PASAR SAHAM

Cuitan Kaesang dan saham likuid yang lebih murah dari nasi goreng

Pengunjung memotret layar pergerakan  harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (28/6/2019).
Pengunjung memotret layar pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (28/6/2019). | Puspa Perwitasari /Antara Foto

Saham Bumi Resources Tbk (BUMI), bergerak naik 5 persen pada penutupan perdagangan, Kamis (29/8/2019). Salah satunya, konon disebabkan oleh cuitan Kaesang Pangarep, putra Presiden Joko 'Jokowi' Widodo. Kaesang, sebelumnya juga pernah ngetuit soal harga saham batu bara bisa dibeli dengan duit Rp100 ribu.

Sebenarnya, di bursa efek Indonesia (BEI), ada banyak saham yang harganya lebih murah dari harga semangkuk nasi goreng. Jika nasi goreng harganya Rp15 ribu, ada banyak saham yang harganya di bawah Rp15 ribu untuk tiap lot alias per 100 lembar saham. Bahkan banyak saham yang harganya hanya Rp5 ribu untuk tiap lot.

Tapi di bursa banyak saham tidur, alias jarang yang berminat membelinya. Untuk itu, diciptakan indeks untuk menyaring daftar saham yang menarik. Misalnya Indeks LQ45, untuk daftar 45 saham yang likuid. Atau Indeks Kompas 100, yang berisi 100 saham yang baik dan kapitalisasi pasar yang besar.

Nah, dari daftar 100 saham itu, ada beberapa yang bisa dibeli dengan harga kurang dari Rp15 ribu. Misal BUMI, yang per lembarnya hanya Rp92 atau Rp9.200 (per lot). Perusahaan BUMN PP Properti Tbk (PPRO), bisa dimiliki sahamnya per lot hanya dengan harga Rp11.600.

Lalu Sentul City Tbk (BKSL). Pada perdagangan kemarin, perusahaan properti ini per lotnya dijual Rp12.300. Sedangkan perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Eagle High Plantation Tbk (BWPT) sahamnya bisa ditebus dengan harga Rp12.800.

Bahkan, saham MNC Investama Tbk (BHIT) harganya lebih murah dari sebungkus cemilan Kemripik, buatan Kaesang dan kakaknya, Gibran Rakabuming. Kemripik dijual Rp7.700 per bungkus. Saham BHIT, Kamis lalu bisa dibeli seharga Rp7.200 per lot.

Apakah harga itu murah? Belum tentu.

Dalam investasi, ada beberapa ukuran untuk menentukan murah atau mahalnya harga saham. Dua ukuran yang banyak dipakai adalah PER (Price Earning Ratio) dan PBV (Price Book Value).

PER adalah perbandingan harga saham dengan laba bersih. Makin besar PER berarti makin mahal harga saham dibandingkan dengan laba perusahaan. Sedangkan PBV adalah harga saham yang di pasar dibandingkan nilai buku perusahaan.

Catatan redaksi: Judul diperbaiki untuk lebih mencerminkan isi tulisan.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR