TOLERANSI BERAGAMA

Jangan mengatai kafir, apalagi (maaf) keparat

| Salni Setyadi /Beritagar.id

KAFIR! | Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Robikin Emhas, kemarin (3/3/2019) menyatakan akan menyosialisasikan usulan penghapusan sebutan kafir ke non-muslim Indonesia.

Langkah itu menindaklanjuti keputusan Bahtsul Masâil Maudlū’iyah dalam Munas dan Konbes NU 2019 di Banjar Patroman, Kota Banjar, Jawa Barat, pekan lalu.

Soal kafir dan mengafirkan ini menuai aneka tanggapan. Masing-masing dengan argumentasi.

  • Menurut NU Online, rekomendasi itu menghidupkan kembali semangat Piagam Madinah dan kesepakatan para founding fathers bahwa Indonesia bukan Negara Islam, tetapi NKRI berdasarkan Pancasila. NU sejak 1984 menyatakan NKRI final. Konsekuensinya, tak relevan lagi "mengungkap idiom-idiom privat agama ke ranah publik".
  • Mulanya arti kafir adalah ingkar, menolak atau menutup dan menyembunyikan kebenaran. Maka Dr. M. Saekan Muchith S.Ag. M.Pd., dosen IAIN Kudus, peneliti pada Tasamuh Indonesia Mengabdi (Time) Jawa Tengah, berpendapat, sebutan kafir bisa menimpa muslim dan nonmuslim. Orang mengucap sahadat tapi menindas dan korup itu "pantas mendapat predikat kafir".
  • Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) mengapresiasi langkah NU. "Tentu kita tidak hendak menggugat penggunaan kata kafir dalam kita suci, kalau itu memang ada. Namun dalam terang masyarakat majemuk, dan dalam perspektif kemanusiaan sejati, patutlah kita mengembangkan pemahaman yang lebih menghargai satu sama lain," kata Sekretaris Umum PGI Gomar Gultom.
  • Koordinator Publikasi Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi), Rusli Tan, berpendapat, "Umat Buddha seharusnya tidak mempermasalahkan panggilan orang atau apa kata orang. Karena tak semestinya menuntut orang lain untuk menghormati."
  • Juru bicara Front Pembela Islam (FPI), Munarman, menyebut NU menyesatkan, lalu dia berkomentar, "Kok tiba-tiba bagi sebagian kecil hamba Allah yang membahas, malah menempatkan diri sebagai penentang Allah. Berani sekali mereka."
  • Bagi Sekretaris Jenderal Forum Umat Islam (FUI), Muhammad Al Khaththath, istilah kafir itu netral. Dia curiga, soal kafir ini diangkat untuk menambah dukungan bagi salah satu pasangan calon presiden 2019.
  • Dari sisi penggunaan umum bahasa Indonesia, ada makian arkais "keparat" — sering digunakan oleh komik dan cerita silat. Istilah ini merupakan turunan dari kata kafirun. Padahal umpatan apa pun tak layak diucapkan oleh orang beriman.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR