MAFIA BOLA

Kasus pengaturan skor berkembang, tersangka 12 orang

Karopenmas Div Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo memberikan keterangan kepada wartawan terkait penangkapan terduga pelaku kasus pengaturan skor Liga Indonesia di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (27/12/2018).
Karopenmas Div Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo memberikan keterangan kepada wartawan terkait penangkapan terduga pelaku kasus pengaturan skor Liga Indonesia di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (27/12/2018). | Indrianto Eko Suwarso /Antara Foto

Satu per satu, para pihak yang diduga mengatur jalannya pertandingan dalam sepak bola Indonesia ditangkap Satuan Tugas (Satgas) Antimafia Bola Kepolisian RI. Bila hingga awal pekan lalu total lima orang ditetapkan sebagai tersangka, kini menjadi 12 orang.

Teranyar; ML, YI, CH, DS, P, dan MR dicokok Satgas pada Senin hingga Selasa (15/1/2019) karena diduga terlibat dalam kasus yang beken disebut match fixing. Belum diketahui pasti apa peran masing-masing tersangka baru ini, kecuali ML.

Ibarat peramal, ML bakal mengetahui berbagai kejadian penting dalam sebuah laga sepak bola di Liga Indonesia sebelum pertandingan dilaksanakan. Mulai dari berapa kartu kuning dan merah yang keluar hingga jumlah tambahan waktu tiap babak.

Semua itu dilakukan demi satu tujuan: menguntungkan salah satu tim. Satgas menyebut ML sebagai mafia pengatur pertandingan.

"ML sehari-hari bertugas sebagai pengatur wasit di dalam organisasi PSSI, karena dia sebagai Staf Direktur Pengaturan Wasit. Dia yang mengatur dan menjadwalkan wasit mana saja yang akan mempimpin tiap pertandingan," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo dalam Merdeka.com.

Untuk memiliki peran sepenting itu, ML barang tentu bukan orang kemarin sore di tubuh PSSI. Menurut Ketua Tim Media Satgas, Kombes Pol. Argo Yuwono, ML merupakan sosok yang telah lama malang melintang dalam dunia persepakbolaan nasional, khususnya di PSSI.

"Dia orang lama di PSSI. Sedang kita cek berapa lama dia di sana hingga apa saja yang dia lakukan. Kita sedang mengecek juga berapa uang yang dia terima, sedang didalami penyidik," kata Argo dalam Suara.com.

Penangkapan ML ini terkait dengan pengaturan skor Persibara Banjarnegara vs. Persekabpas Pasuruan pada Liga 3 2018. Dalam pertandingan itu pihak-pihak terkait telah ditangkap. (Untuk gambaran kasus lebih jelas, Anda bisa klik di sini.

Memprotes status tersangka Vigit

Beda ladang, beda pula (sebagian) belalangnya. Jika ML dan kawan-kawan ditabalkan status tersangka karena diduga "bermain" dalam laga Persibara vs. Persekabpas, Vigit Waluyo ditetapkan sebagai tersangka untuk kasus beberapa pertandingan yang melibatkan PS Mojokerto Putra (PSMP).

Menurut catatan Bola.com, Vigit diduga melakukan empat kali pengaturan skor. Yakni ketika melawan Aceh United (29/9/2018), Gresik United (28/10), dan Kalteng Putra pada 3 dan 9 November 2018.

"VW ditetapkan tersangka hari ini (Senin). Nanti yang bersangkutan akan dimintai keterangan lebih lanjut terkait match fixing dari PSMP promosi dari Liga 3 ke Liga 2. Di situ ada aliran dana Rp 115 juta," kata Dedi Prasetyo. (Gambaran tentang kasus Vigit dapat Anda klik di sini).

Lalu, apakah Vigit yang menerima aliran dana tersebut? Sebelumnya, Argo Yuwono mengatakan bahwa Vigit adalah pemberi dana. Namun, menurutnya, Vigit juga menerima uang.

"VW yang mempunyai klub. Dia yang memberikan (uang) dan menerima uang juga di situ," kata Argo dalam CNN Indonesia.

Penetapan status tersangka Vigit ini disoal oleh kuasa hukum yang bersangkutan, Mohammad Sholeh. Menurut Sholeh, penetapan status tersangka kepada kliennya cacat hukum.

Pangkalnya, kata Sholeh, sejauh ini belum ada proses pemeriksaan terhadap kliennya dan penetapan dilakukan hanya berdasarkan keterangan-keterangan pihak lain.

"Mengacu Mahkamah Konstitusi No. 21 tahun 2014, pertimbangan hukumnya, penetapan tersangka harus didahului pemeriksaan calon tersangka," kata Sholeh kepada wartawan, Selasa (15/1) dalam Detik.com.

Vigit sudah dijatuhi hukuman larangan terlibat dalam sepak bola nasional seumur hidup oleh PSSI, melalui putusan Komite Disiplin dengan nomor 107/L2/SK/KD-PSSI/I/2019. Soal ini, Sholeh menegaskan pihaknya akan melakukan upaya banding.

"Karena itu aneh bin ajaib. Ia dituduh membiayai beberapa klub, tapi tanpa disebut klub mana saja. Selanjutnya, dituduh melakukan pengaturan skor, pertandingan apa juga tidak disebut dalam putusan itu," terang Sholeh.

Penetapan Vigit sebagai tersangka ini melengkapi 12 nama yang disebut di atas. Selain Vigit, ML, YI, CH, DS, P dan MR, Satgas telah lebih dahulu menetapkan Johar Lin Eng (Anggota Komite Eksekutif PSSI), Priyanto (eks anggota Komisi Wasit PSSI), Anik Yuni Artika Sari (wasit futsal), dan Nurul Safarid (wasit) sebagai tersangka.

Para tersangka dijerat dengan dugaan tindak pidana penipuan dan/atau penggelapan dan/atau tindak pidana suap dan/atau tindak pidana pencucian uang.

Semua pidana itu terdapat di dalam Pasal 378 KUHP dan/atau Pasal 372 KUHP dan/atau UU No 11 Tahun 1980 tentang Tindak Pidana Suap dan/atau Pasal 3, 4, 5 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang TPPU.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR