Jaringan besar pemalsu vaksin beroperasi di daerah

Petugas posyandu memberikan vaksin polio kepada seorang anak di Posyandu Cipageran, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Maret 2016. Polisi menangkap sindikat pemalsu vaksin yang memproduksi lima vaksin yang diedarkan ke apotek.
Petugas posyandu memberikan vaksin polio kepada seorang anak di Posyandu Cipageran, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Maret 2016. Polisi menangkap sindikat pemalsu vaksin yang memproduksi lima vaksin yang diedarkan ke apotek. | Aditya Herlambang Putra /TEMPO

Polisi menguak komplotan pemalsu vaksin di sebuah pabrik di Pondok Aren Tangerang Selatan, Banten, Selasa (21/6). Menurut Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri, Brigjen Agung Setya, pabrik pembuatan vaksin palsu ini membuat vaksin campak, polio, dan hepatitis B, tetanus, dan BCG (Bacille Calmette-Guerin).

Agung mengungkapkan, lokasi pabrik ditemukan di tempat yang tidak steril dan penuh dengan obat berbahaya serta alat pembuat vaksin. Menurut Agung, pelaku mengisi ampul dengan cairan buatan sendiri yang menyerupai vaksin asli. Lalu ditempeli merek dan label.

"Cairan buatan pelaku tersebut berupa antibiotic gentamicin dicampur dengan cairan infus," urai Agung, seperti dikutip dari Detik.com.

Penangkapan itu bermula dari apotek Aris di Kramat Jati, Jakarta Timur. Polisi menangkap MF, pemilik apotek dan TH seorang kurir. Dari tangkapan ini, polisi menggerebek lokasi pembuatan vaksin di kawasan Puri Bintaro Hijau Pondok Aren, Tangerang.

Polisi menangkap AP, produsen pembuat vaksin palsu beserta L, istrinya. Kurir berinisial S yang berperan mengantar vaksin ke sejumlah apotek juga turut ditangkap.

Berdasarkan pengakuan AP, proses pembuatan vaksin bayi palsu tersebut dimulai dari pengumpulan botol bekas vaksin yang diisi dengan larutan yang dibuat sendiri oleh AP. Kemudian, ditempeli label vaksin yang dibuat di sebuah percetakan di Kalideres, Jakarta Barat.

Pencetak label masih diburu. "Kasus ini masih dalam pengembangan dan tidak menutup kemungkinan akan ada pelaku-pelaku lain yang tertangkap," ujar Agung seperti dikutip dari Liputan6.com.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengakui memang sulit memberantas sindikat pemalsu vaksin. Usai disapu, mereka kembali muncul.

Menurut Plt Kepala BPOM Tengku Bahdar Johan Hamid, penyebab pelaku tertarik memalsukan vaksin karena bisnis vaksin menggiurkan. "Bisnis vaksin cukup baik dan mahal jadi (selalu) muncul pemain-pemain baru," ujarnya seperti dipetik dari Detik.com.

BPOM sudah menelusuri peredaran vaksin palsu sejak 2013. "Baru menemukan hilir produsen vaksin," ujarnya seperti dinukil dari Republika.co.id. Berdasar penelurusan sejak 2013 hingga 2015, BPOM menemukan produsen vaksin asal Aceh dan Tangerang.

Temuan itu menunjukkan pembuatan dan peredaran vaksin palsu berada di daerah. BPOM menduga saat ada jaringan produsen vaksin palsu besar di Indonesia .

Johan menceritakan, motif memalsukan vaksin karena harganya yang mahal. Mahalnya vaksin ini menarik peserta tender vaksin. Kadang-kadang pemenang tender vaksin harus menyediakan satu set vaksin.

Misal satu set vaksin ada 40 item, tapi mereka tak punya satu vaksin. Jika mereka bilang tak punya, gagal semua. "Kadang-kadang mereka main di satu vaksin itu," ujar Johan.

Johan menuturkan, guna mencegah penyebaran vaksin palsu, BPOM dan pabrik-pabrik vaksin resmi seperti Biofarma dan Sanopi, membentuk tim. "Kami koordinasi dengan Bareskrim," kata dia.

Johan berpesan, konsumen yang curiga bisa menghubungi BPOM. Johan berpesan, produsen vaksin resmi seperti Sanopi menjual produknya lewat aplikasi tidak lewat penjual freelance atau eceran. Sedangkan Biofarma menjual dengan jalur-jalur resmi.

"Jadi jangan beli vaksin di tempat yang tidak resmi atau freelance," tambahnya. Selain itu, jika hendak disuntik vaksin, tanyakan dari mana vaksin itu dibeli. " Kalau dari freelance, nggak jadi saja," pesannya.

Apa akibatnya vaksin palsu ini bagi tubuh anak?

Vaksinolog dr. Dirga Sakti Rambe, M.Sc-VPCD mengungkapkan, risiko pertama tubuh tidak akan mendapat efek perlindungan sistem kekebalan terhadap suatu penyakit tertentu.

Risiko terberat adalah anak terkena infeksi. Sebab, proses pembuatan vaksin palsu tidak steril dan bisa tercemar banyak kuman.

"Kalau cairan penuh kuman ini disuntikkan ke tubuh, orang bisa infeksi," kata dia kepada Kompas.com.

Gejala infeksi tersebut antara lain demam tinggi disertai laju nadi cepat, sesak napas, dan anak sulit makan. Jika terakhir kali vaksinasi pada dua minggu lalu dan tidak muncul gejala tersebut, kemungkinan besar anak tidak terkena infeksi.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR