PENINDAKAN KORUPSI

Kasus Taufik Kurniawan berpotensi seret koleganya di DPR

Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan (tengah) dikawal petugas menggunakan rompi orange usai menjalani pemeriksaan di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Jumat (2/11/2018).
Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan (tengah) dikawal petugas menggunakan rompi orange usai menjalani pemeriksaan di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Jumat (2/11/2018). | Wibowo Armando /Antara Foto

Komisi Pemberantasan Korupsi menahan Wakil Ketua DPR dari fraksi PAN, Taufik Kurniawan, dalam kasus dugaan korupsi Dana Alokasi Khusus (DAK) Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah pada Jumat (2/11/2018). Kasus ini bisa jadi menyeret lagi pihak lain, seperti kolega Taufik di DPR.

Juru bicara KPK, Febri Diansyah mengatakan, mempersilakan Taufik untuk mengungkapkan dugaan keterlibatan pihak lain dalam kasus yang menjeratnya. KPK pun mempersilakan Taufik mengajukan diri sebagai saksi pelaku yang bekerja sama atau justice collaborator/JC.

"Kalau memang tersangka mau membuka peran dari pihak lain silakan saja, karena proses pembahasan anggaran ini kan tidak mungkin dilakukan oleh satu orang," kata Febri melalui Kompas.com.

KPK, kata Febri, akan menindaklanjuti apabila keterangan yang dipaparkan Taufik didukung bukti kuat. Febri mencontohkan, keterlibatan Taufik pun berawal dari fakta yang muncul dalam rangkaian persidangan Bupati Kebumen nonaktif M Yahya Fuad.

Yahya Fuad telah divonis 4 tahun penjara dan denda Rp300 juta subsider 4 bulan kurungan pada Senin (22/10/2018). Yahya juga mendapatkan vonis pidana tambahan berupa pencabutan hak politik selama 3 tahun setelah menjalani masa tahanan.

Taufik diduga menerima hadiah Rp3,65 miliar dari Yahya Fuad sebagai fee lima persen pengurusan anggaran DAK Kebumen yang merupakan daerah pemilihan Taufik Kurniawan.

Saat pengesahan APBN Perubahan Tahun 2015, Kabupaten Kebumen mendapat alokasi DAK tambahan Rp93,37 miliar yang direncanakan digunakan untuk pembangunan jalan dan jembatan di Kebumen.

Dapil Taufik adalah Jawa Tengah Vll yang terdiri dari Kebumen, Banjarnegara, Purbalingga. Dua kepala daerah kabupaten tersebut, yaitu Bupati Kebumen Yahya Fuad dan Bupati Purbalingga Tasdi juga menjadi tersangka kasus korupsi di KPK.

Dalam surat tuntutan disebutkan bahwa Yahya mendapatkan informasi dari Taufik mengenai Dana Alokasi Khusus Perubahan tahun 2106 untuk jalan sebesar Rp100 miliar. "Ini tidak gratis, karena untuk kawan-kawan," kata Taufik kepada Yahya.

Yahya saat itu tidak langsung menjawab. Yahya membahas dana DAK itu dalam pertemuan di pendopo pada 2016 dengan tim pendukungnya, yaitu Hojin Ansori, Muji Hartono alias Ebung dan Khayub Muhammad Lutfi. Tim pendukung lalu mengusulkan untuk "diambil", meski untuk mendapatkan DAK itu tidak gratis.

Taufik meminta fee 5 persen dari anggaran tersebut adalah sebesar Rp5 miliar, tapi Yahya membujuk agar dibayar sepertiganya saja dulu, yaitu sekitar Rp1,7 miliar. Uang tersebut disiapkan Hojin dan Ebung.

Yahya lalu memerintahkan Hojin ke hotel Gumaya untuk bertemu dengan utusan Taufik Kurniawan bernama Ato dan memberikan uang rintisan DAK sebesar Rp1,7 miliar karena saat itu dana belum turun.

Beberapa hari kemudian setelah penyerahan uang sebesar Rp1,7 miliar, Taufik meminta kekurangan sebesar Rp1,5 miliar. Yahya meminta Khayub Muhammad Lutfi menyiapkan dana tersebut. Uang dari Khayub diserahkan oleh Sekertaris Daerah, Adi Pandoyo kepada utusan Taufik di Hotel Gumaya.

Sebelum menyerahkan uang tersebut, Yahya berkomunikasi dengan Taufik untuk memberitahukan kamar dan orang yang akan mengambil uang di Hotel Gumaya. Setelah itu Yahya memberitahukan hal tersebut kepada Adi Pandoyo.

Pada termin ketiga, Hojin menyiapkan dana Rp1,48 miliar. Dana itu urung diserahkan ke Taufik karena keburu ada operasi tangkap tangan KPK.

Dalam dakwaan Yahya menjelaskan kondisi jalan di Kebumen banyak yang berlubang ketika menjabat bupati. Sejumlah media menjuluki Kebumen dengan istilah "Selamat datang di kota jeglongan sewu".

Yahya mencari jalan dengan menemui hampir semua anggota DPR dari Dapil Kebumen untuk membantu pembangunan Kebumen. Mereka adalah Taufik Abdullah, Romahurmuzy, Utut Adianto, Bambang Soesatyo, Darori Ronodipuro, Amelia, dan Taufik Kurniawan.

Seusai mengenakan rompi oranye, Taufik mengatakan menghormati proses hukum di KPK, meski menilai perkaranya itu adalah rekayasa.

"Satu hal yang ingin saya katakan secanggih-canggihnya rekayasa manusia, rekayasa milik Allah yang paling sempurna. Artinya, saya akan ikuti dan hormati proses hukum di KPK," kata Taufik melalui Antaranews.

BACA JUGA