RADIKALISME

Kartun: Faktor Rizieq dalam rekonsiliasi

Oleh pengagumnya, Rizieq jadi syarat islah Jokowi-Prabowo. Padahal mestinya dia bisa pulang sendiri ke Indonesia, siapa pun presidennya.
Oleh pengagumnya, Rizieq jadi syarat islah Jokowi-Prabowo. Padahal mestinya dia bisa pulang sendiri ke Indonesia, siapa pun presidennya. | Salni Setyadi /Beritagar.id

PULANG | Sudah dua tahun pendiri Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab bermukim di luar negeri, terutama Arab Saudi. Dia tak merasa kabur dari jerat hukum, tapi pengikut dan pengagumnya menyebutnya dia adalah korban "kriminalisasi ulama" — artinya dia dikriminalisasi karena dia ulama.

Untuk ulang tahun ke-19 FPI, 2017, dia merekam suaranya, "Ingat, hijrah bukan sembunyi, hijrah juga bukan lari. Tapi, hijrah untuk lindungi diri, hijrah untuk selamatkan negeri, dan hijrah untuk atur strategi, dan hijrah untuk atur strategi."

Kini Rizieq menjadi kartu bagi kubu capres Prabowo Subianto sebagai salah satu syarat rekonsiliasi dengan presiden terpilih Joko "Jokowi" Widodo. Yaitu memulangkan Rizieq. Ketua DPP Partai Gerindra, Habiburokhman, kemarin (7/7/2019) bersetuju. Apalagi dia pernah berjanji akan memulangkan Rizieq.

Menjadi pertanyaan: bukankah Rizieq pergi atas kemauan sendiri, lagi pula yang berjanji membawa pulang dia itu Prabowo dalam kampanye "kalau menang akan...", bukan Jokowi?

Kalau memang berniat pulang ya tinggal pulang. Siapa pun presidennya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR