E-COMMERCE

Kecurangan promo yang berujung pemecatan karyawan di Tokopedia

Kantor Tokopedia di Sentra Bisnis Kuningan, Jakarta, tampak pada 5 Juni 2018.
Kantor Tokopedia di Sentra Bisnis Kuningan, Jakarta, tampak pada 5 Juni 2018. | Creativa Images /Shutterstock

Aksi oknum karyawan yang diduga melakukan kecurangan dalam program promosi berujung pada pemutusan hubungan kerja oleh Tokopedia. Perusahaan jual beli (marketplace) tersebut diketahui telah memecat sejumlah karyawan yang melanggar transaksi 49 produk dari kampanye promosi yang dilakukan tanggal 24 Agustus 2018.

Dalam blog resmi Tokopedia, manajemen menyebut telah menemukan fakta tindak kecurangan setelah melakukan audit internal.

"Sejak awal mendirikan Tokopedia, kami sadar bahwa membangun bisnis adalah tentang membangun kepercayaan," tulis Tokopedia dalam blog resmi perusahaan, dikutip Selasa (28/8/2018).

Head of Corporate Communication Tokopedia, Priscilla Anais, mengatakan, untuk menjaga kepercayaan konsumen, perusahaan tidak akan memberikan toleransi sama sekali untuk setiap pelanggaran yang berhubungan dengan integritas dan kecurangan.

"Kami sangat menyesal ketika mendapati ada beberapa karyawan kami yang telah gagal menjalankan nilai-nilai perusahaan," ungkap Priscilla dalam keterangan resmi, Selasa (28/8).

Promo yang bermasalah

Pemecatan sejumlah karyawan oleh Tokopedia tersebut bermula pada saat perusahaan menggelar promosi potongan harga dengan waktu singkat atau yang biasa disebut flash sale. Promo tersebut digelar oleh Tokopedia dalam rangka menyambut Ulang Tahun Republik Indonesia yang jatuh pada 17 Agustus.

Dalam promo “Flash Sale Tokopedia Spesial 9”, Tokopedia memberikan potongan harga barang sampai 78 persen yang digelar dari 15 hingga 17 Agustus.

Harga yang dipasang mulai dari Rp9.999 hingga Rp999 ribu. Para konsumen harus berebut barang diskon jam 9 pagi dan jam 9 malam. Mereka hanya diberi waktu 99 menit untuk memilih barang sekaligus membayarnya. Setiap satu nomor ponsel sekaligus satu identitas pribadi, hanya bisa melakukan transaksi untuk satu unit barang.

Namun, program flash sale yang digelar oleh Tokopedia tersebut tidak berjalan sempurna. Banyak keluhan datang dari para calon pembeli yang gagal melakukan transaksi di tahap akhir.

Bukannya mendapat barang-barang murah, konsumen malah kesulitan mendapatkan stok barang murah secara adil selama flash sale tersebut. Pasalnya, seluruh unit yang ikut serta dalam promo flash sale itu sudah laku terjual hanya dalam hitungan detik.

Kondisi tersebut tentu memunculkan dugaan bahwa barang-barang flash sale itu sepertinya tidak benar-benar dijual oleh vendor dan diterapkan hanya untuk mendongkrak pemasaran mereka.

Seorang karyawan swasta, Yuni Astutik (30), menyampaikan pengalamannya saat mengikuti program promo tersebut. Wanita yang kerap disapa Nia tersebut, mengatakan ia berkali-kali mencoba menyelesaikan transaksi hingga tahap pembayaran.

Namun apa daya, barang yang ia incar tiba-tiba tertulis habis, padahal ia hanya tinggal melakukan konfirmasi pembayaran.

"Saya salah satu customer yang kecewa sih karena ikut promo itu, pertanyaannya, sebetulnya barangnya itu ada atau enggak sih?" kata Nia kepada Beritagar.id.

Pengalaman serupa turut diceritakan oleh Vika Washisa (26), ia dan rekannya juga berkali-kali tidak pernah berhasil menuntaskan pembelian selama program flash sale dari Tokopedia. Padahal ia mengaku amat tertarik dengan promo yang ditawarkan dari program tersebut.

Barang yang diobral pun dibanderol dengan harga miring. Pada saat program flash sale diadakan, ia berniat membeli alat masak yang kebetulan pada saat itu memiliki potongan harga hingga Rp25.000.

Namun ia harus gigit jari, karena tiba-tiba pesanannya tertulis 'habis' dan tidak bisa dilanjutkan ke tahap pembayaran.

"Ada yang out of stock, ada yang pas buka barangnya bahkan enggak bisa sama sekali kaya eror gitu," ujar Vika kepada Beritagar.id, Selasa (28/8).

Apa itu flash sale?

Menurut Ketua Umum, Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA), Ignatius Untung, flash sale adalah diskon atau promosi yang ditawarkan oleh perusahaan e-commerce dalam waktu singkat.

Dalam program ini, biasanya perusahaan menyediakan barang yang kuantitasnya terbatas. Batas waktu dan terbatasnya ketersediaan menarik konsumen untuk membeli saat itu juga.

"Toko e-commerce manapun dapat menggunakan penjualan flash sebagai taktik yang berharga, beberapa model bisnis perusahaan memanfaatkan flash sale," ujar Untung kepada Beritagar.id, Selasa (28/8).

Lazada, misalnya, seringkali melakukan flash sale smartphone dengan harga yang murah untuk jangka waktu terbatas.

Akhir desember 2017 lalu Lazada menjalankan Flash Sale Xiaomi Redmi 5A dan habis terjual dalam 3 menit.

Mencoreng bisnis e-commerce

Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi, mengatakan kejadian merupakan hal yang ironis dan bisa mencoreng citra bisnis e-commerce. Menurutnya, sebagai perusahaan multi nasional yang besar, Tokopedia dinilai gagal merekrut karyawan dengan integritas yang baik.

"Kejadian ini akan menggerus kepercayaan konsumen pada Tokopedia. Sehingga pangsa pasarnya bisa turun. Tidak cukup bagi Tokopedia memberikan sanksi administratif pada karyawannya," kata Tulus kepada Beritagar.id, Selasa (28/8).

Dalam kasus tersebut, Tokopedia bisa terjerat melakukan pelanggaran hukum, yakni Undang-Undang Perlindungan Konsumen pasal 11. Adapun sanksinya bisa berupa kurungan penjara selama dua tahun dan denda maksimal Rp500 juta.

Ia pun menyarankan, manajemen Tokopedia harus memberikan kompensasi pada konsumen dengan menciptakan momen serupa, dengan pengawasan yang ketat, agar tidak ada kecurangan lagi.

Kendati demikian, Untung, selaku ketua umum asosiasi, menilai dalam kasus kecurangan di Tokopedia, aksi tersebut hanya dilakukan oleh sejumlah oknum. Menurutnya, secara keseluruhan industri e-commerce terlalu besar dampaknya untuk bisa dirusak oleh pelaku segelintir oknum.

"Masyarakat sudah cukup pintar untuk menetahui mana ulah oknum dan mana yang memang sengaja dilakukan oleh pengusaha. Jadi harusnya ulah oknum tidak akan merusak industri," ujarnya.

Ia mengatakan, kasus kecurangan atau fraud beberapa kali sempat mencuat di beberapa marketplace yang akhirnya ketahuan, tapi akhirnya selalu bisa diselesaikan dengan baik.

"Pada akhirnya harus dipahami dan diingat bahwa fraud tidak hanya terjadi di dunia e-commerce, dunia offline trading pun terjadi. Jadi mudah-mudahan bisa disikapi secara proporsional oleh semua pihak," ucapnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR