INDUSTRI PERTANIAN

Kecap dibutuhkan, tapi kedelai masih tergantung impor

Pekerja memasak gula merah dan kedelai hitam untuk membuat kecap di industri kecap tradisional di Pekandangan, Indramayu, Jawa Barat, Rabu (9/1/2019).
Pekerja memasak gula merah dan kedelai hitam untuk membuat kecap di industri kecap tradisional di Pekandangan, Indramayu, Jawa Barat, Rabu (9/1/2019). | Dedhez Anggara /Antara Foto

Tidak berlebihan jika kita menyatakan bahwa penduduk Indonesia membutuhkan kecap. Masyarakat dari berbagai daerah kerap menggunakan kecap sebagai teman makan atau bumbu masak seperti nasi goreng, soto, bubur, bakso, dan sebagainya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Pertanian (Kementan) pada 2017 yang dipelajari Lokadata Beritagar.id menunjukkan; selama 15 tahun terakhir, rata-rata laju pertumbuhan kebutuhan kedelai untuk kecap mencapai 4,5 persen setiap tahun.

Artinya, kebutuhan terhadap kedelai sebagai bahan utama kecap pun tak dapat dielakkan. Masalahnya, pertumbuhan produksi kedelai lokal tak signifikan.

Apalagi, kedelai bukan hanya digunakan untuk kecap, tapi juga bahan makanan lain seperti tahu, tempe, oncom, serta bisa dibuat menjadi susu.

Kecap hanya mengambil secuil dari konsumsi kedelai Indonesia. Sebagian besar hasil kedelai digunakan sebagai bahan baku tempe dan tahu.

Dengan kebutuhan yang tinggi seperti itu, produksi kedelai dalam negeri tak mampu mengimbangi. Alhasil pemerintah harus impor kedelai. Merujuk data BPS, impor terbesar pada 2018 berasal dari Amerika Serikat (AS), mencapai 90 persen.

Hanya sebagian kecil produksi kedelai yang digunakan untuk membuat kecap.
Hanya sebagian kecil produksi kedelai yang digunakan untuk membuat kecap. | Lokadata /Beritagar.id

Masalah diperparah oleh harga kedelai impor yang lebih murah dan kualitasnya juga dinilai di atas kedelai lokal. Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Gakoptindo), Aip Syaifuddin berpendapat dari segi kualitas dan harga kedelai impor lebih ramah kepada industri dibandingkan dengan kedelai lokal.

"Kedelai impor juga lebih murah pada kisaran Rp7.000 per kg dibandingkan dengan kedelai lokal yang menyentuh angka Rp8.500 per kg," ujar Aip kepada Bisnis.com (29/8/2018).

Sejauh ini, pemerintah selalu mencanangkan swasembada kedelai. Namun itu sulit terwujud. Dibandingkan komoditas pangan lain seperti beras dan jagung, peningkatan produksi kedelai justru paling sulit.

Penyebabnya antara lain, Indonesia kekurangan lahan untuk menanam kedelai. Andai ada lahan pun tidak dapat dimanfaatkan dengan baik.

Pada 2013, setiap hektar lahan kedelai di Indonesia hanya mampu memproduksi 1,5 ton kedelai. Padahal luas lahan yang sama di AS bisa memproduksi 3 hingga 3,5 ton.

Selain itu, rendahnya produktivitas kedelai lokal disebabkan tidak adanya ketersediaan subsidi pupuk dan pemberian benih kedelai varietas unggul ke petani.

Menanam kedelai juga ternyata sulit. Lahan yang digunakan untuk tanaman ini memiliki spesifikasi tertentu.

"Lahan yang cocok untuk kedelai biasanya PH-nya netral. Kemudian dia mempunyai kedalaman minimal 20 cm. Biasanya daerah-daerah yang di luar Jawa itu tanahnya masam sehingga PH-nya perlu dinetralkan," ujar Sumarjo Gatot Irianto, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan, kepada Merdeka.com, Jumat (11/1/2019).

Tahun ini, Kementan mencoba menggelontorkan sejumlah bantuan untuk para petani kedelai guna mengatasi masalah kekurangan kedelai. Salah satunya berupa bantuan benih di sejumlah wilayah yang menjadi sentral tanaman kedelai.

Selain itu, Kementan mewacanakan adanya rencana pengenaan wajib tanam bagi importir kedelai. Namun, menurut Gatot, saat ini diskusi soal kewajiban impor baru sampai pembahasan internal dan belum memberikan target realisasi.

"Ini usulan teman pedagang, jangan mereka dikasih izin impor tapi tidak ada tanggung jawab produksi dalam negeri. Kami setuju dan akan kami dorong untuk dibahas di rakortas," ujar Gatot kepada Kontan.co.id (11/1).

Konsumsi kecap untuk berbagai jenis makanan di Indonesia.
Konsumsi kecap untuk berbagai jenis makanan di Indonesia. | Lokadata /Beritagar.id

Peta konsumsi kecap Indonesia

Konsumsi kecap sebetulnya tidak merata ke semua provinsi. Penduduk Kalimantan Selatan (1.471ml/kapita/tahun) jadi konsumen kecap tertinggi, sementara Nusa Tenggara Barat (256ml/kapita/tahun) merupakan konsumen terendah.

Konsumsi kecap lebih banyak terkait faktor makanan yang digemari di provinsi tersebut. Di wilayah yang penduduknya banyak mengonsumsi nasi goreng dan soto, ada kecenderungan konsumsi kecap juga tinggi.

Bagaimana soal produksi?

Sebaran pabrik kecap skala sedang dan besar terbanyak ada di provinsi Jawa Timur sebanyak 34 pabrik, diikuti Jawa Barat sebanyak 24 pabrik. Kedua daerah itu memang punya konsumsi kecap yang tinggi, masing-masing melebihi 1.000 mililiter per kapita.

Meski begitu, konsumsi tinggi tak berarti pabrik kecap bisa menjamur di sebuah daerah. Contohnya provinsi Kalimantan Selatan yang punya konsumsi kecap tertinggi hanya memiliki satu pabrik kecap berskala sedang dan besar.

Artinya, ada peluang untuk berbisnis kecap di provinsi yang salah satu kuliner khasnya adalah Soto Banjar itu.

Sebaran konsumsi kecap dan jumlah pabriknya berdasarkan provinsi-provinsi di Indonesia.
Sebaran konsumsi kecap dan jumlah pabriknya berdasarkan provinsi-provinsi di Indonesia. | Lokadata /Beritagar.id
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR