PARTAI POLITIK

Kartun: Ketergantungan terhadap Megawati

Mega terlalu kuat dan semuanya terpusat kepada dirinya. PDIP adalah Mega, begitu pula sebaliknya. Apakah harus trah Sukarno yang memimpin?
Mega terlalu kuat dan semuanya terpusat kepada dirinya. PDIP adalah Mega, begitu pula sebaliknya. Apakah harus trah Sukarno yang memimpin? | Salni Setyadi /Beritagar.id

KETUA | Megawati Soekarnoputri (72) terpilih lagi sebagai ketua umum PDI Perjuangan. Kongres kelima di Sanur, Bali, Kamis lalu (8/8/2019) menjadi pengabsahan alam pikir kader: harus Mega.

"Semua menghendaki secara aklamasi, saya diangkat lagi sebagai ketua umum PDIP periode 2019-2024," Mega berujar.

Mega seperti konglomerat pendiri korporasi. Sekian lama Mega menjadi matriarch organisasi. Mega adalah pendiri PDIP, sempalan PDI, pada 1996, dan ultah PDIP sama dengan PDI: 10 Januari. Orang-orang setianya, sebelum era PDIP, sudah menyebutnya Ibu, dengan takzim, dengan sentuhan personal, bukan sekadar atribut formal.

Sudah lima kali Mega memimpin partai. Hal itu dengan catatan kalau titik tolaknya 1999, pasca-reformasi, ketika PDIP resmi menjadi partai terdaftar.

Sebagai partai kader, masa sih nggak ada calon pengganti?

Jika hal itu ditanyakan kepada kader maupun orang luar, jawabannya sama, berupa pertanyaan balik: "Menurut Anda siapa? Emang ada?"

Spekulasi menyebut, Puan Maharani (45), putri Mega, yang akan menjadi penerus. Atau malah Muhammad Prananda Prabowo (49), kangmasnya Puan. Kedua orang itu punya kursi di dewan pimpinan pusat.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR