INTERNASIONAL

Kebakaran besar landa hutan Amazon

Foto udara memperlihatkan sisa kebakaran yang melanda kawasan hutan Amazon pada Selasa (20/8/2019). Foto dirilis oleh pemerintah negara bagian Mato  Grosso, Brasil, Kamis (22/8).
Foto udara memperlihatkan sisa kebakaran yang melanda kawasan hutan Amazon pada Selasa (20/8/2019). Foto dirilis oleh pemerintah negara bagian Mato Grosso, Brasil, Kamis (22/8). | Rogerio Florentino /EPA-EFE

Amazon, hutan hujan tropis terbesar dunia, terbakar dalam tingkat yang kolosal sejak pekan lalu. Ini merupakan kebakaran terburuk sejak 2013 saat satelit milik INPE (Institut Nasional untuk Penelitian Luar Angkasa) mulai merekam kesehatan hutan Brasil.

Sepanjang 2019, INPE mendeteksi 73.000 titik kebakaran, hampir dua kali lipat catatan tahun lalu.

Sejumlah video yang tersebar di media sosial pada Rabu (21/08/2019) memperlihatkan asap berjelaga membumbung tinggi dari hamparan hutan yang menghijau. Kolom-kolom gelap itu terbawa angin, menyebar hingga jauh ke tenggara, sampai ke negara-negara tetangga seperti Peru dan Bolivia.

Langit kota Sao Paulo, Brasil, yang terletak sekitar 3.000 kilometer dari tempat kejadian, pekat dengan rona hitam. Matahari tertutup asap dan debu.

Hutan Amazon merupakan salah satu paru-paru-dunia terpenting, luasnya hampir separuh wilayah Amerika Serikat. Diperkirakan, hutan Amazon menghasilkan 20 persen pasokan oksigen di atmosfer bumi.

Amazon juga menjadi tempat hidup bagi tiga juta spesies tumbuhan dan hewan serta timbunan karbon terbesar --yang jika terlepas, akan mengancam pemanasan global.

Kebakaran besar ini, menurut para pecinta lingkungan, dipicu kebijakan Presiden Brasil Jair Bolsonaro yang kelewat getol menggali potensi Amazon untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi. Presiden yang baru dilantik Januari lalu itu mendorong para petani membuka lahan baru guna membangun peternakan sapi.

Seperti dikutip BBC, Ricardo Mello sang kepala Program Amazon dari World Wide Fund for Nature (WWF), menyatakan kebakaran itu "merupakan konsekuensi dari deforestasi yang terus meningkat."

Kebakaran hutan memang lazim terjadi di musim kemarau. Di Brasil, musim panas merupakan saat ketika para petani punya kesempatan membersihkan lahan dengan ongkos yang murah

Sebelum pemerintahan Bolsonaro, Brasil dinilai berhasil mengurangi deforestasi dengan menerapkan sistem denda dan penegakan hukum. Namun presiden baru justru mengkritik sistem denda ini dan malah menyunat bujet pengawasan hutan.

Beberapa pekan lalu, INPE mengumumkan data-data satelit yang menunjukkan deforestasi di Amazon yang kian meluas. Lembaga ini mengingatkan bahwa tingkat pembalakan liar di Amazon sudah berada pada level "berbahaya".

Namun Bolsonaro menepis data-data tersebut, dan menyatakan bahwa citra satelit itu bohong belaka. Bolsonaro mengatakan peringatan soal deforestasi itu merugikan Brasil dalam negosiasi dagang dengan negara-negara lain.

Bolsonaro balik menuduh para pegiat lingkungan sebagai aktor di balik kebakaran hutan Amazon. Mereka sengaja membakar hutan sebagai balasan atas keputusan pemerintah yang memangkas bujet LSM.

"Itu sebabnya mereka marah dan mencoba menggerakkan kritik internasional kepada saya, kepada pemerintah Brasil. Ini perang yang kita hadapi," kata Bolsonaro dalam jumpa pers, Rabu (21/8).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR