Keakraban Anies Baswedan dan FPI memicu perdebatan

Calon gubernur DKI Jakarta nomor urut tiga, Anies Baswedan (kanan) menyimak paparan timses Ahok-Djarot ketika menghadiri Festival Budaya Perempuan 1001 Cerita Perempuan Kali Ciliwung di GOR Otista, Jakarta, Kamis (8/12).
Calon gubernur DKI Jakarta nomor urut tiga, Anies Baswedan (kanan) menyimak paparan timses Ahok-Djarot ketika menghadiri Festival Budaya Perempuan 1001 Cerita Perempuan Kali Ciliwung di GOR Otista, Jakarta, Kamis (8/12).
© Wahyu Putro A /Antara Foto

Calon Gubernur DKI Jakarta nomor urut tiga, Anies Baswedan menghadiri Taklim Bulanan yang diadakan Front Pembela Islam (FPI), Minggu (1/1/2017).

Tiga hari terakhir, khalayak media sosial riuh membahas kedatangan Anies dalam acara yang berlangsung di markas FPI, Petamburan, Jakarta Pusat tersebut.

Mulanya, Minggu siang (1/1/2017), akun Twitter @DPP_FPI (77 ribu pengikut, dipercaya sebagai akun resmi FPI) membagikan 10 seri kicauan ihwal kunjungan Anies ke Petamburan.

Seri kicauan itu dibuka dengan foto yang menunjukkan Anies sedang berbicara di hadapan majelis. Di sampingnya, terlihat tokoh sentral FPI, Rizieq Shihab sedang duduk di bangku. Rizieq tampak tersenyum, sembari melempar pandangan ke arah Anies.

Menurut @DPP_FPI, dalam acara itu, Anies menepis sejumlah tudingan yang kerap diarahkan kepadanya. Anies mengklarifikasi bahwa dirinya bukan penganut Syiah, Wahabi, atau pun liberal.

"Dengan tegas ia mengatakan bahwa dirinya adalah seorang Ahlus Sunnah Wal Jamaah," tulis @DPP_FPI. Sekadar catatan, FPI terkenal getol menyudutkan kelompok minoritas (macam Syiah) dan pandangan-pandangan Islam liberal atau moderat.

Lebih lanjut, dalam sesi tanya jawab sempat terlontar pertanyaan dari seorang peserta majelis ihwal reklamasi teluk Jakarta. Menjawab pertanyaan itu, Anies berjanji akan menghentikan proyek reklamasi bila terpilih sebagai gubernur.

Adapun FPI mengaku belum menentukan sikap dalam Pilkada DKI Jakarta 2017. Mereka juga menolak bila kehadiran Anies disebut sebagai pertanda dukungan FPI.

Di media sosial, momen kunjungan Anies ke Petamburan langsung jadi "bola liar".

Para penentang Anies sempat menggemakan tagar #FPIDukungAnies di linimasa Twitter. Tagar itu sempat masuk Topik Tren Twitter Indonesia, Selasa (2/1/2017). Sejumlah komentar miring dan gambar-gambar sindiran turut tersebar.

Salah satu kicauan berpengaruh datang dari @PartaiSocmed (115 ribu pengikut), yang selama ini dikenal sebagai pengembus sentimen positif untuk Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), calon nomor urut dua dalam Pilkada DKI Jakarta.

"Anies Baswedan sempat digadang-gadang akan jadi penerus pemikiran moderat Nurcholis Madjid. Sekarang beliau bersekutu dengan FPI," tulis @PartaiSocmed. Kicauan itu merujuk status Anies sebagai mantan rektor Universitas Paramadina, sekaligus penerus mendiang Nurcholis Madjid, cendekiawan Islam nan moderat.

Komentar juga datang dari Evan A. Laksmana (@evanlaksmana, 3.300 pengikut), peneliti politik dan hubungan internasional dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS).

"Anies Baswedan, yang dulu punya reputasi global sebagai penyuara Islam Moderat, berkampanye di kantor pusat FPI. Apakah foto ini akan dikenang (menjadi penanda) sebagai hari kematian moderat?" kata Evan, sembari membagikan foto Anies di Petamburan.

Kicauan Evan itu tak berlebihan, bila menimbang jejak rekam Anies dan FPI.

Sebagai contoh, pada 2010, Anies masuk dalam daftar 20 tokoh yang bisa mengubah dunia. Daftar itu dibuat majalah Jepang kenamaan, Foresight (h/t Jakarta Post), dengan argumen bahwa Anies punya reputasi sebagai cendekiawan muslim moderat.

Reputasi Anies kontras bila disandingkan dengan FPI, yang kondang dengan aksi-aksi kontroversial nan lekat dengan corak garis keras --cenderung intoleran. FPI juga jadi penggerak aksi-aksi yang menuntut penangkapan Ahok berkenaan kasus dugaan penodaan agama.

Akademisi Universitas Indonesia, Ade Armando, juga mengungkapkan kontradiksi serupa. Kata Ade, Anies dulunya dikenal sebagai aktivis pro-pluralisme dan pengecam kekerasan Islam radikal --yang lekat dengan FPI.

"Tapi kini, Anies harus sowan, menghadap Rizieq untuk memperoleh 'restu' sang 'habib' semata-mata karena Anies membutuhkan suara agar bisa bertahan dalam pertarungan," tulis akademisi pendukung Ahok itu, melalui Facebook.

Di sisi lain, para pendukung Anies balik membela jagoan mereka.

Semisal yang disampaikan pelawak tunggal, Pandji Pragiwaksono, lewat sebuah tulisan bertajuk "Pemersatu" di blog-nya. Dalam tulisan itu, Pandji mengatakan kunjungan Anies ke FPI adalah bagian dari upaya menjadi pemersatu.

"Mas Anies Baswedan bertemu dengan semua orang dari semua kalangan. Dengan setiap umat beragama, setiap suku, setiap ras, setiap latar belakang ekonomi," tulis Pandji, yang juga juru bicara pasangan Anies-Sandiaga Uno dalam Pilkada DKI Jakarta 2017.

Demi menguatkan argumennya, Pandji menunjukkan sejumlah foto yang memuat momen pertemuan Anies dengan warga dan tokoh dari berbagai suku, ras, agama, serta strata sosial.

Anies juga menyatakan hal serupa. Seperti ditulis detikcom, Anies berargumen bahwa semua warga Jakarta (termasuk FPI) punya hak untuk berdialog dengan calon pemimpinnya.

Anies pun mengaku selalu berusaha menghadiri undangan dari pihak-pihak lain. "Ada undangan dari masyarakat Katolik saya datang, dari masyarakat Kristen saya datang. Saya datang kepada semuanya, tidak ada sesuatu yang aneh," ujar mantan menteri pendidikan dan kebudayaan itu, Senin (2/1/2017).

Kata Anies, dalam kunjungannya ke FPI tidak membahas soal dukungan. Sebaliknya, lewat dialog, Anies mengklaim hendak mewujudkan Jakarta yang toleran.

Pada akhirnya, seperti juga pertanyaan dan kegelisahan sebagian khalayak media sosial: bisakah mewujudkan Jakarta yang toleran, bila Anies terlihat akrab dengan kelompok intoleran?

x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.