KESEHATAN MENTAL

Joker, usaha sendiri, dan gangguan jiwa

Gejala gangguan jiwa menurut status pekerjaan 2018.
Gejala gangguan jiwa menurut status pekerjaan 2018. | Lokadata /Lokadata

JOKER | Hari Kesehatan Jiwa Sedunia atau World Mental Health Day pada hari ini, Kamis (10/10/2019) beriringan dengan hebohnya film Joker. Banyak yang mengaitkan orang dengan gangguan jiwa dan penyandang disabilitas mental dengan karakter fiksi Joker.

Joker sempat menjadi ilustrasi unggahan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan di media sosial pada 8 Oktober lalu. Unggahan itu mengundang protes dan BPJS pun meminta maaf lalu menghapusnya.

Kisah Joker seperti menggugah lagi kesadaran publik terhadap kesehatan jiwa dan mental. Gangguan kesehatan jiwa bisa terjadi terhadap siapa saja dengan beragam status dan pekerjaan.

Berdasarkan data BPS yang diolah Lokadata, status pekerjaan "berusaha sendiri" termasuk paling rawan mengalami gejala gangguan jiwa. Berwiraswasta bisa menjadi kesempatan menarik, tetapi tingkat stresnya juga tinggi sehingga memicu gejala gangguan jiwa.

Ada sekitar 573 ribu orang mengalami gejala gangguan jiwa dengan status pekerjaan "berusaha sendiri". Kalau digabung dengan status pekerjaan "berusaha dibantu buruh tetap" dan "berusaha dibantu buruh tetap tidak tetap", jumlahnya menjadi 909 ribu orang dengan persentase 1,9 persen.

Gejala gangguan jiwa --mengacu pada konsep dan definisi Susenas-- merupakan orang yang kadang-kadang mengalami kesulitan dalam mengendalikan perilaku maupun emosinya. Orang yang mengalami gejala ini lebih sering bisa diajak berinteraksi.

Sementara status pekerjaan berusaha sendiri dan berusaha dibantu buruh rentangnya sangat luas. Singkatnya, mereka tidak memiliki bos. Contohnya, dokter/bidan/dukun bersalin yang buka praktik sendiri, pedagang keliling, pemilik toko, pengusaha pabrik, dan lain-lain.

Persentase terkecil penduduk dengan gejala gangguan jiwa adalah buruh/karyawan/pegawai (1,1 persen). Meskipun persentasenya kecil, jumlah pegawai yang mengalami gejala gangguan jiwa mencapai 565 ribu orang karena mayoritas penduduk Indonesia adalah buruh/karyawan/pegawai (52,2 juta orang) pada 2018.

Gejala gangguan jiwa berdasarkan sektor 2018
Gejala gangguan jiwa berdasarkan sektor 2018 | Lokadata /Lokadata

Gejala gangguan jiwa pun bisa menyebar ke berbagai sektor. Orang yang bekerja di sektor kehutanan dan pertanian lain termasuk paling rawan (2,8 persen) mengalami gejala gangguan jiwa.

Sektor lain yang terbilang rawan mengalami gejala gangguan jiwa adalah real estate/lahan yasan (2,3 persen), peternakan (2,1 persen), perkebunan (2 persen), dan perikanan (1,9 persen).

Sektor yang paling kecil mengalami gejala gangguan kejiwaan adalah aktivitas profesional, ilmiah, dan teknis; aktivitas keuangan dan asuransi, dan aktivitas badan internasional dan badan ekstra internasional lainnya.

Pekerjaan dengan beragam sektor dan statusnya memang bisa menjadi sebab munculnya gejala gangguan jiwa.

Dilansir Suara.com, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza, Dr. dr. Fidiansjah, Sp.KJ, MPH, mengatakan, tempat kerja merupakan faktor yang meningkatkan risiko gangguan kesehatan pada pekerjanya.

Gangguan jiwa terkait pekerjaan bisa disebabkan lingkungan pekerjaan, risiko penularan virus dan bakteri, dan beban pekerjaan yang melebihi kemampuan. Gangguan jiwa pun bisa dipicu hubungan antar karyawan dan atasan, lokasi kerja dari tempat tinggal hingga adanya kasus kekerasan maupun pelecehan di tempat kerja.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR