KARHUTLA

Kalbar dan Kalteng diguyur hujan, titik panas diklaim turun

Suasana permukiman penduduk di tepian Sungai Kapuas yang diselimuti kabut asap pekat di Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu (18/9/2019).
Suasana permukiman penduduk di tepian Sungai Kapuas yang diselimuti kabut asap pekat di Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu (18/9/2019). | Jessica Helena Wuysang /ANTARA FOTO

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan sejumlah wilayah di Kalimantan Barat (Kalbar) dan Kalimantan Tengah (Kalteng) diguyur hujan Senin (23/9/2019) pagi sejak pukul 05.00 WIB hingga 07.00 WIB.

“Berpotensi terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir atau guntur dan angin kencang berdurasi singkat pada pukul 05.30 WIB di wilayah Kabupaten Sanggau dan Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat,” mengutip rilis resmi BMKG Pontianak.

Di Kalbar, hujan diperkirakan dapat meluas ke Kabupaten Kubu Raya di dua lokasi yakni Batu Ampar dan Kubu.

Sedangkan Di Kalteng, hujan diperkirakan turun dengan intensitas sedang hingga lebat pada pukul 06.00 WIB di Kabupaten Gunung Mas dan sekitarnya. Hujan juga diperkirakan meluas ke wilayah Manuhing Bagian Timur di kabupaten yang sama.

Sebelumnya, hujan buatan dilakukan di dua provinsi ini akibat kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan. BMKG, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan TNI menyemai awan dengan garam sebanyak 2.400 kilogram di Kalimantan Tengah pada Jumat (20/9/2019), dari pukul 13.20 WIB hingga 15.35 WIB. Rute penyemaian meliputi Kabupaten Kapuas hingga Martapura.

Operasi yang sama juga dilakukan di Kalimantan Barat pada hari yang sama. Penyemaian garam sebanyak 800 kilogram dilakukan di Kabupaten Landak dan Kabupaten Bengkayang. Penyemaian ini membuahkan hasil dengan guyuran hujan intensitas sedang.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan hujan buatan dilakukan setelah pertumbuhan awan mencapai minimal 70 persen kandungan air pada Jumat pekan lalu. “Di Riau bagian utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan ada pertumbuhan awan hujan sehingga berpotensi hujan buatan,” katanya.

Titik panas menurun

Dwikorita mengklaim hujan buatan dan hujan alami yang terjadi di dua provinsi tersebut berpengaruh pada pengurangan asap dan titik panas. Menurut catatan citra satelit Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), ditemukan 66 titik panas di Kalbar selama 24 jam terakhir sejak Minggu (22/9/2019) sekitar pukul 06.00 WIB hingga Senin (23/9/2019) di waktu yang sama.

Titik panas terparah tersebar di antaranya di Serawai, Kabupaten Sintang, sejumlah wilayah di Kabupaten Ketapang seperti di Sungai Laur, Manisamata, Matan Hilir Selatan, dan Simpang Hilir di Kabupaten Kayong Utara.

Citra satelit titik panas di Kalimantan Barat sejak Minggu (22/9/2019) pukul 06.00 WIB hingga Senin (23/9/2019) pukul 06.00 WIB.
Citra satelit titik panas di Kalimantan Barat sejak Minggu (22/9/2019) pukul 06.00 WIB hingga Senin (23/9/2019) pukul 06.00 WIB. | LAPAN /LAPAN

Angka ini berkurang drastis dari sebelumnya 443 titik panas yang ditemukan di provinsi yang sama pada Sabtu (21/9/2019), dan sebanyak 312 titik panas pada Jumat (20/9/2019). Pusat titik panas paling banyak ditemukan di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Sintang.

Di Kalteng, titik panas terpantau sebanyak 544 titik dengan pusat menyebar di Kabupaten Pulangpisau, Kota Palangka Raya, dan Kabupaten Kapuas.

Titik ini lebih sedikit dari Jumat pekan lalu sebanyak 640 titik panas dengan konsentrasi masih di Kabupaten Kapuas dan Pulangpisau. Pada Sabtu, jumlah titik panas sempat meningkat 857 titik.

Citra satelit titik panas di Kalimantan Tengah sejak Minggu (22/9/2019) pukul 06.00 WIB hingga Senin (23/9/2019) pukul 06.00 WIB.
Citra satelit titik panas di Kalimantan Tengah sejak Minggu (22/9/2019) pukul 06.00 WIB hingga Senin (23/9/2019) pukul 06.00 WIB. |

Menurut keterangan LAPAN, titik panas merupakan suatu area yang memiliki suhu lebih tinggi dibandingkan dengan sekitarnya yang dapat deteksi oleh satelit. Area tersebut direpresentasikan dalam suatu titik yang memiliki koordinat tertentu.

LAPAN menggunakan satelit NOAA, Terra/Aqua MODIS, maupun data satelit penginderaan jauh untuk mendeteksi titik panas dan membaginya ke dalam tiga kategori dengan rentang kepercayaan berbeda.

Level terendah yakni titik panas dengan tingkat kepercayaan rendah, kurang dari 30 persen dengan status perlu diperhatikan. Kategori selanjutnya adalah waspada dengan rentang tingkat kepercayaan antara 30 persen sampai 80 persen. Sementara untuk level tingkat kepercayaan tertinggi yakni antara 80-100 persen. Titik inilah yang perlu segera ditangani

Jumlah titik panas yang banyak dan menggerombol menunjukkan adanya kejadian kebakaran lahan atau hutan di suatu wilayah.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR