Kabut asap memburuk, Joko Widodo percepat lawatan di AS

Pengendara mobil dan sepeda motor melintasi jalan raya yang diselimuti kabut asap kekuningan akibat kebakaran lahan di kota Pekanbaru, Riau, Jumat, 23 Oktober 2015.
Pengendara mobil dan sepeda motor melintasi jalan raya yang diselimuti kabut asap kekuningan akibat kebakaran lahan di kota Pekanbaru, Riau, Jumat, 23 Oktober 2015. | Riyan Nofitra /Tempo

Asap dari kebakaran hutan dan lahan di beberapa provinsi Indonesia memburuk. Presiden Joko "Jokowi" Widodo, yang tengah berada di Amerika Serikat, berencana untuk memangkas hari lawatan guna terjun langsung menangani dampak kabut asap di tanah air.

Keputusan itu diambil setelah Presiden Jokowi berkomunikasi melalui telepon dengan Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Hak Asasi Manusia, Luhut Pandjaitan, demikian laman Sekretariat Kabinet RI melaporkan pada 27 Oktober.

"Karena banyaknya keluhan dari masyarakat, dan juga laporan dari masyarakat yang berkaitan dengan dampak kesehatan dan juga dampak sosial karena asap, saya memutuskan untuk membatalkan perjalanan saya ke...Pantai Barat dan akan langsung kembali ke Indonesia, dan mungkin nanti langsung meluncur ke Sumsel (Sumatera Selatan) atau ke Palangkaraya," ujar sang Presiden dari penginapannya, Blair House, Washington, D.C., Senin (26/10) pagi waktu setempat.

Dalam kaitan kunjungan ke wilayah Pantai Barat AS, yang akan berkenaan dengan kerja sama teknologi dan ekonomi kreatif, Presiden Jokowi menugaskan sejumlah pejabat terkait seperti Menteri Komunikasi dan Informatika, Menteri Perdagangan, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, dan Kepala Badan Ekonomi Kreatif.

Kunjungan Joko Widodo ke AS memang dibayang-bayangi pelbagai masalah pelik di Indonesia. Kebakaran hutan dan lahan yang mengerkah wilayah Kalimantan dan Sumatera semakin memburuk.

Sejumlah isu yang dianggap sebagai problem HAM seperti peristiwa pembakaran gereja di Aceh Singkil berderak-derak. Perlambatan ekonomi global bergelandot di Indonesia dan mempengaruhi kinerja rupiah.

Menurut laporan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sebaran asap di Sumatera dan Kalimantan masih meluas. Lebih jauh, asap itu telah menurunkan kualitas udara di Filipina, Malaysia, dan Singapura.

Jakarta pun tidak terlepas dari efek pembakaran hutan dan lahan tersebut. Laut Jawa tertutup asap tipis-sedang dan sebagian wilayah ibu kota negara tersapu asap tipis.

Per 24 Oktober 2015, kabut asap telah merenggut 10 nyawa--tidak termasuk mereka yang meninggal saat mendaki Gunung Lawu dan terpanggang api kebakaran hutan.

Penderita infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) di enam provinsi pada 1 Juli - 23 Oktober 2015 mencapai 503.874 orang: Riau, 80.263 jiwa; Jambi, 129.229 jiwa; Sumatera Selatan, 101.333 jiwa; Kalimantan Barat, 43.477 jiwa; Kalimantan Tengah, 52.142 jiwa; Kalimantan Selatan, 97.430 jiwa.

Pemerintah pusat tengah merencanakan evakuasi massal balita dan anak-anak lewat laut dan udara dari sebagian wilayah Kalimantan dan Sumatera, demikian Straits Times. Sejauh ini, 27 kapal, termasuk di antaranya 16 unit kapal sipil, terlibat dalam operasi penyelamatan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR