formal.

Selain itu, Indonesia termasuk negara yang masih memandang pendidikan musik dan seni sebagai tambahan eksklusif dalam kurikulum. Bukan prioritas utama yang sejajar dengan pelajaran inti layaknya matematika dan sains.

Sebagai gambaran, pendidikan musik kurikulum 2013 termasuk dalam pelajaran Seni Budaya & Keterampilan (SBK) yang juga mempelajari seni tari, drama dan keterampilan lainnya dengan alokasi waktu hanya empat jam seminggu. Lebih banyak teori dibanding praktik.

Beda halnya dengan Singapura. Meski masih terus menyempurnakan profesionalitas pendidik, negara dengan sistem berorientasi pemecahan masalah itu sudah menyadari pentingnya musik bagi ekonomi dan masyarakat.

Singapura telah merambah tingkat menengah bawah dalam mewajibkan pendidikan musik sebagai pelajaran inti di seluruh sekolah dasar. Ada banyak pula sekolah formal dan khusus seni musik, di mana guru tetap bisa mengasah karier profesionalnya.

Namun, untuk sampai ke tahap itu Singapura butuh puluhan tahun. Bermula tahun 80-an ketika sistem pendidikan Singapura pertama kali dirombak, dan berlanjut tahun 2011, ketika pemerintah Singapura memperkenalkan program seni dan musik yang disempurnakan (EAP dan EMP).

Swedia dan Finlandia bahkan lebih maju lagi. Pemerintahnya mensubsidi pendidikan musik berkualitas tinggi di sekolah sejak tahun 1940-an.

Prinsip Swedia, belajar musik bukan untuk jadi musisi, tapi lebih sederhana sesuai cita-cita demokrasi Swedia. Yakni memastikan tiap siswanya mendapat kesempatan sama untuk berbagi dalam budaya dan penciptaan budaya, sekaligus menciptakan kontrol sosial dengan giat bermusik.

Di Finlandia, guru musik pasti berkualitas karena diwajibkan memiliki gelar master dan melalui rangkaian kualifikasi yang berat. Kurikulumnya sangat fleksibel dengan menyerahkan keputusan pendidikan di tangan guru sesuai kebutuhan masing-masing murid.

Silabus musik Finlandia bervariasi antara dua sampai empat jam per minggu dengan berpusat pada peserta didik. Prinsipnya anak-anak dibebaskan bermain kreatif sekaligus mengeksplorasi musik sesuai kemampuannya dan sedalam yang mereka ingin, tanpa ada pekerjaan rumah.

Sistem pendidikan seperti dua negara itu tidak memiliki padanan di negara mana pun termasuk Inggris, Amerika Serikat, Irlandia, atau Australia dan Abu Dhabi, yang juga menetapkan pendidikan musik dalam kurikulum.

Di Inggris, menurut survei 2018 oleh Sussex University, banyak sekolah memangkas atau menghapus pelajaran musik lantaran kekurangan dana, dianggap mengganggu fokus pelajaran lain yang lebih penting, dan kekurangan guru berkualitas.

Dalam studi terbaru yang membahas solusi dari peningkatan tren tersebut, ternyata masih banyak orang tua yang beranggapan musik adalah hobi, bukan karier. Padahal Inggris termasuk negara dengan kesadaran tinggi bahwa musik berkontribusi dalam pendidikan.

Permasalahan teknis di kemudian hari semacam Inggris itulah yang mungkin dikatakan Hilmar memerlukan komitmen dari seluruh stakeholder agar sistem berjalan mulus.

Tak kalah penting, bagaimana caranya mengadaptasi prinsip Finlandia dan Swedia, sekaligus menumbuhkan kesadaran pentingnya pendidikan musik di Indonesia.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR