PERUSAHAAN RINTISAN

Jangan salah persepsi perusahaan unicorn dikuasai asing

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara (kiri) disaksikan Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto (kedua kanan), dan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho (kanan) berbicara dalam diskusi Forum Merdeka Barat (FMB) 9 di Jakarta, Selasa (2/10).
Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara (kiri) disaksikan Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto (kedua kanan), dan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho (kanan) berbicara dalam diskusi Forum Merdeka Barat (FMB) 9 di Jakarta, Selasa (2/10). | Aprillio Akbar /Antara Foto

Isu investasi asing yang mendominasi perusahaan rintisan (startup) mencuat saat sesi debat Calon Presiden (Capres), Minggu (17/2/2019). Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto khawatir perkembangan teknologi yang cepat justru akan mempercepat aliran dana ke luar negeri.

Fenomena derasnya aliran modal asing dalam perusahaan unicorn lokal juga sempat mendapat perhatian pemerintah, terlebih Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara. Ia mengakui, bahwa investor asing mengantongi kepemilikan saham yang cukup besar di unicorn Indonesia, tapi ia meminta masyarakat tidak perlu khawatir.

Ia menyebut persepsi bahwa unicorn Indonesia dikuasai oleh asing adalah keliru. Menurutnya, pemahaman suntikan modal asing ke dalam perusahaan unicorn tidak bisa disamakan dengan suntikan modal pada perusahaan konvensional

"Yang ramai adalah persepsi bahwa dengan masuknya asing ini unicorn didominasi modal asing. Iya betul, tapi yang perlu diingat adalah model bisnisnya berbeda jadi tidak bisa disamakan," ujar Rudiantara saat wawancara khusus dengan Beritagar.id di Jakarta, Selasa (12/2/2019).

Model bisnis yang membedakan karena masuknya investor asing ke Indonesia tidak lantas berdampak pada perubahan manajemen usaha. Berbeda bila perusahaan di bidang riil yang bila mendapat investasi dari asing, maka pemegang saham bisa masuk ke jajaran manajerial.

Ia mengategorikan model bisnis modern ini sebagai financial investor yang memisahkan kepentingan pemodal dengan manajamen. "Kendali perusahaan unicorn tetap dipegang oleh pendirinya, contohnya Go-Jek sekarang tetap dipegang oleh Nadiem," ujarnya.

Lebih jauh ia mencontohkan, kepemilikan Jack Ma di Alibaba hanya sekitar 8 persen. Sementara investor asal Jepang, Softbank, memiliki sekitar 30 persen. Begitu pun investor asal Amerika Serikat (AS), Yahoo, sekitar 20 persen.

"(Pemerintah) Tiongkok bilang, uang boleh masuk tapi politik tidak. Maka, Jack Ma tetap punya saham preferensi dalam kontrol hal-hal tertentu," ujarnya.

Menurutnya, pola investasi juga diadopsi oleh startup Indonesia. Ia mendorong agar para pendiri startup dan unicorn Tanah Air menjaga kontrolnya atas perusahaan. Dengan begitu, investasi yang diberikan tetap memberikan keuntungan bagi masyarakat.

Di Indonesia, saat ini terdapat empat unicorn atau startup bervaluasi AS $1 miliar yang menjadi raksasa bisnis baru di dalam negeri. Namun dalam waktu dekat Indonesia akan memiliki startup decacorn, atau rintisan dengan valuasi mencapai di atas AS $10 miliar.

Empat startup unicorn tersebut terbagi dalam tiga jenis industri dan sudah berkali-kali mendapat suntikan modal dari investor asing. Pertama adalah Go-Jek yang merajai sektor transportasi. Menurut Cruchbase, Go-Jek telah tujuh kali mengumpulkan dana hingga mencapai $3,3 miliar.

Hingga 30 Oktober 2018, Go-Jek memiliki valuasi $7,8 miliar. Valuasi ini bisa bertambah sebab Go-Jek masih menggalang dana dari investor untuk ekspansi ke Asia Tenggara. Di belakang Go-Jek, terdapat sejumlah nama investor besar asing seperti JD.com, Tencent Holdings hingga Google.

Kedua, Tokopedia yang sudah delapan kali menggalang dana dari investor. Investor Indonusa Dwitama tercatat sebagai investor dalam negeri. Indonusa menjadi investor awal Tokopedia yang menyuntikkan dana pada 2009.

Pada tujuh putaran penghimpunan dana lainnya, pemberi dana adalah investor asing. Mayoritas berasal dari Jepang. Yakni, East Ventures, CyberAgent Ventures, Beenos Partners, SoftBank dan Telecom Corp. Saat ini valuasi Tokopedia dikabarkan mencapai $7 miliar.

Pada e-commerce jual-beli tiket Traveloka, semua investornya adalah asing dari AS, Tiongkok, Jepang dan Eropa. Masing-masing Expedia Inc, Sequoia Capital (AS), JD.com dan Hillhouse Capital Grup (Tiongkok), East Ventures (Jepang), dan Global Founders Capital dari Eropa.

Sedangkan di marketplace dan e-commerce Bukalapak, asing tetap mendominasi meski investor lokal jadi pengendali. Emtek Group memegang 49,1 persen saham Bukalapak.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR