SUBSIDI BBM

Jika subsidi dipangkas, harga solar tahun depan bisa naik

Penguna traktor mengisi  solar saat aksi protes dihentikannya layanan penjualan solar di SPBU Karangduren, Sawit, Boyolali, Jawa Tengah, Senin (28/1/2019).
Penguna traktor mengisi solar saat aksi protes dihentikannya layanan penjualan solar di SPBU Karangduren, Sawit, Boyolali, Jawa Tengah, Senin (28/1/2019). | Aloysius Jarot Nugroho /Antara Foto

Harga solar bersubsidi tahun depan diperkirakan bisa naik. Sebab, pemerintah dan DPR berencana mengurangi subsidi solar dari Rp2.000 per liter menjadi Rp1.000 per liternya.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan, saat rapat dengan Badan Anggaran DPR, Senin (15/7/2019) menjelaskan, pemerintah telah mengajukan subsidi sebesar Rp1.500 per liter. Namun Badan Anggaran menyepakati subsidi sebesar Rp1.000 untuk RAPBN 2020.

"Ini kalau sampai digetok (diputuskan) tentunya mungkin kami akan lihat apakah perlu ada penyesuaian (harga) eceran di 2020. Harga eceran Rp5.150 per liter sekarang," kata Jonan di Gedung DPR, Jakarta, Senin (15/7/2019) seperti dinukil dari financedetik.

Saat ini, dengan subsidi Rp2.000 per liter, harga solar eceran mencapai Rp5.150 per liter. Jika harga solar disesuaikan, maka harganya bisa naik atau turun mengikuti harga keekonomiannya.

PT Pertamina (Persero) akan membicarakan lebih lanjut dengan pemerintah soal alokasi subsidi solar ini. Direktur Keuangan Pertamina Pahala Mansury mengatakan, ‎penetapan subsidi solar Rp1.000 per liter perlu ditinjau.

Pasalnya, dengan subsidi solar yang ditetapkan Rp2.000 per liter, harga jual solar subsidi ke masyarakat Rp5.150 per liter masih lebih rendah dibanding formula yang dikeluarkan pemerintah.

"Kami akan lihat harga jual eceran dibandingkan formula untuk solar itu. Sebetulnya, kami masih menjual di bawah harga formula‎," kata Pahala, di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (18/7/2019) seperti dipetik dari Katadata.co.id.

Subsidi BBM tahun ini diperkirakan akan membengkak. Jumlah subsidi solar dalam APBN 2019 dipatok sebesar Rp33,55 triliun. Hingga kuartal I 2019 realisasi subsidi yang sudah dipakai mencapai Rp13,56 triliun.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF), Kementerian Keuangan, Suahasil Nazara pada rapat bersama DPR bulan lalu menjelaskan, pada Januari-April, alias sepertiga tahun, konsumsi solar sudah mencapai 5,1 juta kiloliter. Dengan asumsi ini, maka total konsumsi solar setahun bisa mencapai 15,3 juta kiloliter. Padahal, pemerintah hanya menganggarkan konsumsi solar bersubsidi dalam APBN hanya 14,5 juta kiloliter.

Untuk pasokan solar tahun depan, Jonan mengusulkan ditambah menjadi 15,58 juta kiloliter. Sebab, dengan sudah adanya Tol Trans Jawa, konsumsi solar diprediksi akan naik tahun depan dengan banyaknya orang yang lewat jalur darat.

"Dengan adanya jalan Tol Trans Jawa, kami berasumsi kenaikan penggunaan solar. Walau enggak banyak pasti ada kenaikan. Dan juga, karena tiket pesawat tinggi, jadi orang naik kendaraan darat," kata Jonan saat rapat dengan Komisi Energi DPR RI, Jakarta, Kamis (20/6/2019) seperti dikutip dari Kumparan.com.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR