KEBAKARAN HUTAN

Karhutla seluas 116 hektare melanda 12 kabupaten di Aceh

Petugas gabungan berusaha memadamkan api di Aceh Jaya, Selasa (9/7/2019).
Petugas gabungan berusaha memadamkan api di Aceh Jaya, Selasa (9/7/2019). | BPPA

Sudah sepekan terakhir kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda 12 kabupaten di Provinsi Aceh. Luas lahan pun terus bertambah sejak puluhan hingga kini mencapai 116,04 hektare.

Petugas kesulitan memadamkan api yang sebagian besar terbakar di kawasan rawa. Apalagi mobil pemadam tidak bisa menembus ke lokasi.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Teuku Ahmad Dadek, menuturkan karhutla pada Juli 2019 tercatat dimulai sejak 5 Juli. Hingga kini, petugas telah menjinakkan 90 persen karhutla di 11 kabupaten. Tapi di Kabupaten Aceh Barat, karhutla semakin meluas lantaran kondisi tanahnya gambut.

"Sejak 5 Juli sampai saat ini sudah terjadi karhutla di 12 kabupaten, 90 persen di antaranya dapat dipadamkan dan satu kabupaten lagi masih diupayakan," tutur Dadek kepada jurnalis, Rabu (10/7/2019).

Sebelas kabupaten yang dilanda karhutla dan telah dipadamkan oleh petugas adalah Kabupaten Nagan Raya seluas 32,5 hektare, Bener Meriah 1,4 hektare, Aceh Barat Daya 3 hektare, Aceh Besar 20 hektare, Aceh Selatan 3,5 hektare, Aceh Jaya 2 hektare, Aceh Tengah sehektare, Gayo Lues sehektare, Aceh Singkil 4 hektare, Kota Banda Aceh 2 hektare, dan Kota Sabang 2 hektare.

Sementara di Kabupaten Aceh Barat, karhutla meluas hingga mendekati permukiman warga di Desa Alue Peunyaring, Kecamatan Meureubo. Menurut catatan BPBA, lahan yang terbakar di empat kecamatan diperkirakan mencapai 45 hektare.

Jumlah itu belum termasuk satu kecamatan yang hingga saat ini titik apinya belum bisa ditembus petugas. Itu sebabnya luas areal yang terbakar belum terdata.

"Pemadaman masih terus dilakukan karena cakupan wilayah terus bertambah dan mendekati permukiman warga," kata Dadek.

Petugas BPBA dibantu Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Republik Indonesia terus berupaya melakukan pemadaman. Di beberapa titik, petugas turut membagikan masker kepada warga dan turut mendistribusikan makanan siap saji.

Dadek menjelaskan, kendala pemadaman api di lokasi adalah kondisi tanah rawa gambut sehingga petugas sulit mencapai titik api. Petugas juga kekurangan pompa apung atau pompa tekanan tinggi portabel sebanyak 10 unit.

"Kendala lain seperti, dibutuhkan selang air sebanyak 50 roll, alat pemukul api, dan cairan peresapan," kata Dadek.

Hingga Rabu (10/7), karhutla mulai menimbulkan kabut asap di kota Banda Aceh. Misalnya di kawasan Pango, kabut asap tipis mulai terlihat sejak pagi hingga menjelang siang. Meski demikian, kondisi tersebut belum mengganggu aktivitas warga.

Kepala Seksi Data dan Informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Blang Bintang, Aceh, Zakaria, menuturkan kabut asap tipis di Banda Aceh berasal dari karhutla di kawasan barat dan selatan Aceh.

"Asap yang terbawa akibat kebakaran hutan sampai ke Banda Aceh dan Aceh Besar, hari ini baru kelihatan," kata Zakaria saat dihubungi Beritagar.id, Rabu (10/7).

Untuk sementara, lanjut Zakaria, kabut asap di Banda Aceh masih kategori aman. Tetapi warga diimbau menggunakan masker. Sedangkan dua hari ke depan diperkirakan bakal turun hujan ringan di Aceh.

Menurut Zakaria, saat ini Aceh telah memasuki musim kemarau sehingga menyebabkan lahan gambut menjadi kering dan mudah terbakar.

"Kalau musim kemarau begini, lahan gambut dan ranting kering berpotensi kebakaran. Ada juga masyarakat memanfaatkan keadaan untuk membuka lahan dengan membakar hutan," ujar dia.

Adapun pada Selasa (9/7), kata Zakaria, BMKG mencatat ada 11 titik api yang tersebar di bagian barat selatan Aceh, Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Jaya, dan Nagan Raya, Subulussalam, dan Singkil.

Dia mengimbau masyarakat yang ingin membuka lahan agar tidak membakar karena dapat mengganggu pernapasan. Apalagi pada musim kemarau, sedikit sambaran api cepat merambat dan meluas.

Dibanding data BPBA selama bulan Juni 2019, karhutla di Aceh terjadi sebanyak 20 kali. Lantas pada Mei 2019, Karhutla terjadi 6 kali. Namun, data itu tidak menyebutkan detail areal lahan dan hutan yang terbakar.

Artinya, karhutla di Aceh relatif tidak berhenti karena pada Maret 2019 masih terjadi di provinsi paling barat Indonesia itu. Menurut data BPPA, mulai Januari hingga Maret 2019, ada 12 karhutla walau pemicunya bukan lantaran musim kemarau.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR