Kekayaan orang di dunia mulai pulih pasca-krisis 2008

Sejumlah calon pelamar kerja melamar pekerjaan pada Job Fair di Gedung Sukapura, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Jumat (19/10/2018).
Sejumlah calon pelamar kerja melamar pekerjaan pada Job Fair di Gedung Sukapura, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Jumat (19/10/2018). | Adeng Bustomi /AntaraFoto

Uang mungkin tidak bisa membeli kebahagiaan. Tapi, kekayaan dan penghasilan selalu menjadi tolak ukur kualitas hidup manusia di seluruh dunia.

Tengok saja World Happiness Report 2018 yang dirilis Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Lima peringkat teratasnya ditempati negara dengan rata-rata penghasilan tinggi, yakni Finlandia, Norwegia, Denmark, Islandia, dan Swiss.

Begitu juga dengan angka harapan hidup (AHH) saat lahir di dunia versi Bank Dunia. Dari laporan itu diketahui pria yang berpenghasilan tinggi memiliki rerata hidup lebih lama 15 tahun dibandingkan kelompok sama dengan penghasilan lebih rendah.

Tak ayal, banyak negara di dunia yang mengejar perbaikan indeks modal manusia (human capital) untuk memastikan kesehatan dan pendidikan suatu penduduk berbanding lurus dengan potensi mereka sebagai angkatan kerja pada masa mendatang.

Mereka meyakini, semakin baik sumber daya manusianya, semakin baik peluang kerja serta penghasilannya.

Laporan tahunan Credit Suisse, Global Wealth Report 2018, menunjukkan total kekayaan orang di dunia naik $14 triliun AS (sekitar Rp212,6 kuadriliun) dari tahun lalu. Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok menjadi dua negara penyumbang terbesar dari seluruh kekayaan itu.

Total kekayaan serta rata-rata kekayaan orang dewasa di AS terus meningkat tiap tahunnya sejak krisis finansial tahun 2008, bahkan ketika rerata kekayaan dunia bergerak terbatas pada 2014 dan 2015.

Secara keseluruhan, kekayaan orang AS mencapai $98,2 triliun AS atau sekitar Rp1,488 kuadriliun, dengan nilai tengah (median) kekayaan per orang dewasa di sana mencapai $61.667 (sekitar Rp936,7 juta). Jumlah itu telah melonjak 36 persen sejak krisis keuangan 2008.

Laporan yang sama menyebut sebanyak 19.732 orang AS masuk dalam kelompok 1 persen, atau orang-orang dengan kekayaan di luar rata-rata pada umumnya. Selain itu, sekitar 41 persen orang kaya di dunia juga berasal dari AS.

Sementara total kekayaan orang di Tiongkok berhasil melonjak 14 kali setelah krisis 2008, dari $3,7 triliun AS menjadi $51,9 triliun AS atau setara Rp774,9 kuadriliun. Lonjakan ini adalah yang tertinggi dibandingkan seluruh negara di dunia.

Nilai tengah kekayaan per orang dewasa di Tiongkok sebesar $16,333 atau sekitar Rp248,16 juta. Tiongkok juga menyumbangkan 4.201 orang dalam kelompok 1 persen.

Jumlah jutawan di Tiongkok mencapai 3,5 juta orang dengan banyak penduduk lainnya yang memiliki kekayaan rata-rata di atas $50 juta AS (sekitar Rp759,6 miliar). Angka-angka ini bahkan lebih tinggi dibanding AS.

Bagaimana dengan Indonesia?

Laporan Credit Suisse menyebutkan rata-rata kekayaan orang dewasa Indonesia telah naik empat kali lipat sejak tahun 2000 hingga pertengahan 2018.

Rata-rata kekayaan penduduk dewasa Indonesia saat ini sebesar $8.920 AS (sekitar Rp135,8 juta), naik dari posisi $2.370 AS pada tahun 2000. Catatannya, peningkatan itu tercatat pesat sebelum krisis finansial, setelahnya pertumbuhan pendapatan cenderung melambat.

Rata-rata kekayaan orang Indonesia berhasil lebih tinggi 27 persen dibandingkan India, meski 11 persen di bawah Thailand dan hanya sepertiganya Malaysia.

Kenaikan nilai kekayaan orang Indonesia (dalam Rupiah) sebagian besarnya terjadi akibat penyesuaian inflasi. Reratanya, kekayaan Indonesia naik sekitar 6 persen per tahun sejak 2010.

Dalam kesimpulannya, sebanyak 85,4 persen dari total 170 juta penduduk dewasa Indonesia memiliki kekayaan kurang dari $10.000 AS (sekitar Rp150 juta) dan sebanyak 13,7 persennya memiliki harta antara $10.000 hingga $100.000 AS, lebih rendah 26,6 persen dari persentase global.

Hanya sekitar 1,3 juta orang Indoensia yang memiliki harta berkisar $100.000-$1 miliar AS. Sementara, hanya 133 ribu orang (sekitar 0,1 persen) memiliki kekayaan di atas $1 miliar AS.

Kekayaan orang Indonesia masih didominasi oleh aset nonfinansial. Utang pribadi diestimasi hanya berkisar $736 AS (sekitar Rp11,17 juta), jauh di bawah standar internasional.

Selain laporan kekayaan dunia, Credit Suisse juga menyimpulkan satu hal: meningkatnya kekayaan dunia tak sepenuhnya membuat jurang ketimpangan antara si kaya dan miskin semakin melebar.

“Ketimpangan kekayaan memang tak turun secara signifikan, namun lebih stabil menyasar sejumlah indikator. Dengan kata lain, prospek masa depan untuk pertumbuhan kekayaan inklusif terlihat lebih menjanjikan dibanding beberapa tahun terakhir,” tutup laporan tersebut.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR