PILPRES 2019

Jejak Jokowi vs. Prabowo dalam dua pilpres

Joko Widodo (kiri) dan Prabowo Subianto berjabat tangan usai mengikuti debat capres putaran keempat di Hotel Shangri La, Jakarta, Sabtu (30/3/2019).
Joko Widodo (kiri) dan Prabowo Subianto berjabat tangan usai mengikuti debat capres putaran keempat di Hotel Shangri La, Jakarta, Sabtu (30/3/2019). | Hafidz Mubarak A /Antara Foto

Hasil rekapitulasi Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada Pilpres 2019 di 34 provinsi menunjukkan pasangan no. 01, Joko "Jokowi" Widodo-Ma'ruf Amin, mengungguli pesaing mereka, pasangan no. 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Salahudin Uno.

Calon petahana itu meraih 85.607.362 suara atau 55,50 persen. Sedangkan perolehan Prabowo-Sandi sebanyak 68.650.239 suara atau 44,50 persen dari total suara sah yang mencapai 154.257.601. Selisih suara kedua pasangan calon tersebut mencapai 16.957.123 atau 11 persen.

Jokowi dan Prabowo juga bersaing pada Pilpres 2014, yang dimenangi Jokowi. Jika dibandingkan dengan persaingan lima tahun lalu, selisih suara mereka mengalami peningkatan.

Pada Pilpres 2014, Jokowi, yang berpasangan dengan Jusuf Kalla, unggul 8.421.389 suara dari Prabowo, yang didampingi Hatta Rajasa.

Menilik data perbandingan perolehan suara Jokowi dan Prabowo pada Pilpres 2014 dengan 2019 di 34 provinsi yang diolah tim Lokadata Beritagar.id, terjadi pergeseran dibandingkan dengan Pilpres 2014.

Jika dilihat secara rata-rata, provinsi yang dikuasai Jokowi berkurang dari 23 menjadi 21 provinsi. Namun total pemilihnya bertambah 20 persen, dari 71 juta menjadi 85,6 juta suara.

Sedangkan jumlah pemilih untuk Prabowo hanya naik 9,7 persen dari 62,6 juta menjadi 68,7 juta suara.

Pada Pilpres 2014, kemenangan dengan persentase terbesar bagi Jokowi-Kalla terjadi di Sulawesi Barat, mencapai 73,4 persen. Sementara Prabowo-Hatta Rajasa mendapat persentase suara tertinggi di Sumatera Barat, yakni 76,9 persen.

Tahun ini, kemenangan terbesar Jokowi terjadi di Bali (91,7 persen), sementara Prabowo masih menguasai Sumbar dengan total perolehan suara 85,9 persen.

Saling klaim menang

Berbagai drama terjadi selama proses Pilpres 2019. Usai pencoblosan pada 17 April, kedua kontestan saling klaim kemenangan.

Hasil hitung cepat (quick count) berbagai lembaga survei menunjukkan Jokowi-Ma'ruf unggul atas Prabowo-Sandiaga. Namun pasangan 02 yakin merekalah yang menang berdasarkan hasil hitungan pendukung mereka sendiri.

Beredarlah tuduhan kecurangan yang dilakukan oleh kubu Jokowi-Amin, hingga ancaman mengerahkan people power dari kubu Prabowo-Sandi, yang menolak hasil penghitungan suara.

Setelah Komisi Pemiluhan Umum (KPU) mengumumkan hasil hitungan riil, yang dimenangi Jokowi-Ma'ruf, kubu Prabowo-Sandiaga langsung menolak dan menyatakan akan terus melakukan upaya hukum sesuai konstitusi. "Dalam rangka membela kedaulatan rakyat yang hak-hak konstitusinya dirampas pada Pemilu 2019 ini," ujarnya.

Para pendukung Prabowo-Sandiaga lalu menggelar unjuk rasa menolak hasil Pilpres 2019 di kantor Bawaslu di Jakarta selama 21-22 Mei. Unjuk rasa itu bahkan berujung pada kerusuhan di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Pada, Jumat (24/5), kubu Prabowo-Sandiaga akhirnya mendaftarkan sengketa Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Presiden 2019 ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Pendaftaran sengketa PHPU pasangan Prabowo-Sandi ke MK diwakili oleh adik Prabowo, Hashim Djojohadikusumo sebagai penanggung jawab gugatan.

Ribuan aparat TNI dan Polri berjaga-jaga di depan Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, saat Tim Hukum Prabowo-Sandi mendaftarkan sengketa Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Presiden 2019, Jumat (24/5/2019) malam.
Ribuan aparat TNI dan Polri berjaga-jaga di depan Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, saat Tim Hukum Prabowo-Sandi mendaftarkan sengketa Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Presiden 2019, Jumat (24/5/2019) malam. | Rommy Roosyana /Beritagar.id

Hashim didampingi delapan pengacara yang dipimpin Ketua Tim Hukum Prabowo-Sandi, Bambang Widjojanto. Gugatan sengketa PHPU yang dilakukan Prabowo bukan kali ini saja, pada Pilpres 2014 lalu, ia juga melakukan hal serupa.

Tiga kali kalah pilpres

Pilpres 2019 merupakan kali ketiga bagi Prabowo menelan pil pahit. Sejak terjun dalam kontestasi politik tahun 2009 lalu, sepak terjangnya belum menuai hasil baik.

Berikut rangkuman jejak perjuangan politik Prabowo dalam pilpres yang pernah diikutinya:

1. Pilpres 2009

Kali pertama mengikuti kontestasi politik, Prabowo maju dari Partai Gerindra menjadi calon wakil presiden mendampingi Megawati Soekarnoputri pada Pilpres 2009.

Saat itu, pilpres diikuti tiga pasangan capres dan cawapres. Mereka adalah petahana Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono, Megawati-Prabowo, dan Jusuf Kalla-Wiranto.

Kendati diikuti tiga pasang, Pilpres 2009 hanya dilakukan satu putaran lantaran SBY-Boediono sukses meraih suara dominan yakni 73.874.562 atau 60,80 persen.

Sementara Megawati-Prabowo hanya beroleh suara 32.548.105 (26,79 persen), sedangkan Jusuf Kalla-Wiranto 15.081.814 suara (12,41 persen).

2. Pilpres 2014

Kekalahan pada Pilpres 2009 tak menyurutkan semangat Prabowo untuk meraih kursi RI 1. Dia kembali ikut bertarung pada Pilpres 2014.

Dalam pilpres kali ini, Prabowo maju sebagai seorang capres yang didampingi Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) saat itu, Hatta Rajasa.

Ada beberapa lembaga survei dalam quick count (hitung cepat) menyatakan Prabowo-Hatta memenangi pilpres tersebut. Menyikapi hal itu, Prabowo kemudian melakukan sujud syukur.

Fakta ternyata berkata lain, dari penghitungan suara riil yang dilakukan KPU menyatakan Jokowi-Jusuf Kalla yang meraih suara 70.997.833 (53,15 persen). Sedangkan, Prabowo-Hatta hanya meraih 62.576.444 suara (46,85 persen).

3. Pilpres 2019

Dua kali kalah dalam pilpres, tak membuat Prabowo patah arang. Lagi-lagi pada Pilpres 2019, dia kembali maju menjadi capres.

Sebelum pendaftaran ke KPU, proses pemilihan cawapres untuk mendampingi Prabowo diwarnai banyak desas-desus. Sempat tersiar kabar bahwa Prabowo akan menggandeng Agus Harimurti Yudhoyono hingga Ustaz Abdul Somad untuk mendampinginya.

Pada tenggat waktu terakhir sebelum pendaftaran ke KPU, ternyata Prabowo malah memilih Sandiaga Salahudin Uno, yang saat itu menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Prabowo kembali berhadapan dengan Jokowi pada Pilpres 2019 ini dan kembali menelan kekalahan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR