Kasus Novel Baswedan: Masyarakat diminta bersabar

Ketua KPK Agus Rahardjo (kiri), Kombes Pol Rudy Heriyanto Adi Nugroho (tengah) dan Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono memberikan keterangan terkait kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan di Gedung KPK Jakarta, Jumat (19/5/2017).
Ketua KPK Agus Rahardjo (kiri), Kombes Pol Rudy Heriyanto Adi Nugroho (tengah) dan Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono memberikan keterangan terkait kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan di Gedung KPK Jakarta, Jumat (19/5/2017). | Wahyu Putro A. /Antara Foto

Selasa, 11 April 2017, sekitar pukul 05.10 WIB, penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan, kembali ke rumahnya seusai menunaikan shalat. Di tengah jalan, dua orang laki-laki yang berboncengan motor menyiramkan air keras ke arah wajah Novel.

Hingga kini, dua orang pelaku teror itu belum diketahui. Polisi tengah melakukan berbagai macam upaya untuk mencari titik terang dalam kasus ini. Mereka menerapkan metode deduktif dan induktif, namun sejauh ini belum menunjukkan hasil.

"Induktif ini kan kami mulai dari olah TKP (Tempat Kejadian Perkara), kemudian kita cek berupa barang bukti, keterangan saksi di situ, itu namanya induktif. Kalau deduktif itu kami melihat kira-kira motifnya seperti apa. Apakah ini motif personal, ataukah motif tentang pekerjaan," jelas Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi RP Argo Yuwono, kepada Beritasatu.com (3/5/2017).

Dengan metode induktif, dua orang yang dicurigai sempat diperiksa, M dan H, namun hasil pemeriksaan terhadap mereka dihentikan. Polisi juga memeriksa AL, terduga lainnya. Dugaan kembali mental, tak terbukti. Semua alibi AL yang dijelaskan kepada polisi masuk akal dan sesuai dengan fakta.

Kepolisian lalu menggunakan metode lain. Polisi meminta informasi ihwal kasus yang pernah ditangani Novel. Analisis terhadap informasi tersebut, diharapkan memberi petunjuk apakah teror yang diterima Novel terkait dengan kasus-kasus tersebut. Ini metode deduktif yang dijelaskan kepolisian.

Pertemuan secara intensif digelar setiap dua pekan dengan KPK. Kombes Argo menegaskan, dua pekan itu bukan tenggat untuk mengungkap kasus Novel Baswedan, yang kini tengah dirawat di General Hospital, Singapura.

"Dua pekan itu interval ya, setiap dua pekan kami akan selalu bertukar informasi dari Polda Metro Jaya dan KPK," katanya di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (19/5/2017), seperti dilansir Antaranews (19/5/2017).

Tetapi, menurut Juru bicara KPK, Febri Diansyah, tidak semua kasus yang sedang disidik Novel Baswedan, dapat diungkap ke kepolisian. "Tapi kami tidak bisa beri tahu ke publik maupun kepolisian," ujarnya, dilansir Tempo.co.

Kabar terkini, tim Polda Metro Jaya menangkap MPT alias N karena diduga punya motif dalam penyerangan Novel. MPT merupakan keponakan tersangka suap di MK, Muchtar Efendi, yang pernah diperiksa Novel sebagai saksi.

Menurut laporan Kompas.com, Jumat (19/5/2017), setelah memeriksa MPT, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Rikwanto, menjelaskan tak ditemukan bukti bahwa ia terlibat penyerangan Novel. MPT pun dilepaskan dan kembali ke rumahnya.

Penangkapan dan pemeriksaan terhadap keempat orang tersebut, diklaim sebagai keseriusan Polri mengejar pelaku, berbekal petunjuk sekecil apapun. Polri menolak membandingkan penanganan antarkasus, karena tingkat kesulitannya tidak sama.

Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri, Kombes Pol Martinus Sitompul, mengatakan barang bukti di lapangan dalam kasus Novel tidak cukup untuk mengungkap pelaku. Ia pun meminta masyarakat bersabar menunggu proses hukum yang berjalan.

Kelanjutan tim investigasi gabungan

Mengingat kasus ini belum juga terungkap, muncul usulan agar dibentuk tim investigasi gabungan antara Polisi, KPK, dan masyarakat sipil. Usulan ini disampaikan para mantan pimpinan KPK bersama sejumlah pegiat anti korupsi.

Wadah Pegawai KPK pun telah menyampaikan aspirasinya kepada pimpinan KPK dan Presiden. Namun belum ada respons serius.

Menanggapi kondisi itu, ditulis Kompas.com (4/5) mantan komisioner KPK, Busyro Muqoddas, menyayangkan sikap Presiden Joko Widodo dan sikap para pimpinan KPK. Menurutnya, usulan pegawai KPK tidak dihargai.

"Harusnya aspirasi itu direspons oleh Presiden dan pimpinan KPK. Dua-duanya tidak menghargai pegawai KPK, ini aneh banget," kata Busyro yang ditulis Kompas.com.

Presiden Joko Widodo, Kamis 18 Mei 2017 lalu, menyatakan segera memanggil Kepala Kepolisian, Jenderal Tito Karnavian, untuk menanyakan perkembangan pengusutan kasus ini. Presiden dikabarkan sudah dua kali menelepon langsung Tito ihwal kasus ini.

Sementara itu, kata Febri Diansyah, pihaknya masih menunggu sikap Presiden Jokowi ihwal pembentukan tim gabungan tersebut. Febri mengatakan KPK akan mendukung Presiden jika Tim Pencari Fakta memang diperlukan.

Febri memberi keterangan di markas musisi Slank, Jalan Potlot III, Jakarta Selatan, saat peringatan Hari Kebangkitan Nasional bersama Slank dan para tokoh nasional, bertema "Mimbar Bebas". Demikian laporan TribunNews, Sabtu (20/5/2017).

Penyelesaian kasus Novel Baswedan ini dinilai tidak hanya berpengaruh pada wibawa presiden, tapi juga pada baik buruknya negara ini. Itu komentar pengamat hukum tata negara, Margarito Kamis.

"Presiden tidak boleh berdiam diri (dalam kasus penganiayaan Novel). Karena ini bukan sekadar menentukan wibawa pemerintahan beliau, tetapi ini tidak baik bagi bangsa dan negara ini," kata Margarito dikutip Republika.co.id, Rabu (17/5).

Kondisi Novel Baswedan

Adapun kondisi Novel terkini, menurut keterangan tertulis Juru Bicara KPK, Febri Diansyah, sedang dalam pemulihan setelah menjalani operasi pada Kamis (18/5). Untuk sementara mata Novel ditutup dan tidak boleh terkena air selama satu bulan.

Dokter melakukan observasi harian untuk mengamati perkembangan Novel pascaoperasi. Operasi dimaksud dilakukan pada membran kedua mata. Plasenta bayi digunakan agar pertumbuhan sel-sel untuk penyembuhan bisa berlangsung lebih cepat.

Detikcom melaporkan, operasi Novel dilakukan pada hari ke-36 perawatan karena hasil observasi tidak menunjukkan perkembangan signifikan terhadap kedua bola matanya. Terakhir kali mata kanan Novel masih mengalami inflamasi (peradangan).

Sedangkan bola mata kirinya yang terpapar air keras menunjukkan perkembangan yang lebih lambat, terutama pada bagian saraf mata. Hanya sebagian saja yang berfungsi.

Pihak keluarga Novel Baswedan sempat dikabarkan kecewa karena lambannya pengungkapan kasus ini. Wakil Ketua KPK, Alexander Marwata, menanggapi kekecewaan keluarga penyidik senior di KPK tersebut.

"Menurut saya keluarganya kecewa, wajar. Saya pun kalau ada keluarga seperti itu dan nggak terungkap juga pasti kecewa," ujarnya di Gedung KPK, Jakarta Selatan, seperti dikutip Liputan6.com (17/5/2017).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR