TERORISME

Jaringan JAD dituding dalangi serangan Polres Indramayu

Tim pejinak bom Polda Jabar mengamankan bahan peledak yang dibuang penyerang Markas Polres Indramayu, Jawa Barat, Minggu (15/7/2018). Pelaku diduga anggota baru jaringan JAD.
Tim pejinak bom Polda Jabar mengamankan bahan peledak yang dibuang penyerang Markas Polres Indramayu, Jawa Barat, Minggu (15/7/2018). Pelaku diduga anggota baru jaringan JAD. | Dedhez Anggara / Antara Foto

Polri menangkap 11 orang terduga teroris yang terlibat dalam aksi pelemparan benda bom panci yang gagal meledak di Markas Polres Indramayu, Jawa Barat, Minggu (15/7/2018).

Menurut Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian, 2 dari 11 orang itu merupakan pasangan suami istri yang melempar benda itu. Suami istri itu belakangan diketahui berinisial G dan NH. Sedangkan 9 terduga teroris lainnya merupakan rekan dari keduanya.

"Di Indramayu itu sudah ditangkap lagi ada 9 (terduga teroris), lanjutan dari dua orang yang mau menyerang Polres," kata Tito di Markas Korps Brigade Mobil (Mako Brimob), Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat pada Senin (16/7/2018) seperti dinukil dari CNN Indonesia.

Polisi memastikan mereka yang terlibat adalah jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Agung Budi Maryoto menjelaskan, pasangan suami istri itu merupakan anggota dari jaringan JAD.

"Para terduga teroris yang melakukan aksi penyerangan dan aksi bom bunuh diri di Mako Polres Indramayu adalah kelompok JAD Haurgeulis Kabupaten Indramayu, Jawa Barat," kata Agung, seperti ditulis Kompas.com.

Keduanya berasal dari kelompok yang sama dengan tujuh terduga teroris lainnya yang sudah ditangkap polisi pada Sabtu dan Minggu. Tujuh terduga ini ditangkap di beberapa lokasi.

Menurut Syafruddin, aksi pelemparan bom panci ini merupakan serangan, bukan aksi balasan atas serangkaian penangkapan terduga teroris di beberapa tempat. Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan, bantahan, ataupun pernyataan dari JAD atau pihak yang mewakilinya.

Pelaku diduga rekrutan baru

Mantan Kepala Instruktur Perakitan Bom Jamaah Islamiyah, Ali Fauzi Manzi menduga, para pelaku yang terlibat dalam aksi tersebut adalah rekrutan baru dan belum banyak belajar bagaimana meledakkan bom. "Jadi mereka belum pernah berlatih, belum pernah ketemu instruktur bom dan lainnya," kata Fauzi, Senin (16/7/2018) seperti dipetik dari Okezone.com.

Menurut Ali, melemparkan bom panci adalah aksi yang lucu. Ali menjelaskan, bom yang biasa dilempar adalah granat tangan, bukan bom panci. "Saya belum pernah menemukan bom sebesar panci kemudian dilempar," tuturnya.

Bom panci itu akhirnya memang gagal meledak. Tiga petugas yang sedang berjaga lalu melepaskan 11 tembakan kepada dua pelaku. GL yang kala itu mengemudikan sepeda motor terkena tembakan di bagian dada kanan. Pelaku, yang tengah kritis dirawat di RS Bhayangkara, Indramayu. Sedangkan istrinya, masih diperiksa untuk mengetahui motif serangan tersebut.

JAD adalah jaringan teroris yang dibentuk oleh Aman Abdurrahman, di Malang, Jawa Timur, pada November 2014. Aman sudah divonis hukuman mati, Jumat (22/6/2018).

JAD dituding di balik aksi bom beberapa waktu lalu. Misalnya rangkaian bom di Surabaya, ledakan di Pasuruan, serangan di Polda Riau, hingga penangkapan di Yogyakarta Sabtu lalu adalah jaringan Jamaah Ansharut Khilafah (JAK), masih ada kaitannya dengan JAD.

Irjen Petrus R Golose, Kapolda Bali yang juga mantan Deputi Bidang Kerjasama Internasional Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) Februari lalu menjelaskan, jaringan teroris di Indonesia bermuara dari kelompok Darul Islam atau Negara Islam Indonesia (NII).

Kelompok ini pada 1993 menjelma menjadi Jamaah Islamiyah (JI). Pada tahun 2000 mereka berganti menjadi Majelis Mujahidin Indonesia.

Delapan tahun kemudian, MMI berkembang dan dikenal dengan sebutan kelompok Jamaah Ansharut Tauhid (JAT). Sebagian menjelma menjadi Mujahidin Indonesia Barat (MIB).

Dari jaringan JAT dan MIB, berkembang jaringan-jaringan teroris Jamaah Anshorut Syariah (JAS), Mujahidin Indonesia Timur (MIT), Jamaah Ansharut Daulah (JAD), dan Jamaah Ansharut Khilafah (JAK).

Dalam sepanjang sejarah mereka, ratusan aksi teror telah dilakukan di Indonesia.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR