Jerome Powell, bankir andalan Trump untuk The Fed

Jerome Powell memberikan sambutan di Gedung Putih, Kamis (2/11/2017), usai dipilih oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai Gubernur Federal Reserve (The Fed) menggantikan Janet Yellen.
Jerome Powell memberikan sambutan di Gedung Putih, Kamis (2/11/2017), usai dipilih oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai Gubernur Federal Reserve (The Fed) menggantikan Janet Yellen. | Michael Reynolds /EPA

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald J Trump, telah menjatuhkan pilihannya. Jerome H Powell, seorang politisi Republik yang memiliki latar belakang panjang di sektor keuangan, ditunjuk sebagai Gubernur Bank Sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), Kamis (2/11/2017) atau Jumat (3/11/2017) waktu Indonesia.

Jika disetujui anggota dewan, maka Powell akan resmi menggantikan Janet Yellen yang masa jabatannya akan habis pada Februari 2018.

Trump menggambarkan sosok Powell (64) sebagai ekonom cerdas dan berkomitmen yang mampu melanjutkan kebijakan ekonomi AS setelah pemulihan krisis keuangan 2007-2009. Hal itu bisa dibuktikan melalui keterlibatannya dalam kebijakan moneter, pelonggaran mata uang, dan suku bunga serta upah minimum.

"Jika kita ingin terus menjaga pertumbuhan ekonomi, maka negara kita membutuhkan kebijakan moneter dan pengawasan yang ketat atas sistem perbankan kita. Oleh karenanya, kita membutuhkan kepemimpinan yang tegas," sebut Trump dalam Forbes, Jumat (3/11/2017).

Powell bukan orang baru di The Fed. Sejak 2012, Powell sudah menjabat sebagai salah satu anggota Dewan Komite The Fed setelah ditunjuk langsung Presiden Barack Obama. Sepanjang perjalanan kariernya, Powell lebih banyak menghabiskan waktu sebagai bankir investasi dan bursa saham.

Meski begitu mahir di bidang ekonomi, Powell adalah sarjana politik dari Princeton University pada 1975. Powell kemudian melanjutkan pendidikannya di bidang hukum pada 1979 di Georgetown University.

Karier pertama Powell adalah pengacara di New York City. Powell pertama kali bekerja sebagai bankir investasi adalah saat bergabung dengan Dillon Reed & Co. Kepintarannya di banyak bidang membuatnya mudah melenggang masuk ke Gedung Putih.

Karier pertamanya di Gedung Putih adalah sebagai Asisten Sekretaris Menteri Keuangan pada masa pemerintahan Presiden George H. W. Bush.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa siapapun yang terpilih sebagai Gubernur The Fed pasti memiliki latar belakang sebagai ekonom. Janet Yellen adalah seorang profesor ekonomi di U.C Berkeley, Ben Bernanke memimpin Departemen Ekonomi di Princeton, dan Alan Greenspan adalah seorang konsultan ekonomi.

Tak ayal, terpilihnya Powell menjadi tanda tanya banyak pihak. "Aku tak berbicara atas nama Presiden, tapi aku menduga, latar belakang Powell di sektor swasta yang membuat dirinya begitu atraktif di mata Trump," sebut Steve Wood, Kepala Strategis di Russell Investment.

Selain itu, Powell juga memiliki banyak kesamaan dengan Yellen yang cenderung berhati-hati dalam mengeluarkan kebijakan moneter yang moderat untuk regulasi perbankan dan tidak akan mengeluarkan kebijakan moneter yang terlalu mengagetkan pasar.

"Dia tak pernah berada di posisi yang ekstrem," sebut mantan rekan kerja Powell di Bipartisan Policy Center, Steve Bell, dalam Reuters.

Pesona Powell ternyata tak hanya menarik perhatian Trump. Gubernur Bank Indonesia, Agus DW Martowardojo, turut menyambut baik penunjukkan Powell sebagai Gubernur The Fed terbaru.

Agus, dalam Kompas.com mengatakan, The Fed selama ini dianggap berhasil mengkomunikasikan kebijakan-kebijakannya yang diambil. Sosok Powell, yang dianggap mirip dengan Yellen, diyakini dapat melanjutkan keberhasilan itu.

"Di bawah kepemimpinan Yellen, kebijakan-kebijakan The Fed selalu berkesinambungan. Ini akan baik untuk ekonomi AS maupun dunia," sebutnya.

Rupiah pun ditutup menguat 0,21 persen atau 28 poin di posisi 13.552 per dolar AS, setelah dibuka dengan apresiasi 0,06 persen atau 8 poin di level 13.572. Pada perdagangan sebelumnya, rupiah ditutup melemah 0,13 persen atau 17 poin di posisi 13.580.

Kecenderungan Trump menggeser Yellen sudah tampak sejak masa kampanye tahun 2016 lalu. Trump beranggapan, kebijakan The Fed untuk mempertahankan suku bunga tetap rendah sebagai langkah politis yang sengaja dipakai untuk memenangkan kampanye Obama untuk Hillary Clinton

Trump menyebut kebijakan The Fed tersebut menimbulkan "kekeliruan ekonomi".

Pada November 2016, ia bahkan sempat mengancam untuk mencopot Yellen dan menggantikannya dengan politisi dari partai Republik jika tidak segera menaikkan suku bunga. Pernyataan Trump tersebut menuai kontroversi lantaran dinilai mengancam independensi bank sentral.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR