INTERNASIONAL

Jatuhnya sang super CEO Carlos Ghosn

CEO Renault Carlos Ghosn saat berbicara dengan pegawai di pabrik Renault, Maubeuge, Prancis (8/11/2018).
CEO Renault Carlos Ghosn saat berbicara dengan pegawai di pabrik Renault, Maubeuge, Prancis (8/11/2018). | Etienne Laurent /EPA-EFE/Pool

Pada suatu masa yang belum lama berlalu, Carlos Ghosn adalah dewa penyelamat bagi Renault, Nissan, dan Mitsubishi. Ia berhasil menyatukan ketiga perusahaan tersebut dalam sebuah aliansi dan mengeluarkan mereka dari masa-masa kelam.

Sempat nyaris bangkrut, kecakapan Sang CEO membuat aliansi tiga perusahaan otomotif dari dua negara berbeda--Prancis dan Jepang--itu membuahkan hasil. Tahun lalu, total penjualan produk ketiganya mencapai 10,6 juta unit, mengalahkan nama besar Volkswagen, Toyota, dan General Motors.

Keberhasilan tersebut membuatnya menjadi eksekutif perusahaan nan populer di Jepang. Bahkan kisah hidupnya diabadikan dalam bentuk manga (komik ala Jepang).

Majalah Fortune memilihnya sebagai pebisnis paling berpengaruh pada 2003. Ia ikut membawa obor Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro. Ghosn juga kerap jadi pembicara pada ajang tahunan bergengsi World Economic Forum di Davos, Swiss.

Namun tampaknya kisah hidup pria yang menjabat sebagai Chairman dan CEO Renault, Chairman Nissan dan Mitsubishi, dan CEO aliansi tiga perusahaan tersebut, bakal berbalik 180 derajat. From hero to zero, meminjam ungkapan barat.

Pada Senin (19/11/2018), CEO asal Brasil yang berusia 64 tahun itu ditangkap polisi di Tokyo. Penangkapan tersebut dilakukan atas perintah Kejaksaan Distrik Tokyo.

Tuduhannya tidak main-main. Ghosn diduga tidak jujur dalam laporan penghasilan tahunannya kepada otoritas pajak Jepang.

Kejaksaan Tokyo, dikabarkan BBC, menduga Ghosn berkonspirasi dengan Greg Kelly, mantan direktur personalia Nissan dan kini ia menjadi eksekutif senior perusahaan tersebut, untuk memalsukan data upah dan kompensasi yang diterima Ghosn sejak tahun 2010.

Tuduhan itu yang, jika terbukti, bakal membuatnya dipenjara maksimal 10 tahun, atau denda maksimal 10 juta yen (Rp1,3 miliar), atau keduanya.

Dugaan kejahatan tersebut, menurut Forbes.com, disampaikan seorang pelapor tindak pidana (whistle blower) yang identitasnya dirahasiakan. Selain diduga memberikan data palsu. Sejak 2010 pemerintah Jepang mewajibkan perusahaan untuk membuka gaji para eksekutif yang lebih dari 100 juta yen.

Kejaksaan Tokyo, dikutip The New York Times, menyatakan bahwa Ghosn menerima upah dan kompensasi total sebesar hampir 10 miliar yen (Rp1,29 triliun) pada periode 2011-2015. Namun angka yang dilaporkannya hanya 5 miliar yen.

Selain pemalsuan laporan upah dan kompensasi, Ghosn juga diduga kerap menggunakan aset Nissan untuk kepentingan pribadi.

Ghosn dan Kelly ditahan tetapi belum didakwa secara resmi. Kejaksaan Tokyo memiliki waktu selama 72 jam untuk menyusun dakwaan dan bisa mendapat perpanjangan waktu hingga 20 hari.

Kejaksaan telah menggeledah markas besar Nissan di Yokohama, Jepang, untuk mencari bukti-bukti terkait dugaan tersebut.

Bayaran yang diterima Ghosn dari Nissan dan Mitsubishi memang terbilang besar, bahkan untuk ukuran eksekutif sebuah perusahaan besar di Jepang.

Tahun 2017, menurut situs Chief Executive, ia menerima bayaran 735 juta yen tunai dari Nissan, nyaris lima kali lipat dari yang diterima Chairman Toyota Takeshi Uchiyamada (181 juta yen).

Sementara, bayaran yang diterimanya dari Mitsubishi pada periode yang sama mencapai 227 juta yen ditambah opsi saham.

Jumlah tersebut, menurut seorang mantan eksekutif Nissan kepada Forbes, membuat para eksekutif asal Jepang di Nissan kesal dan ingin segera keluar dari bayang-bayang Ghosn.

"Orang-orang Jepang tak menyukai besarnya bayaran tersebut, tetapi mereka harus menerimanya karena Nissan tengah di ambang kehancuran. Tetapi itu 20 tahun lalu dan perusahaan sudah sukses saat ini. Oleh karena itu banyak eksekutif senior, bahkan pemerintah Jepang, ingin lepas dari bayang-bayang Ghosn," tutur pria yang meminta identitasnya dirahasiakan itu.

Masalah upah yang diminta Ghosn juga menjadi sorotan di Prancis. Tahun lalu ia meminta paket pembayaran total 7,4 juta euro (Rp122,8 miliar).

Pemerintah Prancis, yang memegang 15 persen saham Renault, sempat menolak permintaan tersebut, tetapi uang sejumlah itu akhirnya diberikan karena mayoritas pemegang saham (56,6 persen) menyetujuinya.

Bagaimana nasib Ghosn sekarang?

Setelah kabar penangkapan itu terkonfirmasi, CEO Nissan Hiroto Saikawa kepada CNN menyatakan, mereka akan mengadakan pertemuan pada Kamis (22/11). Pertemuan itu bisa dipastikan bakal membicarakan soal pemecatan Ghosn.

CNBC mengabarkan bahwa Mitsubishi akan mengusulkan untuk mengeluarkan Ghosn dari dewan direktur perusahaan tersebut.

"Kami menyiapkan investigasi internal untuk mengetahui apakah Ghosn telah melakukan perbuatan yang sama di dalam MMC (Mitsubishi Motor Corporation)," tulis Mitsubishi dalam pernyataan resminya.

Sementara itu, Renault telah menunjuk COO Thierry Bollore untuk melaksanakan tugas CEO selama Ghosn berhalangan. Namun, usai pertemuan darurat, Renault memutuskan untuk saat ini Ghosn masih menjabat sebagai Chairman dan CEO perusahaan.

Saat ini tiga perusahaan itu berbagi kepemilikan. Renault menguasai 43,5 persen saham Nissan, sementara Nissan memiliki 15 persen saham Renault. Sedangkan Mitsubishi baru bergabung pada 2016 ketika Nissan membeli 34 persen sahamnya.

Belum diketahui apa dampak penangkapannya terhadap masa depan aliansi Renault-Nissan-Mitsubishi. Tetapi banyak pengamat meramalkan akan sulit mempertahankan aliansi tanpa Ghosn di dalamnya.

"Dialah aliansi itu. Dialah orang jenius di belakang semua itu dan menentukan parameter untuk menjalankan perusahaan-perusahaan yang amat berbeda itu," kata Rebecca Lindland, analis senior Cox Automotive, kepada CNN.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR