PENCEMARAN LINGKUNGAN

Jokowi tarik sungai Citarum ke pusat

Bupati Bandung, Dadang Naser, mengikuti acara penghijauan di hulu sungai Citarum, Bandung, Jawa Barat, 3 Desember 2017.
Bupati Bandung, Dadang Naser, mengikuti acara penghijauan di hulu sungai Citarum, Bandung, Jawa Barat, 3 Desember 2017. | Raisan Al Farisi /Antara Foto

Tahukah Anda bahwa sungai Citarum adalah salah satu sungai dengan tingkat pencemaran paling parah di dunia? Sungai sepanjang 300 km ini bermula dari lereng Gunung Wayang di Bandung tenggara dan berakhir di Laut Jawa melalui Karawang, seluruhnya di Jabar.

Sungai terpanjang di Jawa setelah Bengawan Solo dan Brantas ini melewati delapan kabupaten dan tiga kotamadya. Lantas sekitar 500 pabrik berdiri di pinggir alirannya, dan ada tiga waduk.

Namun sungai yang seharusnya menjadi tulang punggung jutaan masyarakat ini justru lebih banyak sisi buruknya. Pada musim penghujan, sebagian kawasan sekitarnya banjir --misalnya di Kabupaten Bandung.

80 persen pabrik di sekitar Citarum, menurut Greenpeace, membuang limbahnya ke Citarum. Pada 2009, Bank Pembangunan Asia (ADB) pun menyebut Citarum adalah sungai paling kotor di dunia (h/t VoA).

Melihat kondisi sungai Citarum yang dipenuhi racun, Presiden Joko "Jokowi" Widodo pun menegaskan bakal merevitalisasinya pada awal 2018. Hal itu disampaikan Jokowi ketika memberi sambutan dalam peringatan HUT Angkatan Muda Siliwangi di Bandung, Kamis (28/12/2017).

Jokowi menjanjikan pembenahan total sampai selesai dalam bentuk reviltalisasi lahan, termasuk anak sungai, dan penanganan limbah pabrik. Jokowi ingin air baku Citarum bisa dinikmati lagi untuk kehidupan masyarakat.

Air baku Citarum berguna bagi warga Bandung dan Jakarta, serta untuk pertanian di daerah hulu hingga hilir. "Pertengahan Januari 2018 akan kita (pusat) mulai dari hulu ke hilir perbaikan," kata Jokowi dikutip detikcom.

Soal limbah pabrik, dalam iNews, Jokowi mengatakan "...akan direhabilitasi di pabrik." Artinya, pemerintah pusat akan mewajibkan pabrik di sepanjang aliran Citarum untuk menyediakan pengolahan limbah mandiri.

Mongabay menulis Citarum sudah beberapa kali masuk program skala besar pemerintah daerah atau pusat dengan dana tidak kecil. Antara lain ada Program Kali Bersih (Prokasih), Program Integrated Citarum Water Resources Management Investment Program (ICWRMIP) dan Program Citarum Bersih, Sehat, Indah, dan Lestari (Bestari) yang diiniasi Pemprov Jawa Barat pada 2014.

Pada 2011, demikian Pikiran Rakyat, revitalisasi sungai Citarum disebut Menteri Pekerjaan Umum kala itu --Djoko Kirmanto-- membutuhkan dana Rp35 triliun dan waktu 15 tahun.

Namun segala revitalisasi itu tak pernah memberi hasil signifikan. Sejumlah pihak menyebutnya masih parsial, belum terintegrasi. PT Kahatex yang terletak di tepi aliran Citarum, misalnya, mengaku tak pernah mendapat kejelasan mekanisme dalam program revitalisasi pemerintah.

"Termasuk grand desain programnya yang belum terlihat rinci kepada kami," kata Kepala Bagian Umum PT. Kahatex, Ruddy.

Keputusan Jokowi untuk menarik revitalisasi Citarum ke dalam lima proyek besar pemerintah pusat di Jabar pun membuat senang Gubernur Jabar Ahmad Heryawan (Aher). Kebetulan Jabar juga punya program Eco Village yang mengedukasi warga sekitar sungai Citarum untuk bersahabat dengan alam dan merawat sungai.

Aher menjelaskan manajemen pengelolaan lingkungan hidup di Jabar tak lepas dari struktural, nonstruktural, dan respon kultural.

"Dalam konteks Citarum, kami lakukan gerakan Lima Tidak. Di hulu Tidak Menebang Pohon, ke hilirnya nanti Tidak Membuang Limbah Ternak, Tidak Membuang Limbah Rumah Tangga, Tidak Membuang Limbah Industri, dan pastinya Tidak Membuang Sampah ke Sungai," kata Aher dalam berbagai kesempatan.

Adapun empat proyek besar pemerintah pusat di Jabar selain Citarum adalah Bandara Internasional Kertajati di Majalengka, jalan tol Bogor-Cianjur-Sukabumi, Bandara Tasikmalaya, jalur rel double track kereta api Bogor-Bandung, dan Bandara Sukabumi.

BACA JUGA