KARHUTLA

Kabut asap hambat aktivitas sekolah dan perdagangan warga Pekanbaru

Petugas melakukan pembasahan di sepanjang pinggir jalan koridor di tengah pekatnya kabut asap ketika terjadi kebakaran lahan di Kabupaten Pelalawan, Riau, Kamis (19/9/2019).
Petugas melakukan pembasahan di sepanjang pinggir jalan koridor di tengah pekatnya kabut asap ketika terjadi kebakaran lahan di Kabupaten Pelalawan, Riau, Kamis (19/9/2019). | Rony Muharrman /Antara Foto

Hujan deras buatan yang dilakukan pemerintah pada Kamis (19/9/2019) tidak mengurangi pekatnya kabut asap secara signifikan di Riau. Alhasil kegiatan ekonomi sosial masyarakat masih macet.

Di Kota Pekanbaru, misalnya, kegiatan sekolah kembali diliburkan hingga Sabtu (21/9). Keputusan diambil karena level kesehatan udara masih fluktuatif di antara tidak sehat dan berbahaya dalam dua pekan terakhir. Pada Kamis (19/9), menurut data BMKG, indeks pencemaran udara di Pekanbaru mencapai 164 atau masuk kategori tidak sehat.

"Berdasarkan hasil rapat, disepakati libur sekolah kembali diperpanjang hingga Sabtu 21 September," ujar Kepala Dinas Pendidikan Pekanbaru Abdul Jamal, Kamis (19/8), dilansir Merdeka.com.

Ini adalah kegiatan libur sekolah yang kelima oleh Pemkot Pekanbaru dan berlaku untuk semua tingkatan pendidikan; dari PAUD hingga SMP. Libur sudah diberlakukan sejak Selasa (10/9), Rabu (11/9), kemudian diperpanjang hingga Jumat (13/9) dan diperpanjang hingga Senin dan Selasa (16/9).

Namun pada Rabu (17/9) dan Kamis (18/9), sekolah tetap tak bisa digelar. Hasilnya, libur diperpanjang lagi hingga Sabtu (21/9).

Libur sekolah juga dilakukan oleh Pemkab Bengkalis, bahkan sampai kualitas udara sudah membaik. Khusus di Kecamatan Bengkalis, seperti laporan Riau Green, Rabu (18/9), sekolah libur hingga Sabtu (21/9).

Selain sekolah, tiga kampus di Pekanbaru juga sempat meliburkan kegiatan sejak pekan lalu (12/9) hingga Selasa (16/9). Ketiga kampus itu adalah Universitas Islam Riau, Universitas Riau, dan Universitas Muhammadyah Riau.

Sementara kegiatan ekonomi masyarakat juga terganggu akibat kabut asap. Masyarakat tidak lagi leluasa keluar rumah sehingga transaksi pun menurun.

Satu di antaranya adalah aktivitas makanan kaki lima. Kompas.com melaporkan, Kamis (19/9), pusat kuliner malam di Jalan HR Soebrantas, Kecamatan Tampan, Kota Pekanbaru, sepi pembeli.

Seorang pedagang kuliner Akir Fatiwa (43) mengaku omzetnya turun selama kabut asap melanda Pekanbaru. Biasanya Akir bisa mendapat omzet Rp2 juta, tapi kini hanya Rp800 ribu hingga Rp1 juta.

Kabut asap juga masih mengganggu aktivitas penerbangan, bahkan hingga ke provinsi di sekitar Riau. Kamis (19/9), pesawat Wings Air dengan nomor penerbangan IW1296 dari Bandara Internasional Kualanamu, Deli Serdang, Sumatera Utara, gagal mendarat di Bandara Internasional Silangit, Tapanuli Utara.

Berangkat dari Bandara Kualanamu sekitar pukul 07.30 WIB, pesawat langsung kembali (return to base) karena jarak pandang dengan lintasan di Silangit hanya di bawah 700 meter. Hal itu disampaikan Branch Communication and Legal Manager Bandara Kualanamu Wishnu Budi Setianto.

Riau kini berada dalam situasi siaga darurat sesuai penetapan oleh Presiden Joko Widodo saat mengunjungi wilayah itu pada Senin (16/9). Namun begitu, anggota DPRD Riau dari PKB, Muhammad Adil, menyayangkan kehadiran Jokowi belum cukup membuat kabut asap menghilang.

Adil pun menegaskan pemerintah belum maksimal mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai sumber kabut asap. Bila hal ini tak kunjung teratasi, Adil meminta masyarakat menggugat pemerintah.

"Kalau memang tidak ada juga keseriusan pemerintah yang sudah diberikan anggaran untuk padamkan api, maka jalan satu-satunya masyarakat harus gugat Pemerintah," tutur Adil dalam Tribunnews.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR