MITIGASI BENCANA

Kalimantan tidak bebas gempa

Sebuah bangunan rusak akibat gempa yang melanda Tarakan di Kalimantan Utara, pada Desember 2015.
Sebuah bangunan rusak akibat gempa yang melanda Tarakan di Kalimantan Utara, pada Desember 2015. | Sri Gunawan Wibisono /Beritagar.id

Pulau Kalimantan tidak bebas dari ancaman bencana gempa bumi. Minggu (19/5/2019); goyangan lindu skala 4,1 Skala Richter (SR) terjadi di 40 kilometer barat laut Longkali, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur (Kaltim) sekitar pukul 21.13 WITA.

"Gempa tercatat di peralatan pemantau di Kantor Balikpapan, kedalaman 10 kilometer," kata Kepala Stasiun Geofisika Balikpapan, Mudjianto, Senin (20/5).

Mudjianto mengatakan, pulau Kalimantan memang berada di luar jalur kawasan rawan gempa di Indonesia. Untuk diketahui, Indonesia termasuk negara rawan bencana gempa tektonik akibat pertemuan tiga lempeng dunia; Pasifik, Eurasia, dan Indo-Australia.

Bukan hanya itu, posisi Indonesia pun persis terletak di jalur cincin api Pasifik atau ring of fire. Kondisi geografis ini menyebabkan Indonesia kaya gunung berapi yang memanjang dari Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, hingga Papua.

Namun demikian, bukan lantas diartikan Kalimantan bebas ancaman gempa bumi. "Alat kami mendeteksi gempa di Kalimantan sebanyak belasan kali setiap tahunnya," papar Mudjianto.

Kantor Stasiun Geofisika Balikpapan sudah dilengkapi 16 sensor gempa untuk mencakup seluruh daratan Kalimantan. Jumlah sensor itu relatif sedikit jika dibandingkan 200 sensor serupa yang dipasang dari Sabang hingga Merauke.

"Potensi gempa bumi di Kalimantan memang kecil sehingga sensornya tidak terlalu banyak," tutur Mudjianto.

Sebagai catatan, sambung Mudjianto, pulau Kalimantan dilewati sesar aktif daratan Mangkalihat dan Adang yang kerap menimbulkan getaran gempa. Sesar Mangkalihat terbentang dari Berau (Kaltim), Tarakan Kalimantan Utara (Kaltara), hingga negara tetangga Filipina.

Sedangkan Sesar Adang terdeteksi ada di Palangkaraya Kalimantan Tengah (Kalteng), Pontianak Kalimantan Barat (Kalbar) hingga Paser (Kaltim).

"Sesar ini yang aktif bergerak serta menimbulkan gempa skala kecil berkisar 4 SR hingga 6 SR. Ini yang diduga menjadi penyebab gempa di Paser," ungkapnya.

Menurut data; Kalimantan pernah menyimpan sejarah gempa terbesar yang terjadi di Sangkulirang, Kutai Timur pada 1911 dan Kaltara pada 1926. Getaran gempanya cukup merusak, masing-masing berskala 6,5 SR dan 6,7 SR.

Kala itu, getaran ini sudah dicatat sebagai gempa terbesar di Kalimantan. Setelah itu, gempa bumi terulang di Kaltara 89 tahun kemudian atau pada akhir 2015 silam dengan skala 6,1 SR.

Pusat gempa terjadi di posisi 3,61 LU dan 117,67 BT di Laut Sulawesi yang berbatasan dengan Filipina. Getarannya terasa di seluruh kota/kabupaten di Kaltara; termasuk wilayah Pulau Bunyu, Tanjung Selor, Bulungan, Nunukan, dan terutama Tarakan.

Guncangan gempa menyebabkan tujuh rumah di Tarakan rusak parah, tapi tak ada korban jiwa. Pusat gempa berada di kedalaman 10 kilometer berjarak 29 kilometer sebelah timur Pulau Tarakan.

Dan belum lama ini, getaran gempa Donggala di Sulawesi Tengah (Sulteng) pun sebenarnya turut dirasakan masyarakat Kaltim. Secara geografis, menurut Mudjianto, titik pusat gempa Donggala sejajar dan berdekatan dengan kawasan Delta Mahakam di Kutai Kartanegara.

Lokasi pusat gempa Donggala sudah terjadi sejak ratusan silam. Pada suatu waktu, pusat gempa melepaskan energi kancingan yang terasa hingga Kalimantan. Penjelasan ilmiahnya adalah patahnya lapisan batuan tektonik dasar bumi yang merembet ratusan kilometer.

Kepala Sub Bagian Humas Kabupaten Paser, Abdul Kadir, menyatakan getaran gempa terbaru cukup mengagetkan masyarakat setempat yang belum terbiasa. Getarannya terasa hingga Tana Grogot yang merupakan ibu kota kabupaten Paser.

"Sudah lama terjadi waktu itu dan membuat kecemasan warga Paser," ungkapnya.

Kadir mengatakan, rakyat Paser awam perlindungan diri terhadap ancaman bencana gempa bumi. Selama ini, menurutnya, masyarakat hanya mengetahui kedahsyatannya dari tayangan pemberitaan media massa.

Gempa bumi terakhir kali di Paser, kata Kadir, terjadi tujuh tahun silam yang melanda Kecamatan Long Ikis. Ia menuturkan, Bupati Paser saat itu Ridwan Suwidi meninjau langsung ke tempat terjadinya bencana.

Meskipun demikian, Kadir memastikan gempa bumi di daerahnya tidak sampai menimbulkan kerugian besar harta benda atau korban jiwa. Gempa bumi di Paser biasanya memang hanya pada skala 4 SR yang tidak sampai merusak bangunan warga.

"Gempanya tidak terlalu besar disini bila dibandingkan daerah lain di Indonesia yang menimbulkan kerusakan fatal," ujarnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR