KECELAKAAN TRANSPORTASI

Kecelakaan bus di Subang tewaskan 27 orang

Warga melihat lokasi tabrakan di Tanjakan Emen, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Sabtu (10/2/2018). Sebanyak 26 orang meninggal dunia dan 17 orang luka-luka akibat kecelakaan bus pariwisata di tanjakan itu.
Warga melihat lokasi tabrakan di Tanjakan Emen, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Sabtu (10/2/2018). Sebanyak 26 orang meninggal dunia dan 17 orang luka-luka akibat kecelakaan bus pariwisata di tanjakan itu. | Yusup Suparman /Antara Foto

Sebuah perjalanan wisata warga Pisangan, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten, berakhir dengan tragedi dan meninggalkan duka yang mendalam.

Pada Sabtu (10/2/2018) subuh, 151 orang warga Pisangan, yang sebagian besar adalah pengurus dan anggota Koperasi Simpan Pinjam Permata, berangkat ke Ciater, Subang, Jawa Barat, untuk mengikuti Rapat Anggota Tahunan (RAT) menumpangi tiga buah bus. Usai rapat, mereka berwisata ke Tangkuban Perahu, Lembang.

Sore hari rombongan tersebut beranjak pulang dan tak dinyana menjadi perjalanan terakhir bagi 26 anggota rombongan tersebut.

Sekitar pukul 17:00 WIB, satu dari tiga bus mengalami kecelakaan di Subang, pada jalur turunan berliku sepanjang sekitar 3 km yang dikenal dengan nama Tanjakan Emen. Bus bernomor polisi F 7959 AA itu, menurut para saksi mata, kehilangan kendali--kemungkinan karena rem blong--menabrak sepeda motor dan tiang rambu lalu lintas, lalu terguling.

Lurah Pisangan, Idrus Arsenih Kurnain, yang ikut dalam kegiatan tersebut dan berada di bus lain, kepada detikcom menceritakan ada 51 orang dalam bus berkapasitas 59 penumpang itu (Kapolres Subang AKBP M Joni kepada Kompas.com mengatakan ada 50 orang penumpang).

Ketika melihat bus tersebut terguling, sambung Idrus, semua orang di bus yang ditumpanginya menjerit, menangis, bahkan ada yang langsung pingsan.

Dua bus lain kemudian berhenti di dekat lokasi kecelakan. Mereka kemudian bersama-sama menolong para korban.

Kemudian ditemukan 26 anggota rombongan koperasi yang berada di bus tersebut telah tewas, juga seorang warga Kabupaten Karawang bernama Agus Waluyo (42) yang diduga adalah pengemudi sepeda motor yang ditabrak bus sebelum terguling.

"Saat melintas turunan panjang dan berkelok, bus tidak terkendali karena diduga rem blong dan menabrak sepeda motor dengan nomor polisi T 4382 MM. Bus kemudian menabrak tebing sebelah kiri jalan dan terguling di bahu jalan," tutur AKBP M Joni.

Semua korban, baik yang tewas maupun terluka, dibawa ke RSUD Subang. Kasubag Humas RSUD Subang, Mamat Budirakhmat, menyatakan 27 orang dipastikan meninggal dunia sementara 18 orang lainnya cedera.

Petugas membawa korban kecelakaan bus pariwisata di Tanjakan Emen, saat tiba di IGD RSUD Ciereng, Subang, Jawa Barat, Sabtu (10/2/2018).
Petugas membawa korban kecelakaan bus pariwisata di Tanjakan Emen, saat tiba di IGD RSUD Ciereng, Subang, Jawa Barat, Sabtu (10/2/2018). | Yusup Suparman /Antara Foto

Staf Kelurahan Pisangan, Kayani, dikutip CNN Indonesia, membenarkan 26 anggota Koperasi Permata meregang nyawa dalam kecelakaan tersebut. Ia menambahkan, selain anggota koperasi, dalam perjalanan tersebut juga ikut kader Posyandu, PKK, dan pegawai kelurahan.

Pada Minggu (11/2), jenazah para korban, juga mereka yang terluka, dibawa menggunakan 46 ambulans dari RSUD Subang ke RSUD Tangerang.

Pemerintah Tangerang telah menyiapkan dua liang lahat untuk menjadi kuburan massal di Taman Pemakaman Umum Legoso, Pisangan. Walau demikian ada warga yang telah menyiapkan kuburan terpisah untuk keluarga mereka yang menjadi korban.

Sebelum dikuburkan, jenazah dibawa terlebih dulu ke rumah duka masing-masing. Prosesi penguburan akan dimulai pada Minggu sore.

Tanjakan berbahaya dan dianggap angker

Tanjakan Emen telah lama dikenal sebagai titik berbahaya di jalur jalan tersebut. Sebelum tragedi warga Pisangan ini, menurut catatan Tempo.co, sejak tahun 2004 sudah terjadi lima kecelakaan besar yang menewaskan total 26 orang.

Gubernur Jawa Barat Ahmad "Aher" Heryawan pernah mengatakan akan mengevaluasi struktur jalan di Tanjakan Emen ini. "Saya khawatir mitos (tanjakan) Emen jadi bener, setiap tahun ada saja masalah di situ," kata sang gubernur pada 18 Juni 2014.

Mitos yang dimaksud Aher adalah legenda urban terkait arwah gentayangan yang kerap "menggangu" mereka yang melintasi kawasan itu.

Untuk menghindari "gangguan", dituturkan Sindonews.com, pengemudi biasanya membunyikan klakson dan melempar uang logam (koin) sebelum dan saat melewati tanjakan Emen. Tindakan tersebut dianggap menghormati arwah penunggu tanjakan Emen.

Mengutip Liputan 6, ada tiga versi asal-usul penamaan jembatan tersebut. Pertama, Emen adalah nama seorang kernet bus yang tewas ditabrak saat mencoba mengganjal ban busnya yang mogok. Peristiwa itu dipercaya terjadi pada tahun 1969.

Kedua, Emen adalah nama korban tabrak lari yang mayatnya disembunyikan di pepohonan oleh sang penabrak.

Terakhir, Emen adalah nama seorang sopir oplet trayek Subang-Bandung yang mengalami kecelakaan, lalu tewas. Kisah ini dibantah oleh anak dari sang sopir, yang menyatakan Emen tewas di RS Rancabadak (sekarang RS Hasan Sadikin), bukan di tempat kejadian.

Tanpa ada mitos itu pun, tanjakan itu memang berbahaya, terutama bila sang sopir lengah atau kendaraan yang dikemudikan ternyata bermasalah.

Menurut warga dan kepolisian setempat, hampir setiap minggu terjadi kecelakaan di jalur tengkorak itu, baik ringan mau pun berat. Penyebabnya, selain kontur jalan yang sulit--naik turun dengan tikungan tajam--kawasan ini juga kerap diselimuti kabut tebal.

Selain itu, walau jalan beraspal itu relatif mulus, fasilitas penerangan dan rambu-rambu di tanjakan itu masih sangat minim.

Saat ini, dikabarkan TribunNews, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah menurunkan enam petugas untuk menyelidiki penyebab kecelakaan bus tersebut, termasuk Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono.

Sementara itu, Dirlantas Polda Jabar, Kombes Pol Prahoro Tri Wahyono, menyatakan pihaknya akan segera meminta keterangan kepada pengemudi bus yang selamat.

BACA JUGA