Joya, First Travel, Njonja Meneer, hingga Jokowi yang dituding antikritik

Gabungan foto berita menarik sepekan, 12-19 Agustus 2017
Gabungan foto berita menarik sepekan, 12-19 Agustus 2017
© Antara Foto

Pekan kedua Agustus ini, sejumlah berita menarik merupakan peristiwa yang terus menggelinding pada pekan sebelumnya. Di Bekasi, misalnya, kasus pengeroyokan dan pembakaran Muhammad Al-Zahra hingga tewas masih tetap menjadi sorotan. Polisi menangkap sejumlah pelakunya.

Kontroversi patung di Tuban juga terus menjadi sorotan dalam pekan ini. Ada juga perkembangan biro perjalanan First Travel yang telah bergulir sejak Juli lalu.

Di Senayan, panitia khusus hak angket Komisi Pemberantasan Korupsi masih melanjutkan manuvernya. Mereka seakan memiliki peluru baru lewat isu rumah sekap.

Sementara di istana, aneka tudingan tak pernah sepi dari Presiden Joko Widodo. Belakangan, presiden ketujuh RI itu disebut menunjukkan gejala anti-kritik.

Berita tak kalah menarik muncul dari industri jamu ketika pengadilan menyatakan Njonja Meneer pailit. Belakangan, pengusaha dan mantan Menteri Perdagangan Rachmat Gobel dikabarkan akan menyelamatkan Njonja Meneer.

Berikut ringkasan berita menarik sepekan terakhir, 5-12 Agustus 2017:

Siti Zubaedah (tengah) istri dari Muhammad Alzahra yang menjadi korban main hakim sendiri, menunjukkan surat kuasa hukum didampingi kuasa hukumnya dari Lembaga Konsultan Bantuan Hukum ICMI Bekasi, di kediamannya di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Senin (7/8/2017).
Siti Zubaedah (tengah) istri dari Muhammad Alzahra yang menjadi korban main hakim sendiri, menunjukkan surat kuasa hukum didampingi kuasa hukumnya dari Lembaga Konsultan Bantuan Hukum ICMI Bekasi, di kediamannya di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Senin (7/8/2017).
© Risky Andrianto /Antara Foto

Kasus pengeroyokan Joya di Bekasi

Kepolisian bergerak cepat dengan menetapkan dua orang tersangka dalam kasus pengeroyokan kepada Muhammad Al-Zahra (30), pria yang dituding mencuri alat pengeras suara di Musala Al-Hidayah, Babelan, Kabupaten Bekasi, Senin (7/8/2017). Polisi pun menangkap tersangka utama pada Selasa (8/8/2017) malam di lokasi persembunyiannya di Pandeglang, Banten.

Joya adalah warga Kampung Jati, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, yang tewas setelah dikeroyok dan dibakar hidup-hidup oleh massa karena dituduh mencuri alat pengeras suara milik Musala Al-Hidayah yang berjarak 34 kilometer dari rumahnya.

Kejadian berawal saat seorang warga melihat alat pengeras suara di tempat ibadah itu raib sesaat setelah Joya melaksanakan salat Asar. Joya yang kemudian melaju motornya meninggalkan musala, langsung diteriaki warga.

Terlepas dari benar atau tidaknya Joya mencuri pengeras suara, banyak pihak tetap menyesalkan perilaku massa yang bermain hakim sendiri ini.

Keprihatinan semakin mengalir deras ketika mendapati fakta bahwa Joya meninggalkan seorang anak berusia empat tahun dan istri yang tengah enam bulan mengandung anak kedua mereka.

Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemkab Tuban, Jawa Timur, dengan menggunakan alat berat "crane" menutup patung Dewa Perang Kongco Kwan Sing Tee Koen dengan kain putih di Kelenteng Kwan Swie Bio, Minggu (6/8/2017).
Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemkab Tuban, Jawa Timur, dengan menggunakan alat berat "crane" menutup patung Dewa Perang Kongco Kwan Sing Tee Koen dengan kain putih di Kelenteng Kwan Swie Bio, Minggu (6/8/2017).
© Aguk Sudarmojo /Antara Foto

Kontroversi Patung di Tuban

Nama kota Tuban di Jawa Timur semestinya bisa mencuat, setidaknya dalam konteks regional Asia Tenggara. Maklum di kota itu kini berdiri patung raksasa setinggi 30,4 meter.

Patung itu menampilkan sosok Kwan Sing Tee Koen, sosok yang disebut dewa perang Tiongkok nan setia dan jujur. Patung itu dibuat setinggi 30,4 meter dan terletak di area di Kelenteng Kwan Sing Bio.

Museum Rekor Indonesia (MURI) pun memberi penghargaan pada patung yang dibangun dengan dana total Rp2,5 miliar. Ini adalah patung tertinggi dan terbesar di Asia Tenggara.

Menurut sang pemilik kelenteng, Alim Sugiantoro, pembangunan patung juga menggunakan momentum usia mendiang Kwan Sing Tee Koen ke-1.857 tahun. Sementara soal biaya datang dari seorang asal Surabaya yang menjadi jemaat kelenteng sejak 1970.

Sejak diresmikan Ketua MPR Zulkifli Hasan pada 17 Juli lalu, patung Kwan Sin Tee Koen dipuji sekaligus ditentang.

Protes keras datang dari sebagian warganet di Twitter. Mereka rerata mempertanyakan untuk apa patung sebesar itu dan berlatar dewa perang Tiongkok dibangun di Tuban.

Sementara kalangan pro menilai pendirian patung itu tidak ada masalah. Bahkan patung itu juga bukan dimaksud sebagai identitas kota Tuban.

Presiden Joko Widodo membaca berkas sebelum memimpin rapat tentang evaluasi Tingkat Komponen Dalam Negeri di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (1/8/2017).
Presiden Joko Widodo membaca berkas sebelum memimpin rapat tentang evaluasi Tingkat Komponen Dalam Negeri di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (1/8/2017).
© Puspa Perwitasari /Antara Foto

Jokowi dinilai mulai antikritik

Aneka tudingan tak pernah sepi dari Presiden Joko "Jokowi" Widodo. Belakangan, presiden ketujuh RI itu disebut menunjukkan gejala anti-kritik.

Hal tersebut disampaikan pengamat politik dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno, kepada CNN Indonesia, Senin (7/8/2017). Pemerintahan Jokowi dinilai memperlihatkan sikap represif terhadap peredaran kabar bohong dan ujaran kebencian yang marak di media sosial.

Bentuk represif itu bisa dilihat pada kasus terbaru ketika Bareskrim Polri menangkap Sri Rahayu Ningsih (32) di Cianjur, Jawa Barat, pada Sabtu (5/8) dini hari WIB. Sri ditangkap karena menyebarkan konten bernada SARA melalui akun Facebook.

Bagaimana Jokowi menanggapi tudingan itu? Simak beritanya di sini.

Tim Kurator PT Perindustrian Njonja Meneer yang ditunjuk Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Semarang menyegel pabrik jamu milik PT Njonja Meneer di Jalan Raya Kaligawe, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (8/8/2017).
Tim Kurator PT Perindustrian Njonja Meneer yang ditunjuk Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Semarang menyegel pabrik jamu milik PT Njonja Meneer di Jalan Raya Kaligawe, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (8/8/2017).
© Aji Styawan /Antara Foto

Polemik bisnis keluarga di tubuh Njonja Meneer

Spanduk kuning berukuran besar terpasang di pagar pabrik PT Njonja Meneer di Jalan Raya Kaligawe, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (8/8/2017).

Dalam foto spanduk yang dibagikan pewarta ANTARAFOTO itu dituliskan keterangan "Pengumuman: Obyek Ini Dalam Sita Umum". Selain pengumuman, spanduk juga berisikan uraian status hukum produsen jamu yang telah dikeluarkan Pengadilan Negeri Semarang tertanggal 3 Agustus 2017.

"Maka seluruh harta PT Perindustrian Njonja Meneer berada di dalam sita umum serta dalam penguasaan kurator," bunyi pengumuman spanduk yang dikutip dari Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.

Pabrik jamu yang populer dengan merek Njonja Meneer itu dipailitkan setelah gagal membayar utang Rp7,04 miliar kepada kreditornya. Selain kewajiban kepada kreditor, perusahaan yang sudah berdiri sejak 1919 ini juga masih memiliki kewajiban melunasi utang kepada karyawannya dengan nilai mencapai Rp10 miliar.

Selalu ada harapan di tengah keterpurukan. Kalimat tadi boleh disematkan pada kisah penyelamatan perusahaan jamu Njonja Meneer dari kepailitan oleh pengusaha yang juga mantan Menteri Perdagangan, Rachmat Gobel.

Warga antre untuk mengurus pengembalian dana atau "refund" terkait permasalahan umroh promo di Kantor First Travel, Jakarta Selatan, Rabu (26/7/2017).
Warga antre untuk mengurus pengembalian dana atau "refund" terkait permasalahan umroh promo di Kantor First Travel, Jakarta Selatan, Rabu (26/7/2017).
© Sigid Kurniawan /Antara Foto

Kisah bos Travel First yang tersandung kesuksesannya sendiri

First Travel, yang juga menyediakan jasa pelesiran, berada di bawah manajemen PT First Travel Anugerah Karya Wisata. Mereka adalah satu di antara 11 layanan investasi yang ditengarai ilegal oleh Satgas Waspada Investasi OJK.

Bahkan pada First Travel, OJK menemukan fakta skema Ponzi atau investasi bodong dengan iming-iming laba tinggi. Dalam kasus ini adalah pergi umrah dengan harga murah.

Belakangan setelah dibekukan, para calon jemaah First Travel terkejut dan bahkan sadar. Sebagian meminta kepastian diberangkatkan ke Tanah Suci dan sebagian lain meminta uangnya kembali (refund). Ada pula yang meminta opsi; berangkat atau uang kembali. Siapa di balik biro perjalanan ini? Dia adalah Andika Surachman.

Andika menggadaikan motornya dengan harga Rp2 juta. Uang tersebut kemudian digunakannya untuk menyewa toko kecil di pinggir jalan kawasan Cimanggis, Depok. Barang yang dijualnya beragam, dari mulai pulsa, makanan, seprai, hingga cetak foto.

Hingga akhirnya pada 2009, Andika mencoba membuka bisnis agen perjalanan. Dengan menggunakan izin CV, Andika dan istrinya Anniesa Desvitasari Hasibuan membuka travel pertamanya dengan nama First Karya Utama.

Hingga akhirnya kisah sukses keduanya harus tersandung oleh bisnis mereka sendiri. Dua bos ini diamankan penyidik Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Rabu (9/8/2017).

Ketua Pansus Angket KPK Agun Gunanjar (kiri) didampingi Wakil Ketua Pansus Taufiqulhadi (kedua kiri) dan Masinton Pasaribu (ketiga kiri) berjabat tangan dengan Mantan Wakil Direktur Keuangan Permai Group yang juga mantan anak buah Nazarudin, Yulianis (kanan), sebelum rapat dengar pendapat umum (RDPU) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (24/7).
Ketua Pansus Angket KPK Agun Gunanjar (kiri) didampingi Wakil Ketua Pansus Taufiqulhadi (kedua kiri) dan Masinton Pasaribu (ketiga kiri) berjabat tangan dengan Mantan Wakil Direktur Keuangan Permai Group yang juga mantan anak buah Nazarudin, Yulianis (kanan), sebelum rapat dengar pendapat umum (RDPU) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (24/7).
© M Agung Rajasa /Antara Foto

Rumah sekap jadi peluru baru Pansus Hak Angket KPK

Panitia Khusus Hak Angket Komisi Pemberantasan Korupsi sepertinya tak pernah berhenti mencari celah menyasar lembaga antirasuah itu. Panitia yang disebut-sebut sebagai upaya sejumlah anggota DPR untuk melemahkan KPK ini sekarang menggunakan peluru berupa rumah sekap.

Panitia Khusus Hak Angket KPK pun berencana mengunjungi rumah sekap yang disebut Niko. Ketua Pansus Angket KPK Agun Gunandjar mengatakan, rencana kunjungan ini sudah menjadi kesepakatan internal setelah pemanggilan Niko. Kunjungan ini disebut tinggal menunggu restu dari kepolisian.

Rumah sekap yang dimaksud anggota DPR itu adalah rumah aman alias safehouse yang biasanya dipakai untuk melindungi saksi. "Sayang sekali ada yang tidak bisa membedakan antara safe house untuk kebutuhan perlindungan saksi, dengan rumah sekap," ujar Juru bicara KPK, Febri Diansyah.

Wakil Ketua KPK Laode M Syarif mempersilakan Pansus meninjau sejumlah lokasi yang disebut Niko. "Silakan mereka lihat karena tidak ada yang disembunyikan agar tidak ada lagi yang bilang rumah sekap," ujar Syarif.

Ikuti perkembangan berita pansus dan kasus e-ktp di beritagar.id.

x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.