PILPRES 2019

Kampanye terbuka harus bisa menjaring pemilih baru

Anggota KPU Provinsi Bali bersama perwakilan partai politik melepaskan burung merpati dan balon sebagai simbol Deklarasi Kampanye Damai Pemilu 2019 di Denpasar, Bali, Minggu (24/3/2019).
Anggota KPU Provinsi Bali bersama perwakilan partai politik melepaskan burung merpati dan balon sebagai simbol Deklarasi Kampanye Damai Pemilu 2019 di Denpasar, Bali, Minggu (24/3/2019). | Nyoman Hendra Wibowo /Antara Foto

Kampanye dengan metode rapat umum atau biasa disebut kampanye terbuka atau kampanye akbar mulai digelar pada Minggu (24/3/2019) hingga tiga pekan ke depan. Ajang ini mesti digunakan untuk mendulang suara swing voters atau undecided voters oleh kedua pasangan calon presiden (capres).

Hari pertama kampanye terbuka, capres petahana Joko "Jokowi" Widodo berkampanye di Provinsi Banten. Sedangkan capres Prabowo Subianto berkampanye di Manado (Sulawesi Utara) dan di Makasar (Sulawesi Selatan).

Secara bergantian dua pasangan itu akan menggelar kampanye terbuka di dua zona wilayah, Zona A dan Zona B. Setiap zona terdiri dari 17 provinsi sesuai ketetapan KPU.

Selama masa kampanye akbar ini, kedua kubu diperbolehkan menyampaikan gagasan mereka secara langsung kepada masyarakat luas. Masing-masing paslon diperbolehkan mengumpulkan massa dan berorasi.

Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wasisto Raharjo Jati dalam CNNIndonesia.com menilai kedua pasangan calon tersebut sedang berusaha meraih suara dari massa pemilih mengambang atau yang belum menentukan pilihannya (undecided voters) dalam pilpres.

Wasis menganggap sangat wajar jika Jokowi memilih Banten dan Prabowo memilih Manado dan Makassar sebagai wilayah pertama pada kampanye terbuka Pilpres 2019.

Dia menjelaskan, para pemilih di ketiga wilayah tersebut memiliki karakter yang sangat dinamis, tergantung penggiringan isu yang diusung oleh masing-masing capres

"Targetnya adalah meraih kantong suara pemilih yang masih mengambang karena ketiga daerah itu sebenarnya daerah-daerah yang dinamis peta pemilihnya tergantung pada penggiringan isu kampanye," ujar Wasis.

Merujuk dari hasil survei Litbang Kompas pada Maret 2019, masih ada 13,4 responden yang belum menentukan pilihannya pada Pilpres 2019. Jumlah ini turun dari survei pada Oktober 2018 sebesar 14,7 persen responden yang menyatakan pilihan masih rahasia.

Namun Wasis berpendapat kampanye terbuka tak terlalu signifikan dalam meningkatkan elektabilitas para pasangan capres-cawapres. "Itu lebih diartikan sebagai aksi panggung hiburan rakyat saja," kata dia.

Kampanye terbuka, yang biasa dimaknai dengan arak-arakan dan mengumpulkan sejumlah massa di lapangan besar, tambahnya, juga bisa bermanfaat untuk memamerkan kekuatan masing-masing.

Pendapat berbeda diungkapkan pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno dalam BBCIndonesia. Menurutnya, model kampanye ini hanya bermanfaat untuk mengkonsolidasi masyarakat yang memang sudah mantap memilih Jokowi atau Prabowo.

Kampanye seperti itu, kata dia, tidak akan mampu menyentuh kalangan swing voters (calon pemilih tidak loyal) atau undecided voters yang jumlahnya masih besar --mencapai 11 hingga lebih dari 20 persen menurut berbagai survei.

"Swing voters nggak akan ikut arak-arakan karena mereka ragu mau memilih atau tidak. Jangan lupakan, swing voters kita besar lho," kata Adi.

Dia menegaskan, sistem kampanye dengan door to door untuk mendekati calon pemilih dengan lebih personal cenderung lebih efektif dalam mendulang suara baru.

"Door to door harus tetap dilakukan, silaturahmi ke komunitas petani, nelayan, ormas-ormas berbasis agama dan bukan agama," tandasnya.

Gaya orasi yang berbeda

Jokowi dan Prabowo menampilkan gaya berorasi yang berbeda dalam kampanye terbuka. Jokowi tampil dengan gaya khasnya dan tidak banyak menyampaikan program dalam orasi kampanyenya, sedangkan Prabowo berusaha menarik perhatian dengan mengeluarkan seluruh program yang ditawarkan pada masyarakat.

Mengawali kampanye terbuka perdana di wilayah Serang, Banten, Jokowi tanpa basa-basi langsung berbicara keluh kesahnya selama 4,5 tahun menjabat presiden di depan para peserta. Dari difitnah, dihina, sampai direndahkan diceritakan.

"Saya langsung to the point. Saya ini sudah empat setengah tahun dihina, dicaci maki, difitnah-fitnah, dicela habis-habisan, direndahkan. Apa yang saya lakukan, diam saya nggak menjawab. Tapi saat ini saya perlu menjawab mengenai isu itu," ucapnya dengan ekspresi serius.

Sementara Prabowo memulai kampanye terbukanya dengan penuh semangat. Mantan Danjen Kopasus itu lebih terkesan menyampaikan pesan di depan pendukungnya. Misalnya berjanji akan mewujudkan pemerintah yang bersih dari korupsi.

"Koalisi kita Insya Allah begitu dapat mandat dari rakyat kita akan membentuk pemerintah yang bersih dari korupsi dan bersih dari koruptor-koruptor, saudara-saudara," ujar Prabowo dalam kampanye akbar di Lapangan Karebosi, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (24/3).

Prabowo juga memaparkan cara untuk membentuk pemerintahan yang bersih. Satu di antaranya akan meminta para pejabat untuk bersumpah dan meneken perjanjian untuk tidak korupsi.

"Saya akan minta mereka bersumpah melalui agama masing-masing dengan kitab sucinya masing-masing dan saya minta mereka tanda tangan nanti perjanjian-perjanjian bahwa mereka tidak akan memperkaya dirinya atau keluarganya atau kroninya selama mereka menjabat dalam jabatan publik," tegasnya.

Kampanye akbar dan zonanya

Merujuk laman resmi KPU, Peraturan KPU (PKPU) Nomor 23 tahun 2018 tentang Kampanye Pemilu menyebutkan kampanye rapat umum berlangsung selama 21 hari sebelum masa tenang pada 14 April 2019. Dengan begitu, kampanye rapat umum baru mesti dimulai tanggal 24 Maret sampai 13 April mendatang.

Berikut wilayah yang terbagi di dua zona untuk kampanye rapat umum:

17 provinsi di zona A:

Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, NTT, Maluku dan Papua.

17 provinsi di zona B:

Bengkulu, Lampung, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, Gorontalo, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, dan Papua Barat.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR