SAMPAH PLASTIK

Kanada larang plastik sekali pakai

Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau.
Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau. | Arindambanerjee /Shutterstock

Seperti halnya banyak negara lain, Kanada mulai berbenah mengurangi sampah plastik. Mulai 2021, Kanada akan melarang penggunaan plastik sekali pakai.

Polusi plastik merupakan ancaman besar bagi negara bersemboyan "Dari Laut ke Laut" ini. Apalagi, seperti halnya di banyak negara lain, plastik yang benar-benar didaur ulang sangat sedikit jumlahnya. Kurang dari 10 persen.

Artinya, limbah plastik senilai sekitar 11 miliar Dolar Kanada (sekitar Rp117,8 triliun) yang diangkut ke tempat pembuangan sampah dan insinerator setiap tahun, banyak yang berakhir di saluran air. Dampak kerusakan yang disebabkannya masih sangat tidak jelas.

Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau mengumumkan rencana larangan plastik sekali pakai, Senin (10/6). Trudeau memaparkan beberapa cara untuk membatasi limbah plastik.

Mulai dari mempromosikan dan mendukung inovasi seputar material alternatif, dan memperkenalkan aturan untuk produsen produk plastik sehingga mereka lebih bertanggung jawab atas limbah.

Ini juga berarti melarang penggunaan plastik sekali pakai. Misal sedotan, kantong plastik, piring, sendok, garpu, dan pengaduk minuman, paling cepat tahun 2021.

Pernyataan Trudeau cukup tegas. Namun masih ada celah karena pemerintah Kanada menyatakan akan melarang produk plastik sekali pakai tersebut selama didukung bukti ilmiah.

"Warga Kanada tahu betul dampak pencemaran plastik, dan lelah melihat pantai, taman, jalan, dan garis pantai mereka dipenuhi sampah plastik," kata Trudeau.

Lanjutnya, "Kami punya tanggung jawab untuk bekerja sama dengan mitra kami untuk mengurangi polusi plastik, melindungi lingkungan, menciptakan lapangan kerja dan menumbuhkan ekonomi kami. Kami berutang kepada anak-anak untuk menjaga lingkungan tetap bersih dan aman untuk generasi yang akan datang."

Pemerintah Kanada belum menentukan produk plastik sekali pakai apa saja yang akan dilarang. Namun, dukungan dari para peritel di Kanada sudah terlihat.

East West Market di pusat Vancouver, Kanada memberikan kantong plastik dengan logo memalukan. Tulisannya antara lain, “Into the Weird Adult Video Emporium,” “Dr. Toews Wart Ointment Wholesale” dan “The Colon Care Co-Op.” Ini dilakukan agar konsumen enggan menggunakan kantong plastik dan memilih membawa tas sendiri.

Menurut estimasi World Economic Forum, 90 persen plastik yang berakhir di laut berasal dari 10 sungai besar dunia. Kini ada 50 juta ton plastik di laut penjuru dunia. Padahal, butuh waktu lama sampai sampah plastik bisa terurai habis.

Sebelumnya, Uni Eropa, Peru, Australia, negara bagian California dan Hawaii di Amerika Serikat (AS) hanyalah beberapa contoh pemerintah yang baru-baru ini menggalakkan upaya melawan polusi plastik.

Uni Eropa sudah mengumumkan rencana melarang penggunaan plastik sekali pakai mulai 2021. Sementara di Peru, pendatang tak diizinkan membawa plastik sekali pakai ke area- area tertentu seperti Machu Pichu, Manu, dan Huascaran, juga museum nasional di sana.

Beberapa wilayah di AS pun melakukan praktik serupa. Maine, Maryland, San Diego berhenti menggunakan styrofoam.

Washington D.C. menerapkan denda bagi pengusaha yang menggunakan sedotan plastik. Di Seattle, peralatan makan plastik juga dilarang.

Pemerintah Indonesia belum menerapkan aturan. Sejauh ini, larangan plastik sekali pakai baru diinisiasi beberapa pihak.

Bali misalnya, sudah menerbitkan larangan penggunaan kantong plastik, styrofoam, dan sedotan plastik sejak Desember 2018. Restoran cepat saji McDonald's juga mulai mengurangi penggunaan sedotan plastik.

Greenpeace Indonesia juga menggandeng Nahdlatul Ulama (NU) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk mengampanyekan #PantangPlastik. “Agama sebenarnya mengajarkan untuk menjaga lingkungan. Tapi isu ini tidak populer. Nah kami butuh NU, MUI untuk menyampaikan pesan kampanye ini," kata UPP Campaigner Greenpeace Indonesia, Muharram Atha Rasyadi.

Sejak plastik diciptakan 60 tahun lalu, kita telah memproduksi setidaknya 8,3 miliar metrik ton plastik. Mulai menguranginya butuh komitmen, sekecil apapun adalah hal penting demi masa depan yang lebih baik.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR