KECELAKAAN KERJA

Kartu kuning untuk Waskita Karya dari PUPR

etugas Kepolisian Polres Bandara Soekarno Hatta melakukan olah TKP longsornya dinding penahan terowongan (underpass) Kereta Api Bandara di kawasan Parimeter Selatan Kawasan Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (6/2/2018).
etugas Kepolisian Polres Bandara Soekarno Hatta melakukan olah TKP longsornya dinding penahan terowongan (underpass) Kereta Api Bandara di kawasan Parimeter Selatan Kawasan Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (6/2/2018). | Muhammad Iqbal /ANTARAFOTO

Sanksi teguran diberikan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) kepada PT Waskita Karya (Persero) Tbk. lantaran sejumlah kecelakaan konstruksi yang sedang dan sudah digarap kontraktor pelat merah ini.

Setidaknya lima dari 12 kecelakaan konstruksi dalam periode enam bulan terakhir dianggap Kementerian PUPR menjadi tanggung jawab dari Waskita.

Direktur Jenderal Bina Marga, Arie Moerwanto mengatakan, Kamis (8/2/2018), sanksi teguran diberikan agar Waskita bisa lebih berhati-hati dan bertanggung jawab atas sistem pekerjaannya.

Namun, sanksi yang diberikan kepada Waskita hanya berlaku pada proyek Kementerian PUPR yang dikerjakan Waskita seperti jalan tol dan underpass Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang.

Melansir Katadata, sanksi yang diberikan PUPR kepada Waskita sesuai dengan mekanisme yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi.

Berdasarkan aturan itu juga, menteri terkait harus menetapkan penilai ahli untuk memeriksa tingkat kepatuhan terhadap standar keamanan, keselamatan, kesehatan, dan keberlanjutan dalam penyelenggaraan jasa konstruksi, menetapkan penyebab terjadinya kegagalan, serta menetapkan pihak yang bertanggung jawab.

Tak hanya kepada Waskita, sanksi teguran juga sudah dijatuhkan kepada pengawas proyek yang bertanggung jawab saat kecelakaan terjadi.

Adapun lima proyek Waskita tersebut adalah dua unit crane dengan bobot 70 ton dan 80 ton proyek pembangunan Light Rail Transit (LRT) Palembang yang jatuh dan menimpa rumah penduduk pada 4 Agustus 2017. Dua orang tewas akibat kejadian ini.

Kedua, saat jembatan penyeberangan Jalan Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi ambruk pada 22 September 2017, yang menyebabkan satu pekerja tewas dan dua lainnya luka berat.

Ketiga, girder proyek pembangunan Jalan Tol Pasuruan-Probolinggo yang ambruk dan menyebabkan satu pekerja tewas pada 29 Oktober 2017.

Keempat, crane variable message sign (VMS) proyek Jalan Tol Jakarta-Cikampek II (Elevated) km. 15 yang jatuh dan menyebabkan empat jalur Cikampek tak dapat dilalui kendaraan.

Kelima, konstruksi girder proyek Pembangunan Jalan Tol Pemalang-Batang ambruk pada 30 Desember 2017. Tidak ada korban jiwa pada kejadian ini.

Sementara, ada satu kecelakaan lainnya yang juga dikerjakan Waskita, namun telah selesai, sehingga tidak dimasukkan dalam kategori kecelakaan konstruksi.

Kecelakaan yang dimaksud adalah longsornya underpass perimeter selatan Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, pada Senin (5/2/2018). Satu orang tewas dan satu lainnya terluka setelah terjebak dalam material longsor selama lebih sembilan jam.

Waskita dalam hal ini terlibat dalam proyek pengerjaan kereta Bandara Soekarno-Hatta yang kebetulan jalurnya sangat dekat dengan lokasi kejadian.

Arie, sebutnya dalam KOMPAS.com, mengatakan kecelakaan itu masuk dalam kasus kegagalan bangunan sesuai dengan UU Jasa Konstruksi. Kementerian PUPR pun berencana menerjunkan tim ahli untuk menginvestigasi penyebab terjadinya hal tersebut.

Di sisi lain, Sekretaris Perusahaan Waskita Karya, Shastia Hadiarti mengatakan hasil evaluasi Waskita atas proyek relnya paling tidak baru dapat dikeluarkan pada Maret mendatang.

Desakan untuk mengaudit kontraktor bangunan ramai muncul pasca-longsornya bangunan underpass bandara. Salah satunya berasal dari Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Sigit Sosiantomo.

Sigit menduga, ada kelalaian bangunan dalam proyek yang rampung dan mulai digunakan pada November 2017.

"Jika kualitas pekerjaannya baik dan desainnya sudah tepat, tentu dengan masa penggunaan baru tiga bulan kecil kemungkinan bisa roboh karena semua sudah diperhitungkan dengan matang," sebut Sigit dalam WartaEkonomi, Rabu (7/2/2018).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR