REHABILITASI SATWA

Kawasan primata Kehje Sewen kini punya 103 orangutan

Orangutan di Pusat Rehabilitasi Borneo Orangutan Survival (BOS) Samboja di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Senin (8/7/2019).
Orangutan di Pusat Rehabilitasi Borneo Orangutan Survival (BOS) Samboja di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Senin (8/7/2019). | Sri Gunawan Wibisono /Beritagar.id

Enam individu orangutan dilepasliarkan ke hutan Kehje Sewen, Kutai Timur, Kalimantan Timur (Kaltim), Senin (8/7/2019). Alhasil kawanan primata di hutan restorasi seluas 86.450 hektare ini sekarang memiliki 103 individu orangutan.

"Pelepasliaran orangutan dilakukan secara bertahap," kata CEO Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS), Jamartin Sihite, yang mengurus aktivitas itu, Senin (8/7).

Pertama, pelepasliaran dilaksanakan pada akhir Juni lalu sebanyak empat orangutan; Komo (21), Gino (14), dan Zakir (15), dan betina Petak (22). Pelepasliaran selanjutnya diikuti sepasang orangutan Lito (25) dan Laila (22) pada awal Juli ini.

"Ini merupakan pelepasliaran ke-19 sejak 2012," ungkap Jamartin.

Ia menjelaskan, timnya butuh waktu empat hari evakuasi dari pusat rehabilitasi Samboja di Kutai Kartanegara (Kukar) menuju hutan restorasi. Mereka harus melalui rute transportasi darat dan sungai dengan biaya Rp50 juta per individu.

Program pelepasliaran orangutan, menurut Jamartin, bertujuan agar primata ini mampu menciptakan populasi baru di hutan Kalimantan. BOS memilih orangutan yang lolos pelbagai proses rehabilitasi di Samboja selama kurun tertentu.

Permasalahan saat ini, kata Jamartin, kawasan pelepasliaran habitat orangutan makin terbatas. Hutan Kehje Sewen hanya mampu menampung maksimal 150 populasi kawanan orangutan.

Itu sebabnya BOS sedang memproses pengajuan permohonan pengelolaan kawasan restorasi hutan di Kaltim maupun Kalimantan Tengah. Kebutuhan hutan restorasi mendesak karena BOS Samboja punya 140 individu orangutan untuk dilepasliarkan.

"Kami berharap mendapatkan areal pelepasliaran orangutan skema IUPHHK-RE di Kaltim atau Kalteng. Kami harus segera mendapatkan lokasi pelepasliaran orangutan yang memenuhi syarat," ujar Jamartin.

Juru bicara BOS Foundation, Nico Hermanu, menambahkan hutan Kehje Sewen sangat sesuai dengan kebutuhan habitat alam orangutan. Hutan ini kaya keanekaragaman hayati sesuai persyaratan alam primata orangutan.

Nico menjabarkan persyaratan alam habitat orangutan adalah berada maksimal 900 meter di atas permukaan laut, tersedia stok pakan alami, minim populasi orangutan, dan keberlangsungan pada masa depan. Survei pun menunjukan area dalam hutan Kehje Sewen seluas 20 ribu hektare cocok bagi habitat orangutan.

"Sebelumnya, hutan ini merupakan konsesi sebuah perusahaan penebangan kayu yang melakukan pemilihan tebang pohon," ungkapnya.

Adapun selama pelepasliaran, Nico menyebutkan tim BOS memantau secara berkala proses adaptasi orangutan di habitat barunya. Mereka pun melacak aktivitas jelajah masing-masing orangutan dengan sinyal radio transmiter.

"Kami memantau orangutan yang dilepaskan selama 30 hari. Tim juga mencatat semua kegiatan individu orangutan.

"Hasil pengamatan ini kami kumpulkan untuk dijadikan masukan pengembangan program rehabilitasi di Samboja Lestari dan Nyaru Menteng (Kalteng)," kata Nico.

Dalam tujuh tahun ini, Nico mengklaim setiap orangutan mampu beradaptasi dengan baik terhadap lingkungannya. Bahkan selama kurun itu pula, terjadi kelahiran alamiah empat individu orangutan di Kehje Sewen.

"Sebelumnya proses rehabilitasi orangutan bisa memakan waktu 7 tahun, sehingga sebagian besar mampu beradaptasi dengan baik," tuturnya.

BOS Samboja adalah pusat rehabilitasi orangutan liar. Pawang pusat rehabilitasi ini mengajar orangutan agar mereka mampu berinteraksi di alam liar.

Proses pelatihannya membutuhkan biaya Rp45 juta per tahun. "Terima kasih pada lembaga donor yang tetap mendukung pelestarian orangutan," papar Nico.

BOS Samboja menangani orangutan seserahan warga maupun sitaan negara. Mayoritas orangutan itu sudah jinak sehingga hanya perlu memperoleh rehabilitasi.

Kepala BKSDA Kaltim Sunandar Trigunajasa menyatakan, kerjasama dengan Yayasan BOS mampu mempertahankan populasi orangutan Kalimantan. Menurutnya, semua pihak memang harus berperan dalam upaya penyelamatan primata yang dilindungi negara ini.

"Ini merupakan pencapaian yang luar biasa dan merupakan tanggung jawab kita semua. Pemerintah, masyarakat, dan organisasi massa termasuk pelaku bisnis harus aktif bahu-membahu melanjutkan kegiatan ini," paparnya.

Populasi orangutan terus terdesak perburuan liar, pembalakan hutan, hingga perkebunan. Pemerintah berkepentingan mengajak seluruh pihak dalam upaya mempertahankan keanekaragaman hayati Kaltim.

Seperti mencegah praktik perburuan liar primata orangutan. "Hewan-hewan ini berfungsi besar dalam ekosistem hutan. Mari lindungi hutan kita dan keanekaragaman hayati di dalamnya," ujarnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR