Jerman denda orang tua yang tidak memvaksin anak

Ilustrasi vaksinasi.
Ilustrasi vaksinasi. | Africa Studio /Shutterstock

Menteri Kesehatan Jerman, Jens Spahn mengusulkan denda bagi orang tua dari anak-anak usia sekolah yang belum divaksinasi campak. Pasalnya, kini muncul kekhawatiran, penyakit menular dan berpotensi mematikan ini bisa kembali lagi.

"Saya ingin membasmi campak. Siapapun yang hendak bersekolah harus divaksin campak. Orang tua yang tidak memvaksin anaknya akan berhadapan dengan denda hingga 2.500 Euro (sekitar Rp40 juta)," tandas Spahn.

Menteri juga mengusulkan agar anak-anak tanpa vaksinasi campak dilarang pergi ke fasilitas penitipan anak. Tujuannya, untuk melindungi anak yang masih sangat kecil, atau secara medis tidak bisa menerima imunisasi campak.

Prosedur medis wajib seperti vaksinasi adalah masalah sensitif secara politis di Jerman. Sampai kini belum ada kepastian apakah usulan Spahn, yang belum dibahas oleh Kabinet, akan dilaksanakan.

Tetapi ada kekhawatiran, penyakit yang pernah dianggap terkendali ini muncul kembali sebagai ancaman besar. Pasalnya, European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC) melaporkan, antara Maret 2018 hingga Februari 2019, ada 651 laporan kasus campak di Jerman.

Para ahli pun meminta vaksinasi ditingkatkan. Ketua Asosiasi Medis Jerman, Frank Ulrich Montgomery, menyambut baik usulan Spahn. Katanya, ini adalah "langkah penting pada waktu yang tepat."

Dalam 10 pekan pertama tahun 2019, ada 203 kasus campak yang dilaporkan di Jerman. Jumlah ini dua kali lipat lebih banyak dari periode yang sama tahun lalu, tetapi lebih sedikit dari tahun 2017.

Data ini berbeda dengan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyebutkan, jumlah kasus campak di Jerman per April 2019, sebanyak 155 kasus. Sejak tahun 2006, kasus campak paling banyak pada 2015 yakni 2.383 kasus.

Negara tetangga Jerman, Swiss, minggu lalu melaporkan dua kematian orang dewasa akibat campak. Satu orang laki-laki usia 30-an yang tidak divaksinasi, satu lainnya laki-laki usia 70-an yang sistem kekebalan tubuhnya terganggu akibat kanker.

Para ahli umumnya mengatakan, jika lebih dari 95 persen populasi diimunisasi dengan benar, campak tidak bisa menyebar dengan mudah dan tertahan secara efektif.

Tetapi anak-anak atau orang dewasa yang tidak divaksinasi bisa menimbulkan gejolak. Seperti yang baru-baru ini terjadi di Amerika Serikat.

Kasus campak di AS cenderung meningkat sejak tahun 2008 hingga April tahun 2019. Wabah belum bisa dihentikan di negeri Donald Trump ini.

Peningkatan signifikan terjadi tahun 2014 yani 71,9 persen atau 668 kasus dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara, per April 2019 terdapat 387 kasus.

Jerman bukan yang pertama mengusulkan denda bagi orang tua dari anak-anak yang tidak divaksinasi. Bulan lalu, New York menyatakan mereka yang tinggal di lingkungan di mana ada wabah dan yang belum menerima vaksinasi atau tidak memiliki bukti kekebalan, bisa didenda $1.000.

Menurut WHO, pada 2018 ada 82.596 kasus campak dan 72 kematian akibat campak di penjuru Eropa. Sebagian besar infeksi--53.218 kasus--tercatat di Ukraina, di mana konflik bersenjata dengan separatis mengganggu perawatan medis di wilayah timurnya.

Tujuan wisata populer Eropa seperti Italia, menurut ECDC, juga mencatat lebih dari 2.400 kasus campak dalam kurun Maret 2018 hingga Februari 2019. Di Yunani tercatat ada lebih dari 1.400 kasus campak, sementara Inggris melaporkan lebih dari 900 kasus dalam kurun waktu tersebut.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR