PERTUMBUHAN EKONOMI

Jokowi optimistis Indonesia masuk 4 besar ekonomi terkuat dunia

Foto Ilustrasi. Presiden Joko Widodo meninjau pembangunan Bendungan Ciawi di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (26/12/2018).
Foto Ilustrasi. Presiden Joko Widodo meninjau pembangunan Bendungan Ciawi di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (26/12/2018). | Wahyu Putro A /Antara Foto

Presiden Joko "Jokowi" Widodo optimistis Indonesia akan masuk ke dalam 5 besar atau bahkan 4 besar ekonomi terkuat dunia pada tahun 2045.

Hal itu diungkapkan Jokowi saat memberikan sambutan pada Pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) Tahun 2019, di Kota BNI, Jakarta Pusat, Kamis (9/5/2019) pagi, di hadapan sejumlah jurnalis, termasuk Ronna Nirmala dari Beritagar.id.

Namun, sebut Jokowi, untuk masuk 4 besar tidak mudah. Banyak tantangan yang harus dihadapi dan tentunya harus diselesaikan.

Optimisme Jokowi bukan hanya isapan jempol. Menilik proyeksi Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2018, Indonesia menempati urutan kelima sebagai negara dengan ekonomi terkuat pada tahun 2024.

Proyeksi tersebut menggunakan Purchasing Power Parity (PPP) atau kemampuan keseimbangan daya beli yang dihitung oleh Bank Dunia. Pada 2024 nanti, Indonesia mampu menyumbang PDB (PPP) sebesar 2,856 persen ke PDB dunia atau mengalahkan negara seperti Jerman, Brasil, Inggris, Turki, dan Arab Saudi.

Sementara, Tiongkok menduduki posisi pertama dengan PDB (PPP) sebesar 21,391 persen dan Amerika Serikat (AS) di posisi kedua (13,708 persen).

Namun, Jokowi mengingatkan, banyak negara-negara yang terjebak dalam middle income trap/negara dengan pendapatan menengah berada dalam situasi itu lantaran tidak bisa menyelesaikan persoalan-persoalan besar yang ada di negaranya.

"Kita harus bisa menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada, yang akan dihadapi menuju 2045, 100 tahun Indonesia merdeka," tegasnya.

Dia menguraikan, persoalan itu yang pertama adalah infrastruktur. Menurutnya, pemerataan infrastruktur mesti bisa diselesaikan. "Tanpa ini jangan berpikir kita masuk kelima, keempat ekonomi terkuat dunia," tukasnya.

Sejumlah lembaga keuangan memproyeksi pertumbuhan ekonomi dunia 2019 menurun dari tahun sebelumnya, sementara Indonesia diproyeksikan meningkat.

Lembaga keuangan Fitch Rating dan Moodys Investor memprediksi pertumbuhan ekonomi dunia paling rendah di antara enam lembaga keuangan, yakni masing-masing 2,8 persen dan 2,9 persen.

Berbeda dengan lima lembaga lain, Moodys dan S&P memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih rendah dari 2018, masing-masing 4,8 persen dan 5 persen.

Untuk mendukung pertumbuhan ekonomi; Jokowi meminta kepada gubernur, bupati, wali kota untuk menyambungkan titik produksi di daerah masing-masing dengan infrastruktur jalan, jalan tol, pelabuhan, dan bandara saat sudah selesai dibangun.

"Sambungkan dengan kawasan industri, sambungkan dengan kawasan-kawasan wisata, sambungkan dengan sentra-sentra industri kecil, sambungkan dengan pusat-pusat produksi baik pertanian maupun perkebunan. Itu tugasnya daerah," imbaunya.

Yang kedua, sebut Jokowi, reformasi struktural. Reformasi birokrasi menurutnya harus betul-betul dijalankan. Kelembagaan harus disederhanakan, begitu juga urusan-urusan perizinan semua dari pusat sampai ke daerah harus berani dipotong.

"Tanpa itu jangan juga bermimpi menjadi empat besar, lima besar ekonomi terkuat dunia," tegasnya.

Masuk negara G20

Jokowi menyebutkan perekonomian Indonesia sepanjang 2018 tumbuh 5,17 persen, sebuah angka yang lumayan mengejutkan. Angka ini naik secara year on year jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi pada 2017, 5,07 persen.

Angka itu adalah pencapaian tertinggi yang pernah dicatat Indonesia selama masa pemerintahan Presiden Jokowi-Jusuf Kalla. Namun, ia tidak memenuhi target pertumbuhan 7 persen yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) 2015-2019.

"Kita ini sudah masuk ke dalam kelompok negara G20. Produk Domestik Bruto (PDB) kita juga sudah lebih dari AS $1 triliun, lantas inflasi 3,13 juga rendah. Ini patut kita syukuri," sambung Jokowi.

G20 adalah kelompok negara yang mewakili 90 persen PDB dunia, 80 persen perdagangan global, dan memiliki 2/3 populasi dunia. Di dalamnya antara lain terdapat AS, Jepang, Jerman, Prancis, Tiongkok, dan India.

PDB Indonesia kini mencapai Rp14.837,4 triliun dengan rata-rata pendapatan per kapita penduduk sebesar $3.927 AS atau Rp56 juta. Bila merujuk pada standar Bank Dunia, artinya Indonesia sudah masuk kelas negara berpenghasilan menengah ke atas.

Indonesia merupakan satu dari sekian banyak negara dengan pertumbuhan ekonomi terbesar di antara negara-negara anggota G20. Tahun lalu, PDB Indonesia mencapai 5,18 persen yang mengungguli Korea Selatan, AS, Singapura hingga Uni Eropa.

Bahkan, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mematok asumsi pertumbuhan ekonomi pada tahun tersebut berada pada kisaran 5,3-5,6 persen.

Inflasi bakal tetap dijaga pada rentang 2-4 persen, suku bunga antara 5-5,3 persen, dan harga minyak dunia berkisar $60-70 per barel.

"Dari sisi nilai tukar masih bervariasi, karena tahun ini kita pakai Rp15.000, tapi sekarang sudah (turun) Rp14.000, jadi kita akan menggunakan range yang masih lebar,” ungkap Sri Mulyani usai mengikuti Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Selasa (23/4).

Pertumbuhan konsumsi, sebut Sri Mulyani, dipatok sekitar 5,2 persen, kemudian investasi diharapkan tumbuh mendekati 7,5 persen begitu juga dengan ekspornya. Sementara, impor akan tetap dijaga pada kisaran 6 persen. Lalu produktivitas manufaktur bakal digenjot lebih tinggi dari 4-5 persen.

Program pengembangan sumber daya manusia (SDM) bakal menjadi prioritas serta pijakan utama dalam menyusun kebijakan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR