PENDIDIKAN TINGGI

Jumlah siswa yang lolos SNMPTN berkurang 16 persen

Ilustrasi peserta ujian.
Ilustrasi peserta ujian. | panitanphoto /Shutterstock

Hasil Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2019 telah diumumkan pada Jumat (22/3) pukul 13.00 WIB. Sebanyak 92.331 peserta dinyatakan lolos. Jumlah tersebut turun 16,77 persen dibandingkan tahun sebelumnya, yang mencapai 110.496 orang.

Akan tetapi, jika melihat perbandingan antara jumlah pendaftar dengan peserta yang lolos, terjadi peningkatan. Persentase kelulusan SNMPTN 2019, yang diikuti 478.608 peserta, adalah 19,29 persen. Sementara tahun lalu, yang diikuti 586.155 orang, mencapai 18,85 persen.

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir, dalam konferensi pers pengumuman hasil SNMPTN di Jakarta, Jumat (22/3), menjelaskan jumlah siswa yang lolos turun karena jumlah peserta juga berkurang. Ada dua hal, menurut Nasir, yang kemungkinan jadi penyebab berkurangnya jumlah peserta.

Pertama, jumlah peserta yang menurun karena syarat mendaftar dibatasi oleh akreditasi asal sekolah peserta. Tahun ini, 40 persen berasal dari sekolah berakreditasi A, 25 persen B, dan 5 persen dari sekolah dengan akreditasi C atau yang belum terakreditasi.

Selain itu, Kemenristekdikti juga melakukan sistem "kunci". Mereka melarang peserta yang telah lolos SNMPTN untuk mengikuti Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).

"Yang daftar di SNMPTN kemudian diterima, setelah diterima dia mendaftar di SMBPTN, akhirnya kursinya kosong. Akhirnya kami kunci yang sudah diterima di SNMTPN, tidak bisa mendaftar SMBPTN," kata Nasir, dikutip detikcom.

Sistem "kunci" tersebut akan membuat siswa berpikir ulang untuk mendaftar karena mereka sulit untuk berubah pikiran jika sudah lolos SNMPTN.

SNMPTN dikenal juga dengan sebutan "jalur undangan". Para peserta seleksi tak perlu mengikuti ujian tertulis. Universitas yang diminati akan menilai peserta dari nilai rapor pada 5 semester terakhir, juga mempertimbangkan hasil Ujian Nasional, jejak alumni, prestasi akademik, dan tingkat akreditasi sekolah.

Universitas Brawijaya di Malang, Jawa Timur, menjadi perguruan tinggi yang menerima peserta SNMPTN terbanyak, yaitu 3.957 siswa. Universitas Negeri Padang menyusul di posisi kedua dengan 2.591 siswa, lalu Universitas Sumatera Utara (2.508), Universitas Pendidikan Indonesia (2.493), dan Universitas Jember (2.215).

Sementara, Antaranews mengabarkan, dari 137.149 siswa yang mendaftar beasiswa Bidik Misi, 28.069 orang dinyatakan lulus. Bidik Misi adalah program beasiswa bagi siswa berprestasi baik tetapi berasal dari keluarga yang kurang kurang mampu.

Menristekdikti meminta para siswa yang lolos untuk segera mendaftar ulang di perguruan tinggi yang menerima mereka.

Masih ada SBMPTN dan Ujian Mandiri

Bagi mereka yang gagal, Nasir meminta agar tak berkecil hati karena masih ada SBMPTN dan Ujian Mandiri. Tak seperti SNMPTN, peserta kedua tes ini harus melewati ujian tertulis, tetapi nilai akademik semasa SMA tidak diperhitungkan.

"Jika tidak diterima dua-duanya masih banyak perguruan tinggi yang ada di Indonesia yang cukup baik. Jangan khawatir silakan daftar di perguruan tinggi negeri dan swasta yang terdaftar, yang ada di dalam pangkalan data pendidikan tinggi," ujar Nasir dinukil Tirto.id.

Namun, ia mengingatkan agar para siswa dan orang tua untuk terlebih dahulu memeriksa perguruan tinggi yang dituju pada pangkalan data pendidikan tinggi Kemenristekdikti. Jangan sampai mereka mendaftar di perguruan tinggi non-aktif yang bisa dipastikan bermasalah.

SBMPTN akan berlangsung di 85 perguruan tinggi negeri di seluruh Indonesia pada periode Maret-Juni tahun ini. Penyelenggaraannya akan dilakukan sebanyak 12 kali dan bisa diikuti oleh siswa yang lulus sekolah menengah atas pada tahun 2017, 2018, dan 2019.

Oleh karena itu, siswa kelas XII (III SMA) atau yang sederajat pada tahun ajaran 2018/19, diperbolehkan mengikuti SBMPTN meski belum dinyatakan lulus.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR