BUDAYA KEKERASAN

Kartun: Persekusi Ninoy dan mimpi buruk ala fiksi

Ada sebelas tersangka penganiaya Ninoy Karundeng. Apa pun pilihan politisnya bukan alasan untuk menganiaya apalagi menghalalkan darahnya.
Ada sebelas tersangka penganiaya Ninoy Karundeng. Apa pun pilihan politisnya bukan alasan untuk menganiaya apalagi menghalalkan darahnya. | Salni Setyadi /Beritagar.id

HAJAR! | Penganiayaan terhadap Ninoy Karundeng, seorang relawan pendukung Jokowi dalam Pilpres 2019, membuka mata khalayak tentang dua hal.

Pertama: persekusi bisa menimpa siapa pun atas alasan politik. Kedua: luka masyarakat akibat Pilpres 2019 masih menganga.

Taruh kata ada pihak yang tak suka terhadap tulisan atau ucapan Ninoy, tempuhlah cara ala Partai Solidaritas Indonesia, Juli lalu: laporkanlah kepada polisi.

Hingga Senin (7/10/2019) Polda Metro Jaya telah menangkap sebelas tersangka. Sejauh cerita beredar, dalam penculikan lalu penganiayaan itu ada ancaman bunuh dan upaya penghapusan jejak. Kelak pengadilan yang membuktikan.

Mengerikan jika persekusi atas nama apa pun dibiarkan. Lalu (misalnya) seseorang yang tak bersalah dan tak tahu persoalan pun terpaksa mengaku karena tekanan dan siksaan, sehingga mengalami akibat buruk, lantas para pelaku bilang, "Salah sendiri dia ngaku."

Bayangkan, korban dalam posisi salah setidaknya tiga kali. Pertama: berada di tempat yang salah. Kedua: bertemu sekelompok orang yang salah. Ketiga: dia terpaksa mengaku bersalah.

Hanya dalam fiksi hal itu boleh terjadi.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR