TRANSPORTASI LAUT

Kapal feri tenggelam di Halmahera, insiden keempat dalam sebulan

Foto ilustrasi. Kapal Motor (KM) tenggelam di perairan Selayar, Sulawesi Selatan, Kamis (5/7/2018).
Foto ilustrasi. Kapal Motor (KM) tenggelam di perairan Selayar, Sulawesi Selatan, Kamis (5/7/2018). | Abriawan Abhe /Antara Foto

Kapal motor (KM) feri Bandeng yang berlayar dari Pelabuhan Tobelo, Maluku Utara, ke Pelabuhan Bitung, Sulawesi Utara, tenggelam di sekitar Pulau Doi, Loloda, Halmahera, pada Rabu (15/8/2018) sekitar pukul 17.20 WIT.

Dari insiden ini, 45 orang penumpang berhasil diselamatkan oleh Basarnas Ternate dengan menggunakan KM Pandudewanata dan sejumlah kapal nelayan. Para korban selamat dievakuasi ke Ternate untuk diperiksa kesehatannya.

Namun, menurut Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Basarnas Ternate, Muhammad Arafah; pada Kamis (16/8), masih ada enam orang yang belum ditemukan--masing-masing adalah seorang penumpang perempuan dan lima orang anak buah kapal (ABK).

"Sisa enam orang lainnya masih dalam tahap pencarian dan pertolongan Basarnas Ternate," kata Arafah saat dihubungi Beritagar.id.

Arafah mengatakan 45 orang penumpang yang diselamatkan Basarnas Ternate ditemukan mengapung di atas sekoci milik KM Bandeng. Mereka terombang-ambing ombak setinggi 2-3 meter di perairan Loloda selama kurang lebih 16 jam.

45 orang itu, menurut data Basarnas Ternate, berasal dari berbagai daerah. Antara lain dari Manado, Bitung, Tomohon, Gorontalo, Buton, dan Maluku Utara seperti; Tobelo, Bacan dan Ternate. Adapun isi kapal di antaranya adalah 12 truk bermuatan.

KM Bandeng diperkirakan tenggelam akibat hantaman ombak besar setelah berangkat dari Tobelo pada Selasa (14/8). Adapun laporan kecelakaan diterima Basarnas pada Selasa pula dari seorang penumpang setelah sempat hilang kontak selama 11 jam.

"Kapal feri Bandeng dihantam ombak hingga tenggelam di sekitar perairan Loloda, sebelah barat depan Pulau Ibu," kata Arafah dilansir TV One (h/t Viva).

Insiden keempat

Peristiwa feri Bandeng setidaknya menjadi insiden keempat di perairan yang terjadi dalam satu bulan terakhir. Juli lalu, KM Lestari Maju kandas di dekat pantai Pa'badillan, Bontomate'ne, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.

Seluruh penumpang berjumlah 139 penumpang berhasil diselamatkan.

Pada Juli pula, KM Sinar Bangun tenggelam di Danau Toba, Sumatra Utara. Sampai operasi pencarian korban dihentikan, 3 Juli, ada 164 orang yang tidak ditemukan dan diperkirakan turut tenggelam di kedalaman 450 meter.

Sementara dari Maluku Utara pula, KM Kairos tenggelam setelah berangkat dari Bitung ke Mayau, Maluku Utara. Bahkan hingga Rabu (15/8), menurut laporan JPNN, KM Kairos tidak berhasil ditemukan. Tim pencari kesulitan menemukannya karena KM Kairos tidak memiliki sistem identifikasi otomatis (AIS).

KM Kairos mengangkut kopra dan berbagai barang lain, serta 18 orang yang terdiri penumpang dan anak buah kapal.

Empat insiden beruntun itu tak pelak menjadi pukulan terbaru bagi pemerintah. Padahal, Senin (13/8) lalu; Menteri Perhubungan (Menhub), Budi Karya Sumadi, menetapkan standar pelayanan minimum kapal penyeberangan agar tak ada lagi insiden tenggelam.

Standar pelayanan itu meliputi pula aturan skema sewa kapal dari operator swasta yang ada kelayakan minimum. "Karena biasanya kapal yang tidak layak itu karena kemampuan daya beli masyarakat yang rendah.

"(Harga tiket yang murah) membuat pelayanan dan keselamatan dikorbankan, karena cost of run pengoperasian kapal tidak tercapai. Standarnya misalnya kapal tak boleh overload, ada life jacket, dan sebagainya," tutur Budi dikutip detikcom.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR