KASUS E-KTP

Kartun: Manuver Setnov atas nama keadilan

Setnov memang setia kepada hal baru – termasuk tampilan. Kini bikin berita lagi: menganggap hakim khilaf. Lalu dia ajukan PK ke MA.
Setnov memang setia kepada hal baru – termasuk tampilan. Kini bikin berita lagi: menganggap hakim khilaf. Lalu dia ajukan PK ke MA. | Salni Setyadi /Beritagar.id

BARU | Selalu ada berita baru tentang Setya Novanto (63), politikus dan pengusaha yang dipidana 15 tahun penjara dan denda Rp500 juta karena korupsi dalam proyek e-KTP. Dia juga harus membayar uang pengganti Rp66 miliar.

Berita baru itu, Setnov pekan ini mengajukan peninjauan kembali (PK) perkara ke Mahkamah Agung. Menurut pengacaranya, Maqdir Ismail, pihaknya memiliki novum atau bukti baru.

"Kami menilai ada cacat hukum, khilaf hakim, dan ada pertentangan antara pertimbangan masing-masing perkara antara yang satu dengan yang lainnya," Maqdir berujar.

Hak setiap terpidana untuk mengajukan PK, dengan mengajukan novum, yang antara lain didukung bukti tentang kekhilafan hakim.

Novum dan nova, dari bahasa Latin, berarti baru. Bahasa Prancis menyerapnya sebagai nouveau. Tentu unsur "nova" dalam nama Novanto bukan karena dia setia kepada hal baru tetapi merujuk November, bulan kelahirannya.

Luar biasa

Eh, le nouveau Setnov dalam tampilan adalah bercambang dan berjenggot. Alasannya, selama dia dipindahkan sebulan ke Lapas Gunung Sindur, Bogor, berbaur dengan napi teroris.

Juni lalu Setnov dikurung di Gunung Sindur sebagai sanksi karena keluyuran meninggalkan Lapas Sukamiskin, Bandung.

Sukamiskin juga dihuni napi kaya. Sebagian dari mereka adalah koruptor.

Korupsi termasuk kejahatan luar biasa. Terorisme juga. Pun perdagangan narkotika dan kekerasan seksual terhadap anak. Tentu tak ada hubungannya dengen berewok.

Akan tetapi bagi Fredrich Yunadi, pengacara Setnov yang kemudian menjadi terpidana, korupsi bukan kejahatan luar biasa.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR