PENCEMARAN LINGKUNGAN

Kapal Ever Judger diduga biang pencemaran minyak di Teluk Balikpapan

Para petugas dari Polda Kalimantan Timur tengah menyita kapal MV Ever Judger di Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa (24/4/2018).
Para petugas dari Polda Kalimantan Timur tengah menyita kapal MV Ever Judger di Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa (24/4/2018). | Sri Gunawan Wibisono /Beritagar.id

Penantian panjang warga Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim), perlahan mulai terjawab. Polisi menunjukkan kemajuan positif dalam penyidikan pencemaran limbah minyak mentah di Teluk Balikpapan dengan menyita kapal MV Ever Judger.

"Setelah 21 hari proses penyidikan, hari ini kami menyita kapal MV Ever Judger," kata Direktur Reserse Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Kaltim, Komisaris Besar Yustan Alpiani, Selasa (24/4/2018).

Polisi menyita kapal berbendera Panama ini usai mengangkat tiga alat bukti patahan pipa minyak mentah milik Pertamina. Tiga pipa sepanjang total 49 meter dan berat 24,5 ton ini menjadi alat bukti utama penyebab tumpahan minyak mentah Pertamina.

Polisi dan Pertamina berkoordinasi menerjunkan penyelam berikut peralatan guna mengangkat pipa dari kedalaman 27 meter di bawah permukaan air laut. Penyelam ahli ini bertugas memotong pipa minyak yang patah sebagai alat bukti penyidikan polisi.

"Barang bukti sudah diamankan petugas di Pelabuhan Jeti Pertamina Balikpapan. Kami susun agar nantinya dilakukan proses rekonstruksi tim Labfor Mabes Polri," ungkap Yustan.

Selepas itu, Yustan mendatangi kapal MV Ever Judger dan menempelkan surat penyitaan di dinding lambung kapal ini. Empat personel polisi bersenjata juga diperintahkan menjaga keberadaan kapal MV Ever Judger di perairan Teluk Balikpapan.

Selain menyita, Yustan meminta pihak Imigrasi mencekal nahkoda berikut anak buah kapal MV Ever Judger yang seluruhnya berkebangsaan Tiongkok. "Imigrasi sudah menerbitkan izin tinggal pada nahkoda dan ABK selama dua bulan di Indonesia," paparnya.

Namun begitu, Yustan belum mengungkapkan keterkaitan kapal MV Ever Judger dengan peristiwa kerusakan pipa minyak Pertamina ini. Namun, polisi sudah menjadwalkan gelar perkara dalam penetapan tersangka kasus ini pada Rabu (25/4).

PT Pertamina (Persero) mengapresiasi kecepatan aparat kepolisian mengungkap penyebab tumpahan minyak mentahnya di area seluas 13 ribu hektare ini. Hingga saat ini, Pertamina tetap berkukuh sebagai korban kerusakan jaringan pipa mentah yang menghubungkan terminal Lawe Lawe dan kilang Balikpapan.

"Kami sudah mendengar soal informasi polisi ini, kami juga menunggu penyebab kerusakan pipa minyak ini," kata kata Region Manager Communication & CSR Pertamina Kalimantan, Yudy Nugraha.

Yudy menambahkan, kerusakan jaringan pipa minyak mentah telah menganggu proses produksi kilang Pertamina Balikpapan. Selama ini, lima jaringan pipa bawah air menyuplai produksi kilang Pertamina Balikpapan berkapasitas 260 ribu barrel per hari.

"Tiga kilang milik Pertamina dan dua lainnya adalah milik perusahaan migas lain. Seluruhnya diproduksi di kilang Pertamina Balikpapan," ungkapnya.

Pertamina mengangkat potongan pipa minyak di Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur, pekan lalu (19/4/2018).
Pertamina mengangkat potongan pipa minyak di Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur, pekan lalu (19/4/2018). | /Pertamina Kalimantan

Sehubungan pemotongan pipa ini, kata Yudy, Pertamina akan menjadwalkan proses perbaikan pipa minyak yang diduga rusak akibat jangkar kapal. Ia mengharapkan perbaikan pipa rusak ini berlangsung segera agar tidak mengganggu distribusi BBM bagi kawasan Indonesia timur.

Selama sepekan terakhir ini, Pertamina menurunkan personelnya menyisir empat zona konsentrasi tumpahan minyak di area Rede, Kolam Labuh, Pantai Monpera, lepas pantai, dan sekitarnya. Pertamina setidaknya menurunkan 17 unit kapal pembersih berikut 170 personil terdiri teknis support dan kru kapal.

Kebetulan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memastikan Pertamina sepenuhnya bertanggung jawab soal kerusakan lingkungan Teluk Balikpapan. Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Kalimantan, Tri Bangun Laksono menyatakan minyak mentah dipastikan berasal dari pipa Pertamina.

"Amanat Undang Undang Lingkungan jelas menyebutkan pemilik limbah harus bertanggung jawab sepenuhnya dalam proses penyelamatan lingkungan," paparnya.

Penyidikan kasus ini oleh polisi, menurut Laksono, bukan berarti menjadi alasan Pertamina lari dari tanggung jawabnya. Pertamina nantinya juga berhak melayangkan gugatan perdata kepada pihak yang telah menyebabkan kerugian material dalam kasus ini.

"Bila nanti kapal batu bara yang terbukti bersalah, Pertamina bisa melayangkan gugatan perdata. Saat ini adalah tanggung jawab Pertamina," tuturnya.

KLHK masih melakukan kajian kerusakan lingkungan Teluk Balikpapan akibat tumpahan minyak mentah. Hasil kajian ini menjadi dasar segala upaya penyelamatan lingkungan yang harus dilakukan Pertamina.

"Sedang kami kerjakan proses analisa kerusakan lingkungan ini, setidaknya butuh waktu enam bulan untuk menentukan besaran nilai kerusakan lingkungan," sebutnya.

Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim meminta peristiwa tumpahan minyak ini menjadi peringatan bagi pemerintah untuk meningkatkan sistem pengamanan kilang Balikpapan. Dinamisator Jatam Kaltim Pradharma Rupang menilai sistem pengamanan obyek vital kilang Balikpapan sangat rapuh dari gangguan pihak luar.

Bukti konkretnya adalah pecahan pipa minyak yang diduga akibat terjangan jangkar kapal MV Ever Judger. Kalaupun hal itu benar, Pradharma menilai hal tersebut bukan sepenuhnya merupakan kesalahan kapal tersebut.

"Ini kapal asing, tentunya saat masuk di Indonesia akan mematuhi peraturan di sini. Seperti adanya pengawalan kapal pandu KSOP Balikpapan dan TNI AL. Ini kan tidak ada, tidak ada early system yang mampu mencegah terjadinya masalah ini," keluhnya.

Rangkaian kelalaian ini berujung tumpahan 5 ribu kilo liter minyak mentah di perairan seluas 13 ribu hektare meliputi Balikpapan, Penajam Paser Utara, dan Kutai Kartanegara. Bencana lingkungan mengancam kelestarian keanekaragaman hayati Teluk Balikpapan.

Pencemaran minyak mentah di Teluk Balikpapan ini terjadi pada 31 Maret dan memicu kebakaran hebat. Sejumlah anak buah kapal MV Ever Judger mengalami luka, sedangkan lima orang nelayan kedapatan meninggal.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR