RINGKASAN SEPEKAN

Jatuhnya Lion Air, eksekusi TKW, dan nasib wakil ketua DPR

Petugas memeriksa turbin pesawat Lion Air JT 610 di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Minggu (4/11/2018). Tim SAR gabungan menyerahkan turbin, roda dan sejumlah barang-barang temuan dari jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 kepada KNKT untuk dilakukan investigasi lebih lanjut.
Petugas memeriksa turbin pesawat Lion Air JT 610 di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Minggu (4/11/2018). Tim SAR gabungan menyerahkan turbin, roda dan sejumlah barang-barang temuan dari jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 kepada KNKT untuk dilakukan investigasi lebih lanjut. | Dhemas Reviyanto /Antara Foto

Sepanjang pekan lalu (28 Oktober-3 November 2018) kabar duka mengenai jatuhnya pesawat Lion Air mendominasi pemberitaan. Pesawat Beoing 737 Max 8 beregristrasi PK-LQP yang tengah terbang dari Jakarta ke Pangkalpinang dengan kode penerbangan JT610 itu jatuh di laut Tanjung Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10) pagi.

Kemungkinan besar tak ada satu pun dari 189 orang yang berada dalam pesawat--penumpang, pilot, dan awak kabin--tersebut selamat. Indonesia berduka akibat kecelakaan penerbangan terbesar kedua setelah jatuhnya pesawat Airbus A300 Garuda Indonesia pada 1997 di Medan, Sumatra Utara, yang menewaskan 234 orang.

Sorotan masyarakat langsung tertuju pada Lion Air yang sudah terkenal kerap bermasalah--mulai keterlambatan penerbangan hingga kecelakaan yang menimpa beberapa pesawat mereka--tetapi tetap diminati karena penerbangannya menjangkau daerah-daerah di Indonesia yang tak dijamah maskapai lain.

Hal lain, Boeing 737 Max 8 tersebut adalah generasi terbaru dari pabrikan asal Amerika Serikat itu. Model tersebut juga menjadi Boeing yang paling laris saat ini, dengan penjualan mencapai lebih dari 4.500 unit.

Lion Air baru menerima pesawat yang kemudian diberi kode registrasi PK-LQP tersebut pada 15 Agustus 2018 dan penerbangan perdananya berlangsung beberapa hari kemudian. Artinya, umur pesawat belum genap tiga bulan ketika ia terjatuh. Lokadata Beritagar menemukan adanya anomali dalam rekam jejak penerbangan itu.

Kronologi dan penyebab kecelakaan pesawat terbang biasanya baru terjawab setelah tim penyelidik, dalam hal ini Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) bekerja memeriksa kotak hitam (black box) yang mencatat data penerbangan (FDR) dan percakapan di kokpit (CVR).

Salah satu bagian dari kotak hitam tersebut--kemungkinan FDR--berhasil ditemukan Tim SAR Gabungan pada Kamis (1/11). Kini semua menanti hasil penelitian KNKT. Mereka akan mengumumkan laporan awal (preliminary report) pada akhir November 2018, sementara laporan penuh kemungkinan baru selesai setahun mendatang.

Sementara itu, tim SAR masih berupaya mencari korban-korban dan bagian lain pesawat. Jenazah yang terkumpul di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, hingga Sabtu (3/11) sudah mencapai 73 kantong, tetapi karena kondisinya tak ada yang utuh, butuh waktu bagi tim pemeriksa untuk mengidentifikasikan jenazah tersebut.

Tentu saja, meski Indonesia berduka atas kecelakaan ini, peristiwa-peristiwa lainnya masih tetap berjalan. Berikut ini adalah kabar-kabar lain yang juga menyita perhatian masyarakat sepanjang pekan lalu:

Esekusi Tuty di Arab Saudi

Foto ilustrasi tenaga kerja migran yang dideportasi oleh Pemerintah Malaysia memasuki ruangan pos perlindungan tenaga kerja di terminal penumpang Pelabuhan Pelindo I Dumai di kota Dumai, Dumai, Riau, Kamis (13/9/2018).
Foto ilustrasi tenaga kerja migran yang dideportasi oleh Pemerintah Malaysia memasuki ruangan pos perlindungan tenaga kerja di terminal penumpang Pelabuhan Pelindo I Dumai di kota Dumai, Dumai, Riau, Kamis (13/9/2018). | Aswaddy Hamid /Antara Foto

Kerajaan Arab Saudi mengeksekusi mati perempuan asal Majalengka, Jawa Barat, Tuty Tursilawati, pada Senin (29/10/2018) waktu setempat. Pelaksanaan eksekusi tersebut tanpa pemberitahuan terhadap Pemerintah Indonesia.

Tuty merupakan tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Desa Cikeusik, Kecamatan Sukahaji, Majalengka, Jawa Tengah. Dia berangkat ke Arab Saudi bersama ibunya pada 2009 lewat PJTKI PT Arunda Bayu. Tuty bekerja sebagai penjaga lansia pada sebuah Naif Al Oeteibi di Kota Thaif.

Direktur Perlindungan WNI Kemenlu Lalu Muhammad Iqbal memberi kabar tentang ekekusi mati Tuty kepada keluarga di Majalengka. Iqbal mengatakan Tuty telah dimakamkan pada Senin, 29 Oktober 2018 waktu setempat.

Eksekusi itu, kata Iqbal, dilakukan tanpa pemberitahuan terhadap pemerintah Indonesia. Ia mengatakan akan mengajukan protes terhadap pemerintah Arab.

Tuty ditangkap oleh kepolisian Arab Saudi pada 12 Mei 2010. Ia diduga membunuh majikannya, Suud Mulhaq AI-Utaibi di Kota Thaif, sekitar 87 kilometer sebelah timur Kota Mekah pada 11 Mei 2010.

Pembunuhan dengan pukulan kayu itu dilakukan Tuty karena tindak pelecehan seksual dan kekerasan oleh majikannya.

Eksekusi hukuman mati tanpa notifikasi berpotensi akan berlanjut karena ada sekitar 20 TKI di Arab Saudi yang terancam hukuman mati. Data Kementerian Luar Negeri RI menyebut bahwa terdapat 142 warga Indonesia yang terancam hukuman mati di seluruh dunia.

Turki paparkan kronologi pembunuhan Khashoggi

Demonstran memegang foto Jamal Khashoggi dan lilin saat berunjuk rasa di depan Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki (25/10/2018).
Demonstran memegang foto Jamal Khashoggi dan lilin saat berunjuk rasa di depan Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki (25/10/2018). | Erdem Sahir /EPA-EFE

Pada Rabu (31/10/2018), pemerintah Turki, melalui Kepala Kejaksaan Istanbul, Irfan Fidan, memaparkan kronologi versi mereka kepada media mengenai pembunuhan atas Jamal Khashoggi pada 2 Oktober 2018. Ini menjadi keterangan resmi pertama yang dikeluarkan pemerintah Recep Tayyip Erdogan terkait kasus pembunuhan tersebut.

Fidan, dalam pernyataan tertulis seperti dikutip The Guardian, memaparkan jurnalis berusia 59 tahun yang mengasingkan diri ke Amerika Serikat tersebut dicekik hingga tewas sesaat setelah ia melangkah masuk ke dalam konsulat.

Pernyataan tersebut dikeluarkan tak lama setelah Jaksa Agung Saudi, Syekh Saud al-Mojeb, meninggalkan Istanbul. Mojeb datang ke Istanbul pada awal pekan dan tinggal selama dua hari untuk melakukan investigasi dan berdiskusi dengan pemerintah Turki.

Versi pemerintah Turki itu berbeda dengan versi pemerintah Arab Saudi yang menyatakan "kelompok liar" sebagai pembunuh wartawan yang mengasingkan diri di AS itu.

Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan jadi tersangka kasus suap

Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan (tengah) usai diperiksa KPK, Rabu (5/9/2018). KPK menetapkan Taufik sebagai tersangka dalam kasus suap dana alokasi khusus untuk Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.
Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan (tengah) usai diperiksa KPK, Rabu (5/9/2018). KPK menetapkan Taufik sebagai tersangka dalam kasus suap dana alokasi khusus untuk Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. | Dhemas Reviyanto /Antara Foto

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akhirnya menetapkan Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan sebagai tersangka dalam kasus suap Dana Alokasi Khusus (DAK) Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Politisi PAN itu menyandang gelar tersangka setelah tiga hari dilarang ke luar negeri.

KPK menilai, Taufik menerima sekitar Rp3,65 miliar karena membantu Bupati nonaktif Kebumen Yahya Fuad, dalam pengurusan DAK Kabupaten Kebumen itu.

"TK yang merupakan wakil ketua DPR diduga menerima hadiah atau janji," kata Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan dalam jumpa pers, di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (30/10/2018) seperti dikutip dari CNN Indonesia.

KPK menduga, suap itu adalah bagian dari imbalan 5 persen buat Taufik karena mengurus DAK tambahan bagi Kabupaten Kebumen pada APBN 2016 sebesar Rp93,37 miliar. Dalam penyerahan uang, mereka menggunakan sandi '1 ton' untuk uang sejumlah Rp1 miliar.

Namun belum semua uang yang dijanjikan berhasil diserahkan kepada pihak Taufik. Ia dijerat Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

3 ABK WNI diculik di lepas pantai Kongo

 Ilustrasi kapal laut jenis OSV (offshorre supply vehicle).
Ilustrasi kapal laut jenis OSV (offshorre supply vehicle). | KrakenPlaces /Shutterstock

Tiga Warga Negara Indonesia (WNI) yang bekerja sebagai anak buah kapal (ABK) pada OSV (offshore supply vehicle) berbendera Singapura, Ark Tze, telah diculik oleh perompak di perairan bagian barat Afrika yang masuk wilayah Republik Demokratik Kongo pada Senin (29/10/2018).

Kementerian Luar Negeri Indonesia (Kemlu) mengonfirmasi kabar tersebut pada Kamis (1/11), namun tidak mengumumkan identitas ketiga orang itu.

Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Bantuan Hukum (PWNI) Kemlu, Lalu Muhammad Iqbal, dalam Tribunnews.com, menyatakan bahwa selain tiga ABK WNI, para perompak juga menculik satu orang warga Ukraina yang bekerja di kapal tersebut.

Keempat ABK Ark Tze yang diculik itu kemudian, tutur Iqbal, dibawa ke kapal tanker berbendera Panama, Anuket Amber, yang juga telah dikuasai para pembajak pada hari yang sama. Belum diketahui dari kelompok mana pembajak itu berasal, juga belum ada kontak dari mereka.

Ark Tze diawaki oleh 15 ABK yang terdiri dari 11 WNI, 2 warga Myanmar, dan 1 warga Ukraina. Sisa awak lainnya telah tiba dengan selamat di pelabuhan Pointe-Noire, Kongo.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR